Entertainment

Film ‘Selesai’ Dinilai Rendahkan Perempuan, Tompi Jadi Topik Panas Di Twitter

Film ‘Selesai’ Dinilai Rendahkan Perempuan, Tompi Jadi Topik Panas Di Twitter

Film ‘Selesai’ sukses menuai perhatian, bahkan dalam waktu satu minggu setelah ditayangkan film tersebut telah disaksikan lebih dari 100 ribu kali. Namun sayang, ada suara tak sejalan dengan film tersebut, mereka ramai-ramai mengkritik Tompi selaku sutradara film ‘Selesai’.

Mereka menyinggung Tompi telah memproduksi film soal perempuan tanpa memakai sudut pandang perempuan. Ia juga disebut terlalu eksis. Netizen yang melontarkan kritik tersebut menyebut film ‘Selesai’ telah merendahkan wanita.

“Pertanyaan: “Mengapa  Tompi suka memproduksi film soal perempuan tetapi tidak pernah melibatkan perempuan?” jawabannya: “Ya ini kan sesuai dengan kebutuhan. Jika kami butuh tahu soal perempuan kami akan bertanya perempuan,” tulis seorang netizen.

Lihat Juga: 6 Film Korea Seru Berikut Ini Bertema Wabah Penyakit dan Virus

Menanggapi banyaknya komentar miring tersebut, Tompi menanggapinya dengan cukup santai. Ia mengatakan pembuatan film tersebut tanpa ada tujuan untuk diberikan penilaian dari orang lain.

“Saya tidak membuat film untuk dinilai. Bukan pula untuk dibuat apa ya, pengakuan dari si A, si B, si C, pihak-pihak tertentu, belum tentu pula mereka memiliki ilmunya, iya kan?” kata Tompi dalam live di Instagram-nya beberapa waktu lalu.

“Itu tadi saya katakana, orang makan tempe kamu kaish keju, tidak akan nyambung. Biarkan saja,” sambungnya.

Film yang telah tayang sejak 13  Agustus 2021 itu juga dikritik seorang netizen bernama Runi Arumndari. Ia menilai film ‘Selesai’ yang dibintangi oleh Gading Martin, Ariel Tatum dan Anya Geraldine itu seolah membenarkan adanya perselingkuhan dalam rumah tangga.

“Oke aku akhirnya sudah nonton Selesai dan ingin membahas sedikit di sini,” tulis Runi di akun Twitter-nya, Senin (16/8/2021).

“Aku marah sekali dengan semua isi naskahnya, terutama karakterisasi dan penyelesaian konfliknya yang malas sekali jadi hanya bisa ambil stereotip sana sini. Mulai dari stereotip pria tukang selingkuh yang berakhir ‘menang’,” cuitnya.

Ia juga menilai Tompi seolah ingin mengangkat banyak isu namun malah membuatnya semakin runyam.

“Dan yang paling parah, orang dengan mental illness yang berakhir ‘disalahkan dan dibuang’. Kesannya ingin bicara banyak isu sensitif tetapi kok begini?,” sambungnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top