Bisnis

Inflasi Jepang Tembus 3%, Meledak Pecah Rekor Tertinggi Sejak 1991

Inflasi

Inflasi di Jepang mencapai level tertinggi dalam delapan tahun, yakni 3,0 persen pada September 2022. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Bank Sentral Jepang yang bertekad mempertahankan kebijakan ultra-mudah karena kemerosotan mata uang yen ke posisi terendah.

Data inflasi jepang ini membuat Bank Sentral Jepang menghadapi dilema ketika mencoba menopang perekonomian Jepang yang melemah dengan mempertahankan suku bunga, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan mata uang yen.

Data pada Jumat, 21 Oktober 2022, memperlihatkan kenaikan indeks harga konsumen inti (CPI) nasional, sesuai dengan perkiraan pasar median mengalami kenaikan 2,8 persen pada Agustus 2022. Hal itu tetap di atas target Bank Sentral Jepang, yang memprediksi 2,0 persen untuk bulan keenam, dan merupakan laju kenaikan tercepat sejak September 2014.

CPI tidak termasuk makanan segar yang mudah menguap, tetapi termasuk biaya bahan bakar.

Meluasnya tekanan (kenaikan) harga-harga di Jepang dan anjloknya mata uang yen terhadap USD kemungkinan akan membuat spekulasi pasar tetap hidup dari perubahan sikap Bank Sentral Jepang selama beberapa bulan mendatang.

“Kenaikan harga saat ini sebagian besar didorong oleh kenaikan biaya impor bukan karena permintaan yang besar. Gubernur (Bank Sentral Jepang) Kuroda dapat mempertahankan kebijakan untuk sisa masa jabatannya hingga April 2023, meskipun kuncinya adalah apakah pemerintah akan mentolerir itu,” kata Takahashi Minami, Kepala Ekonom dari Lembaga Penelitian Norinchukin.

Sejumlah analis menyebut data tersebut meningkatkan kemungkinan Bank Sentral Jepang akan merevisi perkiraan inflasi dalam proyeksi kuartal terbaru yang akan dirilis dalam rapat kebijakan minggu depan.

Penurunan mata uang yen sangat menyakitkan bagi Jepang karena ketergantungannya yang besar pada impor bahan bakar dan sebagian besar bahan mentah. Kondisi ini memaksa perusahaan-perusahaan untuk menaikkan harga sejumlah barang, di antaranya ayam goreng, coklat hingga roti.

Indeks inti yang menghapus biaya makanan segar dan bahan energi, naik 1,8 persen pada September 2022 dari tahun sebelumnya. Angka itu juga naik dibanding pada Agustus 2022 yang tercatat 1,6 persen yang sekaligus menandai laju tahunan tercepat sejak Maret 2015.

Kenaikan indeks inti, yang diawasi ketat oleh Bank Sentral Jepang sebagai ukuran utama dari kekuatan yang mendasari inflasi, menuju target 2 persen memperlihatkan adanya keraguan pada pandangan Bank Sentral Jepang kalau kenaikan harga baru-baru ini hanya sementara.

Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda telah menekankan perlunya fokus mendukung pertumbuhan ekonomi sampai adanya kenaikan upah (UMR) yang cukup agar bisa mengimbangi kenaikan biaya hidup.

Sementara itu, serikat pekerja di Jepang berjanji akan menuntut kenaikan upah sekitar 5 persen dalam negosiasi upah tahun depan. Analis ragu gaji akan naik sebegitu banyak dengan kekhawatiran resesi global dan permintaan domestik yang lemah sehingga mengaburkan prospek banyak perusahaan.

Data CPI pada September 2022 memperlihatkan harga barang-barang naik 5,6 persen year-on-year. Sedangkan harga jasa hanya naik 0,2 persen, yang memberikan sinyalemen kalau inflasi Jepang sebagian besar masih didorong oleh faktor kenaikan biaya.

“Inflasi yang dirasakan konsumen mungkin akan melambat pada 2023. Jika demikian, perubahan apapun pada kebijakan moneter Bank Sentral Jepang akan menjadi kecil (tidak ada artinya) bahkan di bawah kepemimpinan yang baru pada tahun depan,” kata Yasunari Ueno, Kepala Ekonom pasar dari Mizuho Securities.

Cegah Inflasi Makin Parah, Jepang Buka Sektor Wisata

Pemerintah Jepang berencana untuk mencabut sebagian besar pembatasan terkait Covid-19 pada turis asing, termasuk mengakhiri persyaratan visa dan mengizinkan perjalanan individu menjelang perjalanan musim gugur.

Dilansir dari Bloomberg, pembatasan akan dicabut untuk wisatawan yang telah divaksinasi tiga kali atau telah menunjukkan tes Covid-19 negatif. Pemerintah juga berencana untuk mencabut batas masuk harian dari luar negeri, yang saat ini ditetapkan pada jumlah 50.000.

Surat kabar Nikkei sebelumnya melaporkan bahwa batas kedatangan dari luar negeri akan berakhir pada Oktober. Saat ini orang asing diharuskan untuk mengajukan visa kunjungan singkat, dan hanya dapat memasuki negara itu sebagai bagian dari paket wisata yang disetujui. Sekitar 246.000 turis asing mengunjungi Jepang tahun lalu, jauh dari rekor 31,9 juta pada 2019.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top