Entertainment

5 Alasan Kalian harus Nonton “The Midnight Club”, Serial Horor Terbaru di Netflix

the midnight club_1

“The Midnight Club” merupakan serial Netflix Original baru Oktober ini. Diciptakan oleh sutradara Mike Flanagan, diadaptasi dari novel bertajuk sama yang ditulis oleh Christopher Pike. Ilonka (Iman Benson) mendaftarkan diri untuk menjalani perawatan di Brightcliffe. Ilonka adalah remaja yang didiagnosa memiliki kanker tiroid. Setelah melakukan investigasi sendiri, Ia menduga ada ‘keajaiban’ di Brightcliffe yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Sembari menguak misteri di Brightcliffe, Ilonka menemukan Midnight Club, aktivitas rahasia pasien remaja lainnya yang berkumpul setiap tengah malam di perpustakaan. Mereka berkumpul untuk saling berbagi cerita horor secara bergilir. 

“The Midnight Club” dibintangi oleh Iman Benson, Igby Rigney, Ruth Codd, Annarah Cymone, Chris Sumpter, Adia, Aya Furukawa, dan Sauriyan Sapkota. Ada pula beberapa deretan yang kerap terlihat di judul-judul Mike Flanagan sebelumnya. Mulai dari Rahul Kohli, Henry Thomas, Samantha Sloyan, dan Zach Gilford. 

“The Midnight Club” menjadi salah satu serial terbaru yang trending di Netflix awal Oktober ini. Pertama karena Mike Flanagan merupakan salah satu creator dengan reputasi baik di Netflix. Ia telah menghasilkan beberapa serial yang selalu memiliki kualitas tinggi. Baik dalam segi naskah maupun produksi artistiknya.  Mulai dari “The Haunting Series” dan yang terbaik adalah karya originalnya, “Midnight Mass” tahun lalu. “The Midnight Club” telah menjadi serial yang dinanti-nanti oleh penggemar Flanagan. Ada banyak alasan mengapa kalian juga harus coba nonton “The Midnight Club”, terutama buat kalian penggemar genre horor

1. Waspada! Episode 1 Pecahkan Rekor Jumpscare Terbanyak 

“The Midnight Club” episode 1 tercatat di Guiness World Record sebagai episode dengan jumpscare terbanyak. Buat kalian yang mudah kaget, episode pertama ini bisa jadi mengesalkan karena akan ada adegan jumpscare bertubi-tubi yang bikin jantung copot. Mulai dari eksekusi visualnya, berpadu dengan musik latar yang tajam dan keras. Meski diulang-ulang mungkin akan tetap bikin kaget.

Namun, jangan langsung menyerah dan ketakutan dulu untuk lanjut ke episode berikutnya, ya. Adegan jumpscare bertubi-tubi hanya muncul pada episode pertama tersebut. Beberapa episode “The Midnight Club” lainnya memang akan kembali memunculkan beberapa jumpscare lagi. Namun porsinya tidak akan terlalu banyak dan diaplikasikan dengan tepat. Mungkin ada beberapa dari kalian yang justru suka dengan sajian horor yang diisi dengan jumpscare. “The Midnight Club” merupakan sajian horor klasik bertema teen scream horor 90an yang seru untuk disimak. 

2. Serial Horor Semi Anthology, Terdiri dari Berbagai Jenis Genre Horor

The Midnight Club
The Midnight Club

Segala jenis genre horor akan kalian temukan dalam “The Midnight Club”! Hal ini dikarenakan premis utamanya. Sekelompok remaja yang berkumpul di perpustakaan untuk berbagi dan saling mendengarkan cerita horor, atau yang lebih suka mereka sebut dengan aktivitas menciptakan ‘hantu’. Pada setiap episode, kita akan menyimak satu atau dua cerita horor yang diceritakan oleh anggota Midnight Club. Kemudian setiap cerita divisualisasikan layaknya adegan yang menjadi bagian dalam serial. Mulai dari kisah tentang perumahan aneh dengan para penghuni yang tersenyum, kisah pembunuh berantai yang brutal, kisah ibu dan anak yang ternyata penyihir, horor dengan genre fiksi ilmiah, slasher, dan masih banyak lagi. 

Setiap cerita juga ternyata sesuai dengan latar belakang dari masing-masing karakter. Berdasarkan pengalaman pribadi mereka yang dimodifikasi dalam genre horor sesuai gaya masing-masing. Menjadi sajian anthology aneka rasa yang dijamin tak akan bikin bosan dan selalu dinanti-nanti. Beberapa ulasan media bahkan menyebutkan kisah-kisah anthology dalam “The Midnight Club” lebih menarik daripada plot utama yang sesungguhnya. 

