Bisnis

Diversifikasi Portofolio untuk Kelola Risiko Investasi

Diversifikasi Portofolio untuk Kelola Risiko Investasi

Fluktuasi harga saham yang sangat besar belakangan ini membuat investor berpikir untuk melakukan pengurangan risiko. Salah satu metode mengurangi risiko tersebut dilakukan dengan melakukan diversifikasi portofolio yang dimiliki. Padahal investor seringkali hanya memiliki saham tidak banyak. Seringkali hanya dua sampai tiga saham.

Diversifikasi Portofolio adalah strategi investasi yang menurunkan risiko portofolio Anda dan membantu Anda mendapatkan pengembalian yang lebih stabil. Anda melakukan diversifikasi dengan menginvestasikan uang Anda di berbagai kelas aset. Kategori investasi dengan karakteristik dan perilaku pasar yang serupa.

Apakah diversifikasi portofolio diperlukan? Pertanyaan yang timbul, berapa jumlah saham yang membuat risiko semakin kecil? Bagaimana membuat diversifikasi portofolio dengan industri yang sudah diversifikasi? Kenapa investor tidak mau membuat diversifikasi risiko?

Ketika Markowitz (1952) mengemukakan teori portofolionya, fokus pada risiko, di mana investor lebih menyukai tingkat pengembalian tertinggi dan risiko yang paling rendah. Adapun diversifikasi portofolio yang dilakukan dalam rangka mengurangi risiko.

Teori Markowitz ini juga menyatakan bahwa saham-saham yang berkorelasi negatif akan memberikan risiko yang lebih dibandingkan dengan saham-saham berkorelasi positif atau tidak memiliki korelasi. Namun, Markowitz tidak pernah menyatakan besarnya (jumlah) saham agar terjadi diversifikasi atau risiko yang lebih rendah.

Teori Markowitz hanya menyatakan bahwa buat portofolio yang menimbulkan terdiversifikasi sehingga risiko semakin kecil sehingga diversifikasi portofolio sangat dibutuhkan. Meski demikian, setiap pengelola doku harus melakukan diversifikasi risiko agar terjadi pengelolaan yang efisien dan sangat disukai investor.

Selanjutnya, Evan dan Archer (1968) melakukan penelitian di bursa saham Amerika Serikat dalam rangka menyatakan besaran atau jumlah saham dalam portofolio agar terjadi risiko yang minimal. Penelitiannya menggunakan metode naif dalam rangka mendapatkan kesimpulan.

Bila investor membuat portofolio sebanyak dua saham, risiko yang diterima atau dihadapi akan lebih kecil daripada risiko satu saham. Jumlah saham dinaikkan sehingga risiko semakin kecil dan penurunan risiko paling besar jika saham sudah mencapai sembilan saham. Jika saham ditambahkan terus, terjadi penurunan risiko, tetapi penurunan risiko tidak sebesar ketika saham dipegang satu sampai sembilan saham.

Penelitian yang sama dilakukan di Australia juga menghasilkan kesimpulan yang sama.

Berapa Diversifikasi Portofolio industri sebaiknya?

Kemudian, pertanyaannya, apakah bisa melakukan portofolio pada sebuah industri saja? Bila diperhatikan, penelitian Evan dan Archer (1968) membuat portofolio satu industri tidak menjadi persoalan secara perhitungan akan mengurangi risiko. Namun, dampaknya terhadap tingkat pengembalian akan menghadapi problem yang sama, akan drop tingkat pengembalian ketika industri tersebut terkena dampak akibat perekonomian.

Bila dalam sektor properti dilakukan portofolio, hal itu akan berbeda dengan sektor perbankan. Sektor properti masih bisa dibuat portofolio berdasarkan jenis atau tipe dan lokasi properti. Bila investor memiliki portofolio pergudangan pada daerah lapangan terbang dan dekat pelabuhan dan resor di daerah pegunungan dan pantai serta mall di perkotaan dan juga hotel dan rumah tempat tinggal di sekitar daerah tempat tinggal, akan lebih bila seperti semua isinya perbankan.

Sementara industri perbankan hanya bisa dibuat berdasarkan kapitalisasi pasarnya yang dikenal dengan size bank. Pengaruh dari kebijakan ekonomi sekaligus kena kepada sektor perbankan tersebut. Karena itu, portofolio dengan industri perlu memperhatikan korelasi atas sektor dalam pertumbuhan ekonomi.

Jika kebijakan pemerintah mengambil kebijakan kenaikan tingkat bunga, sektor properti dan sektor perbankan merupakan sektor yang berkorelasi negatif. Bahkan, beberapa pihak menyatakan penggabungan kedua sektor sangat bagus walaupun masih ada sektor lain yang dianggap bisa berkorelasi negatif.

Investor pada umumnya selalu mempunyai portofolio yang cukup kecil, hanya dua atau tiga bahkan secara rata-rata hanya empat saham. Adanya investor hanya menggunakan jumlah sebesar yang disebutkan disebabkan investor tidak mau direpotkan dengan banyak saham yang dimilikinya.

Banyak saham yang dimiliki akan membuat investor akan menggunakan waktu yang lebih untuk mendapatkan saham yang lebih berarti. Pada sisi lain, investor juga lebih suka pasif daripada aktif dalam rangka mengelola portofolio. Investor tidak mau bersusah-payah dalam rangka menganalisis saham untuk mendapatkan yang terbaik. Umumnya, investor yang menganalisis saham yang seringkali mendapatkan hasil yang terbaik dibandingkan dengan investor yang tidak melakukan analisis.

Alokasi aset secara efisien

Alokasi Aset Investasi
Diversifikasi Portofolio

Sebagai investor, kamu yang melakukan portofolio saham perlu juga melakukan alokasi aset tersebut secara efisien untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang optimal. Alokasi aset yang dilakukan seharusnya sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan dan risiko yang ditolerir investor.

Bila investor bisa menolerir risiko yang lebih besar untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih besar—hight risk hight return, alokasinya akan berbeda dengan alokasi aset yang tingkat pengembalian risiko yang lebih rendah dengan risiko yang lebih rendah.

Bila investor menolerir risiko yang tinggi, umumnya jumlah saham yang menjadi kumpulan portofolio investor akan semakin kecil. Atau, semakin kecil risiko dan tingkat pengembalian yang diinginkan, semakin besar jumlah saham yang akan dikelola investor.

Jika investor tidak memiliki waktu dan kurang berminat dalam menganalisis saham, investor bisa melakukan investasi pada satu kelompok portofolio yang sudah terdiversifikasi seperti portofolio indeks. Investor juga bisa menemukan reksadana saham yang dikelola manajer investasi yang sudah terdiversifikasi. Investor juga tidak direpotkan oleh administrasi atas analisis saham yang dilakukan.

Bila tujuan akhir ingin mendapatkan tingkat pengembalian yang sedikit tinggi dan terjadi diversifikasi portofolio, reksadana sangat tepat sebagai investasi dan banyak manajer investasi Indonesia yang telah memberikan tingkat pengembalian yang tinggi. Selamat menekan investasi risiko.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top