Bisnis

Sebab Kegagalan dalam Usaha

Sebab Kegagalan dalam Usaha

Siapa yang tidak mau usahanya berhasil dan menjadi kaya? Semua Bunda tentu berharap demikian. Sayangnya, sebagian usaha yang telah dilakukan Bunda tidak berbuah manis alias GAGAL.

Apakah ada tips dan trik khusus agar usaha bisnis berhasil? Guna membicarakan tentang keberhasilan dan kegagalan, tentu kita harus mencari tahu penyebab Bunda gagal. Berdasarkan penelitian, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu kegagalan Bunda dalam berbisnis, di antaranya justru kesalahan-kesalahan atau kebiasaan yang sering dilakukan Bunda.

Akibatnya fatal bagi kelangsungan usaha yang dijalankan. Banyak Bunda yang menganggap kesalahan-kesalahan ini sebagal hal yang wajar atau bahkan tidak merasa melakukan kesalahan karena kesalahan yang dilakukan sudah menjadi kebiasaan Bunda sehari-hari. Jika dijabarkan satu per satu pasti akan banyak sekali. Saya akan coba sebutkan beberapa saja yang memang sering terjadi dan kurang mendapat perhatian.

Kesalahan apakah itu?

1. Tidak menentukan TUJUAN

Mengapa tujuan itu penting dan tanpanya bisnis akan gagal? Sebenarnya tidak hanya dalam dunia bisnis, dalam kehidupan sehari-hari pun jika kita tidak menetapkan tujuan pastilah akan sulit untuk melangkah. Dalam bisnis, memiliki tujuan mutlak diperlukan. Misalnya, saya ingin mendapatkan keuntungan beberapa ratus juta per bulan. Dari sinilah akan tercipta plan dan action untuk mencapai tujuan itu. Jika tidak ada tujuan tentu saja tidak akan ada action yang dilakukan.

2. Tidak melakukan BUDGETING

Apa itu BUDGETING? Budgeting adalah proses pembuatan anggaran pendapatan dan belanja. Budgeting penting untuk melakukan perencanaan keuangan dalam usaha kita. Dengan perencanaan keuangan yang baik, kita akan mudah sekali mengetahui berapa jumlah pemasukan dan pengeluaran usaha kita sehingga bisa dijadikan alat kontrol dalam usaha. Secara periodik, periksa kembali pos-pos pengeluaran apakah masih mencukupi atau tidak. Jika mulai menipis, harus dilakukan penghematan untuk pos tersebut atau dicari solusi lain sehingga tidak merugi.

3. Tidak mencatat pengeluaran kecil

Biasanya, Bunda sering menganggap remeh pengeluaran kecil, misalnya mengeluarkan seribu rupiah untuk membeli jajanan dan tidak mencatatnya. “Ah, cuma seribu. Tidak apa-apalah.”

Padahal, jika kita mengeluarkan seribu rupiah dalam sebulan mencapai 200 kali berarti kita telah membuang-buang uang 200 ribu rupiah. Sebaiknya Bunda hati-hati dengan pengeIuaran kecil karena jika dijumlahkan akan menjadi besar juga. Intinya, semua arus keuangan keluar masuk harus tercatat sehingga terlihat apakah kita memperoleh keuntungan atau tidak.

4. Terlalu memercayai orang lain dalam hal keuangan

Karena kesibukan di pekerjaan, Bunda biasanya menyerahkan urusan keuangan pada orang lain yang dipercaya. Namun, perlu diingat juga, orang kepercayaan Bunda hanya manusia biasa yang sewaktu-waktu dapat melakukan kesalahan. Untuk urusan lain, Bunda boleh menyerahkan pada orang lain dengan prosedur dan aturan yang telah Bunda buat. Namun, untuk urusan keuangan, sebaiknya Bunda melakukan pemeriksaan secara periodik.