Sementara plot utama dalam serial horor ini adalah investigasi Ilonka untuk mengungkap misteri di tanah Brightcliffe dan sekte Paragon. Namun plot utama ini masih meninggalkan banyak pertanyaan yang belum ditutup dengan konklusi pasti. Akhir yang menggantung memberi asumsi akan adanya season kedua. Padahal Mike Flanagan sejauh ini hanya merilis serial horor yang langsung tamat dalam satu season. Netflix sendiri belum memberikan pengumuman selanjutnya akan kelanjutan “The Midnight Club”. 

3. Menguak Misteri Brightcliffe sebagai Rumah Singgah Remaja Penyakit Terminal

Buat kalian penggemar horor sekte, “The Midnight Club” memiliki tema tersebut dalam ceritanya. Misteri muncul ketika Ilonka menemukan berita tentang Julia Jayne, satu-satunya pasien di Brightcliffe yang berhasil pulang dan sembuh dari kanker. Itulah yang menjadi alasan utama Ilonka memiliki harapan besar untuk sembuh. Meski harus mengandalkan kekuatan supranatural yang bersemayam di Brightcliffe. 

Plot petualangan solo Ilonka lebih kental dengan genre misteri. Dimana Ia mengumpulkan bukti demi bukti. Baik melalui penemuan pribadi maupun dibantu oleh orang-orang disekitarnya. Ia juga harus bisa memecahkan teka-teki yang Ia temukan di sekitar properti tersebut. Sebagai film horor supranatural, sudah menjadi ciri khas Mike Flanagan untuk menyajikan konten supranatural yang tetap relevan dengan dunia nyata. 

Dimana pada akhirnya ada plot twist dan berbagai penjelasan logis bahwa hal yang kita yakini adalah keajaiban tak lebih dari sekadar kenyataan yang bisa masuk di nalar. Flanagan selalu bisa menciptakan formula antara fenomena paranormal kemudian disandingkan dengan kenyataan yang bisa dimaknai oleh kita manusia. 

4. Sederet Karakter dengan Latar Belakang dan Kasus yang Berbeda-beda

The Midnight Club
The Midnight Club

Seperti serial remaja pada umumnya, “The Midnight Club” juga terdiri dari sederet karakter remaja dengan penokohan dan latar belakang berbeda. Ada modifikasi yang dilakukan dari materi sumbernya dan menyajikan keberagaman dari jajaran karakter. Ilonka sendiri adalah remaja berkulit hitam, begitu juga dengan tiga karakter lainnya. Kemudian ada karakter dengan ras Jepang dan India. Setiap karakter juga memiliki permasalah pribadi yang bersinggungan dengan keluarga masing-masing. 

Masing-masing dari karakter juga memiliki pandangan dan sikap yang berbeda sebagai pasien penyakit terminal. Karakter seperti Ilonka yang baru saja divonis terminal masih memiliki optimisme untuk sembuh. Secara fisik ia juga masih terlihat lebih baik-baik saja. Menjadi teman sekama Anya, keduanya jadi terlihat kontras dan saling bertentangan. Dibandingkan dengan Ilonka, Anya sudah divonis dengan kanker lebih lama. Sudah terlalu lama hingga fisiknya mengalami penurunan, begitu juga dengan semangatnya. Kemudian ada pemuda seperti Amesh yang terlihat lebih santai dan dengan semangat positif memiliki daftar hal-hal yang Ia lakukan sebelum meninggal. 

Melihat kisah remaja-remaja ini, kita juga jadi belajar bagaimana menghadapi orang-orang yang sudah divonis terminal dengan lebih bijak. Bagaimana memberi mereka dukungan yang benar, bagaimana menjadi baik tanpa menyakiti perasaan mereka.

5. Perspektif Baru untuk Pasien Penyakit Terminal

The Midnight Club
The Midnight Club

Ketika mendengar orang-orang dengan diagnosa termina, banyak dari kita menyebut mereka sebagai pejuang. “The Midnight Club” memberikan perspektif yang berbeda melalui terapi penyembuhan yang diterapkan dalam institusi Brightcliffe. Yaitu untuk tidak melawan penyakit, namun untuk belajar lapang dada dan mensyukuri kehidupan selagi ada. Daripada menghabiskan waktu untuk berbagai hal yang tidak bisa kita lakukan di masa depan. Jadi “The Midnight Club” tidak melulu menyajikan cerita horor hanya untuk seru-seruan. Namun ada filosofi tentang menjalani kehidupan dan menyambut kematian yang bermanfaat, bahkan untuk kita yang dianugerahi kesehatan. 

Itu tadi berbagai alasan mengapa “The Midnight Club” wajib kalian tonton di Netflix Oktober ini!

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top