Entertainment

5 Alasan untuk Menonton dan Tidak Menonton Luckiest Girl Alive Terbaru di Netflix

luckiest-girl-alive_3

“Luckiest Girl Alive” merupakan film psychological thriller terbaru di Netflix yang sedang trending beberapa pekan ini. Disutradarai oleh Mike Barker, film ini diadaptasi dari novel bertajuk sama dengan judul yang sama ditulis oleh Jessica Knoll. Film ini dibintangi oleh Mila Kunis sebagai Tiffany Fanelli yang kini telah menjadi wanita sukses di New York dengan nama Ani. Ani sekilas terlihat sempurna dan sukses. Bersiap untuk mendapatkan pekerjaan di New York Times dan menikah dengan pria kaya yang mencintainya apa adanya. Namun, perempuan seberuntung Ani pun menyimpan trauma masa lalu yang terus menghantuinya sekalipun kehidupannya sudah baik-baik saja. Terutama ketika Ia mendapatkan tawaran untuk menjadi narasumber untuk film dokumenter tentang tragedi di sekolahnya dulu. 

“Luckiest Girl Alive” memang trending di Netflix karena memuat isu #MeToo. Karena menyajikan skenario dari angle baru dan penulisan naskah yang berkualitas juga. Ditambah kedua aktris, Mila Kunis dan Chiara Aurelia (pemeran Tiffany muda). Namun film ini sempat mendapatkan komplain dari para penonton. “Luckiest Girl Alive” memang recommended untuk ditonton, namun juga cukup bikin khawatir bagi penonton yang sensitif. Menonton tanpa tahu apa yang sebetulnya ada dalam film ini. Berikut beberapa alasan mengapa kalian wajib nonton sekaligus perhatian kenapa kamu mungkin tidak bisa menonton “Luckiest Girl Alive”. 

1. Angkat Isu Pelecehan Seksual dari Angle yang Baru

Perempuan yang dikatakan sebagai wanita beruntung sekalipun juga bisa mengalami trauma terpendam. Dalam kasus Tiffany dalam “Luckiest Girl Alive”, Ia mengalami dilema untuk terbuka karena Ia terlalu ‘sempurna’ untuk mengaku sebagai korban. Sementara pihak yang bersalah sedang dalam kondisi yang lebih terpuruk karena telah lumpuh. Dalam kisah ini, kita akan belajar untuk lebih dari sekadar simpati atau kasihan dengan korban pelecehan seksual. Namun lebih respectful dengan mereka, mendengarkan kisah mereka, kemudian mencari kebenarannya. Tak hanya menghakimi atau berpihak pada seseorang hanya karena pencitraan. 

Seseorang yang mengalami pelecehan seksual memiliki luka yang hampir tidak akan pernah bisa hilang seumur hidupnya. Mereka kerap merasa rendah dan kehilangan harga diri karena kejadian tersebut. Mengalami kesulitan untuk menjadi dirinya sendiri sebelum tragedi terjadi. Melalui kisah Tiffany, kita akan melihat bahwa memberikan respect pada korban sangat penting untuk membantu mereka sedikit merasa kembalinya harga diri mereka. Lebih baik daripada sekadar mengasihani. 

Citra korban dalam kasus ini juga lebih sering digambarkan sebagai sosok yang berantakan dan gagal dalam kehidupan. Namun Tiffany menjadi sosok yang kuat dan sukses, sekilas sulit untuk simpati dengannya. Naskah “Luckiest Girl Alive” berhasil membuat kita untuk lebih simpati dengan karakter ini meski dengan segala keberuntungan dalam hidupnya. 

2. Gambarkan Trauma Korban Pelecehan Seksual dengan Tepat

luckiest girl alive
(Mila Kunis in Luckiest Girl Alive)

“Luckiest Girl Alive’ juga memiliki elemen psychological. Tiffany mengisi narasi dalam setiap adegan. Kita akan mendengarkan apa yang Ia pikirkan sepanjang hari dalam rutinitasnya. Dan kita bisa menyimak bagaimana traumanya mempengaruhi cara kerja pikiran dalam menanggapi setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Ada momen biasa, namun juga ada momen-momen dimana Ia terpicu akan suatu hal. Membuatnya memiliki berbagai pemikiran intrusif yang mengandung kekerasan. Pemikiran intrusif menjadi salah satu bagian aktif dalam otak korban pelecehan seksual hal tersebut divisualkan dengan baik dalam “Luckiest Girl Alive”. Terkadang Tiffany mampu mengendalikannya, namun ketika pemicu terlalu kuat, Ia benar-benar bisa memanifestasikannya dalam tindakan nyata. 