5. Mencampuradukkan uang hasil usaha dan penghasilan dari bekerja

Tidak jarang Bunda mencampurkan semua pemasukan, baik uang suami, uang sendiri, dan juga uang hasil usaha. Mungkin Bunda berpendapat agar pengeluaran dapat keluar dari satu pintu. Namun, justru sistem seperti inilah yang tidak bagus. Sebab, dengan keadaan yang sudah campur aduk akan lebih susah mengontrolnya. Bunda tidak akan tahu persis berapa uang yang dikeluarkan untuk usaha dan pribadi. Begitu pula dengan sebaliknya. Pemasukan usaha pun juga akan tidak jelas karena Bunda pasti akan sering melakukan subsidi silang antara uang pribadi dan usaha. Jika perputaran uang dari usahanya memang bagus mungkin tidak akan membawa dampak besar, tetapi jika usaha Bunda banyak membutuhkan suntikan dana untuk kebutuhan sehari-hari maka lama-kelamaan uang Bunda akan habis.

6. Terlalu banyak utang

Sekarang ini, untuk mendapatkan utang sangat dipermudah. Mulai dari kartu kredit, kredit tanpa atau dengan agunan, ditambah tawaran prosesnya cepat dan syaratnya mudah sehingga sering kita tergiur berutang untuk modal usaha. Berutang memang tidak salah, tetapi harus diperhitungkan pula untung dan ruginya, berapa besar bunganya.

Sebaiknya memang tidak berutang karena gara-gara makhluk bernama utang ini cashflow kita sering berakhir jadi berantakan.

7. Tidak fokus pada satu usaha

Lho? Apakah tidak boleh memiliki banyak usaha dengan jenis yang berbeda-beda? Tentu boleh, justru sangat dianjurkan karena itu berarti pemasukan pun akan bertambah pula. Namun, ada saatnya kita harus fokus pada satu usaha tertentu, terutama pada saat “BARU MEMULAI”. Mengapa begitu? Sedangkan ada banyak peluang yang dapat digarap?

Pada saat memulai usaha, ibarat bayi usaha kita itu masih embrio, kita harus merawatnya, memberikan banyak makanan bergizi yang cukup. Nah, untuk itu, lebih baik perhatian kita pada satu macam usaha saja agar asupan gizi yang lengkap untuk usaha kita tercukupi sehingga dapat tumbuh dengan baik. Jika usaha sudah tumbuh baik, tentu Bunda boleh menambah jenis usaha yang lain.

Misalnya, saat Bunda baru mulai usaha dan belum berjalan dengan baik, tiba-tiba perhatian Bunda beralih kepada tawaran usaha lain dari teman. Maka, secara otomatis, perhatian Bunda akan beralih dari usaha yang Bunda baru rintis ke usaha yang lain. Hasilnya, tanpa perhatian Bunda, usaha tadi lebih berisiko gagal ketimbang berhasil. Oleh sebab itu, sebaiknya pada masa awal usaha, fokuskan pada satu usaha. Setelah usaha itu berkembang dengan baik, mulailah dengan yang lain. Pendapat masing-masing orang mungkin berbeda. Semuanya tergantung situasi, kondisi, dan juga keyakinan Bunda.

8. Tidak mempersiapkan diri menghadapi risiko

Banyak Bunda yang melakukan usaha asal NYEMPLUNG karena terprovokasi oleh motivator. Memang boleh asal dan buru-buru nyemplung karena jika tidak dipaksakan seperti itu biasanya tidak akan dimulai langkah membuka usahanya. Namun, meski sejak awal asal “NYEMPLUNG” tetap harus diimbangi oleh ilmu. Menurut perkataan orang bijak, “Semua itu ada ILMU-nya”.

Ilmu apa yang harus disiapkan?

Banyak. Baik ilmu tentang usaha itu sendiri dan yang terkait, seperti pemasaran, manajemen usaha, dan lainnya. Namun, yang terpenting adalah ilmu yang mengajarkan untuk siap fisik dan mental dalam menghadapi segala risiko yang terjadi. Sehingga, setiap kali ada penurunan usaha, kita akan segera mengambil langkah konkret untuk menaikkan kembali omzet usaha kita.

9. Tidak mau belajar

Belajar adalah salah satu kunci kesuksesan. Jika Bunda ingin sukses berarti harus mau terus-menerus belajar. Belajar tidak harus pergi ke kampus untuk menempuh gelar sarjana atau master. Yang terpenting adalah belajar dari kehidupan untuk meningkatkan kualitas hidup kita sehingga siap membangun dan mengembangkan usaha untuk mencapai sukses.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top