Bisnis

Branding, Sosial Media dan Tantangan Reputasi

Branding, Sosial Media dan Tantangan Reputasi

Mengingat jumlah pengguna media sosial dan tren bermedia sosial melonjak fantastis. Majalah Harvard Business Review membahas tentang branding di media sosial.

Cerita sampul berjudul “Social Media and The New Rules of Branding” mengupas bagaimana peranan media sosial dalam proses mendongkrak kesadaran orang akan merek.

Sebenarnya, ini sudah banyak dibahas. David C. Edelman—kolumnis yang menulis cerita sampul HBR—menandaskan internet telah mengubah cara komunikasi dan cara pandang konsumen terhadap merek / Brand. Ini telah mengubah ekonomi marketing dan membuat strategi dan struktur lawas menjadi kurang relevan. Bagi marketer, cara-cara marketing lama tidaklah punya nilai yang berkelanjutan.

Yang menarik dari tulisan David ini tak lain anggapan marketer pada konsumen. Paradigma lawas marketer mengatakan awalnya konsumen disuguhi berbagai produk dari berbagai merek. Usai mereka memilih sebuah produk dalam sebuah merek, relasi antara merek dan konsumen sebatas pada fungsi produk dan servisnya. Tapi, kata David, sekarang itu sudah tidak relevan lagi.

Consumer Decision Journey (CDJ)

David mengulirkan istilah “Consumer Decision Journey” (CDJ). Usai membeli, konsumen masih terlibat dalam komunikasi interaktif dengan merek melalui internet khususnya media sosial. Konsumen bisa mengadakan evaluasi pada merek dan memperbincangkan “word of mouth” dengan konsumen lain dan ini memengaruhi pembelian pada produk tersebut.

Word Of Mouth
Word Of Mouth Marketing

CDJ terdiri dari empat tahapan:

consider

Konsumen mulai melakukan pertimbangan pada sebuah merek yang akan mereka beli dari berbagai informasi yang ia peroleh.  

Evaluate

Mereka akan mengecaluasi merek-merek itu dengan mencari tahu informasi dan rekomendasi dari banyak pihak.

Buy

Tahap ini tetap dipengaruhi oleh tempat, ketersediaan barang, interaksi penjualan, dan sebagainya.

Enjoy, Advocate, Bond

Pada tahap ini, konsumen akan terus berinteraksi intensif secara daring melalui internet. Mereka terlibat dalam komunikasi merek di internet, melakukan percakapan tentang produk dengan konsumen lain sehingga bisa memengaruhi konsumen lain untuk membeli. Sebaliknya, bila mereka kecewa, mereka juga akan memberi rekomendasi buruk ke calon konsumen lain.

Baca Juga : Pengaruh Social Media Marketing Bagi Perusahaan

Seperti ditulis oleh kolega David dari McKinsey, lebih dari 60 persen konsumen produk perawatan kulit melakukan riset daring (online) pada produk itu usai membeli. Menurut saya, apa yang diulas HBR ini sudah jamak dibahas dalam perbincangan tentang New Wave Marketing. Di sini, merek berkomunikasi secara horisontal dengan pelanggan.

Promosi dan iklan tidak lagi menjadi senjata ampuh yang mengarahkan orang pada pembelian. Sekarang, konsumen melakukan konfirmasi dengan konsumen lain termasuk melancarkan kritik dan kekesalah bila produk itu mengecewakan. Katakanlah konsumen sekarang lebih powerful dibanding konsumen di era pra media sosial.

HBR juga mengangkat tantangan merek di tengah era serba transparan ini. Termasuk bagaimana mereka mengelola kompetisi di tengah perbincangan antar konsumen di media digital, seperti Social Media Twitter, Facebook, blog, YouTube, dan sebagainya. Dari media itu, reputasi merek bisa dengan cepat terangkat tapi bisa juga terjatuh. Maklum, seperti kata HBR “sekarang ini setiap orang dipersenjatai dengan ratusan kamera digital dan terkoneksi dengan internet” yang sewaktu-waktu bisa mempublikasikan perihal produk dan sebagainya.

Baca Juga : Cara Membangun Personal Branding

Mau tidak mau, seperti yang pernah dibahas di loperonline.com, Marketer harus bisa menjaga reputasi merek dengan membangun karakter merek / Branding, salah satunya membangun kepercayaan konsumen. Untuk sampai ke sana, marketer juga perlu me-new wave-kan diri dengan terjun di komunitas-komunitas media sosial untuk mendengarkan sekaligus memahami apa yang menjadi harapan dan kecemasan mereka.

To Top