Karena kita diajak masuk dalam pikiran Tiffany dari awal hingga akhir, setiap tindakannya terasa masuk akal. Kita akan dibuat mengerti dan kompromi dengan kata-kata kasar atau tindakan fisik yang spontan serta mengejutkan. Transisi antar setiap adegan untuk memberikan pemahaman akan trauma dalam setiap menitnya terasa mulus. Intensitas suspense-nya juga memiliki komposisi pas. Tidak tegang terus menerus. 

3. Plot Maju Mundur Namun Rapi dan Menarik untuk Disimak

“Luckiest Girl Alive” memiliki plot maju mundur antara masa kini dan masa lalu dari Tiffany. Timeline dari masing-masing plot memiliki perkembangan yang saling mendampingi. Masa depan dimulai dengan kehidupan Tiffany yang terlihat sejahtera, mempersiapkan diri untuk menikah dan mendapat promosi kerja. Di plot masa lalu, dimulai dengan Tiffany yang menjadi pelajar baru di sekolahan. Sekolah yang Ia datangi adalah sekolah swasta dengan prospek cerah untuk masa depannya. 

Babak baru dimulai ketika seorang sutradara menawari Tiffany untuk menjadi narasumber dalam tragedi yang terjadi di sekolahnya dulu. Pada momen ini, triggering dari masa lalu Tiffany mulai muncul dan secara bertahap ‘memakan’ dirinya kembali. Pertemuan antara plot masa sekarang dan masa lalu memiliki titik pas sebagai klimaks dalam cerita. Semua pertanyaan akan terjawab dan babak pembalasan juga dieksekusi secukupnya dan tidak terlalu berlebihan. Karena film ini bukan tentang opini publik, namun tentang memahami dan menghargai kisah Tiffany sebagai korban yang tidak terungkap. 

4. Angkat Dua Isu Paling Sensitif di Amerika Serikat

luckiest girl alive
(Chiara Aurelia in Luckiest Girl Alive)

“Luckiest Girl Alive” mengangkat dua isu yang paling sensitif, terutama untuk masyarakat Amerika. Selain kasus victim blaming dalam pelecehan seksual, film ini juga memiliki plot dimana ada tragedi penembakan di sekolah. Kasus penembakan di sekolah masih menjadi tragedi yang terjadi dari waktu ke waktu di Amerika hingga saat ini dan sejak lama. Dalam kisah Tiffany, temannya sendiri menjadi pelaku penembakan karena menjadi korban bully. Ia juga hendak membela Tiffany yang takut untuk mengaduhkan orang-orang yang telah menjauhinya. Membuat posisi Tiffany menjadi semakin kompleks dalam kasus ini. 

Dua isu ini tidak bisa dianggap sepele. Beberapa penonton bisa sangat merasa tidak nyaman, bahkan bisa memicu trauma. Namun dalam trailer dan sinopsisnya, “Luckiest Girl Alive” tidak memberikan peringatan secara jelas. Karena kedua isu tersebut digunakan sebagai semacam plot twist atau reveal yang akan membuat penonton terkejut. Mungkin terlalu terkejut dalam kasus ini. Netflix seharusnya memberikan peringatan yang sedikit lebih jelas. Karena pada akhirnya ceritanya tetap informatif dan terangkai dari naskah yang berkualitas untuk disimak. Tidak perlu mengandalkan plot twist. 

5. Mengandung Konten Visual yang Triggering

“Luckiest Girl Alive” menuai banyak komplain karena visual brutalnya daripada kualitas naskahnya. Seperti yang sudah diketahui, Tiffany ternyatanya menjadi korban dari pelecehan seksual. Film ini mengandung adegan vulgar yang akan sangat membuat tidak nyaman, terutama perempuan. Baik yang memiliki trauma maupun penonton secara umum. Membuat sutradara laki-laki film ini jadi tidak terlihat simpati atau peka dengan perasaan perempuan. Begitu juga ketika adegan penembakan di sekolahan. Akan ada visual dan audio keras yang bisa memicu ketakutan dan rasa tidak nyaman pada penonton. Padahal sudah banyak film bertema #MeToo masa kini yang tetap menyampaikan pesan dengan tepat tanpa harus mengeksploitasi adegan eksplisit. 

Itu tadi berbagai alasan dan peringatan untuk kalian sebelum menonton “Luckiest Girl Alive” di Netflix

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top