Entertainment

Google Rayakan Ultah ke-118 James Wong Howe, Siapa Dia?

Google Rayakan Ultah ke-118 James Wong Howe, Siapa Dia?

James Wong Howe dirayakan dalam Google Doodle hari ini, Senin (28/8). Ia adalah sinematografer Cina-Amerika yang terkenal dengan teknik film inovatif pada masanya.

Pria berdarah Cina-Amerika ini adalah sinematograger yang dikenal dengan teknik inovatif dalam pengambilan gambar. Dia sering menggunakan lensa lebar, pencahayaan yang rendah serta penggunaan latar belakang gelap untuk menciptakan nuansa warna di film hitam-putih.

Lahir di Guangzhou, Howe bermigrasi ke AS ketika berusia 5 tahun. Dia menghabiskan masa kecilnya di Washington, belajar jadi petinju saat remaja, dan kerja serabutan yang membawanya ke lokasi pembuatan film.

James Wong Howe memulai karirnya dalam industri film dengan nama James Howe di sebuah rumah produksi Famous Players-Lasky—yang kemudian berganti jadi Paramount—pada tahun 1917. Bekerja untuk sepuluh dolar seminggu di departemen kamera, Howe menyapu lantai, membersihkan dan membawa peralatan, dan membawa kamera.

Tugas pertamanya mengoperasikan kamera dimulai di film Cecil B. DeMille berjudul Male and Female (1919) untuk sebuah adegan yang menampilkan tokoh Gloria Swanson di sebuah sarang singa. Ia mengambil tayangan itu dalam sekali tangkapan menggunakan pengaturan lima kamera yang tidak biasa. DeMille memperhatikan Howe dan mempromosikannya sebagai asisten kameramen.

Sejak saat itu, Howe magang sebagai asisten operator kamera dan secara bersamaan belajar seluk-beluk pencahayaan, lensa, stok film, dan kamera.

Permulaan karier Howe dimulai secara tidak sengaja pada tahun 1923 saat ia menjadi asisten kamera untuk film Drums of Fate. Untuk melengkapi pendapatan studio sederhananya, Howe telah memperoleh kamera yang bisa dia gunakan berjam-jam untuk memotret publisitas para dan menjual pada mereka foto-foto cetakan tersebut.

Suatu hari Howe bertanya kepada Mary Miles Minter jika ia bisa memotret aktris utama film sunyi tersebut. Sehari setelah menyampaikan foto cetakan, Howe diajak untuk menjadi fotografer Mary Miles. Saat Howe bertanya alasannya, Mary Miles berkata karena dalam foto itu matanya terlihat gelap.

Saat itu, film hitam putih tidak membedakan antara biru dan putih. Karena itulah, sinematografer film hitam putih tidak bisa menangkap awan di langit. Mary Miles Minter memiliki mata biru sehingga matanya selalu tampil pucat di film. Namun di foto Howe mata Mary Miles tampak gelap dan cantik.

Namun, Howe justru dia tidak tahu bagaimana dia membuat mata aktris itu tampak gelap. Akhirnya dia mengambil keputusan, efek itu karena dia berdiri di depan latar belakang gelap saat memotret Mary Miles. Matanya seperti cermina yang dapat memantulkan latar belakang hitam.

Google Rayakan Ultah ke-118 James Wong Howe, Siapa Dia?Howe kemudian menggantungkan tirai beludru hitam besar di depan kamera filmnya, membuat lubang di dalamnya, dan memotret Mary Miles Minter melalui lubang itu. Hasilnya adalah mata yang gelap dan indah.

“Pada masa itu Hollywood adalah koloni kecil dan kabar (soal hasil mata gelap) menyebar dengan cepat,” kata Howe dalam wawancara dengan Roger Ebert pada tahun 1970.

“Kabar beredar di pesta koktail bahwa Mary Miles Minter telah mengimpor seorang kamerawan Oriental, yang bersembunyi di balik tirai beludru dan secara ajaib membuat matanya menjadi gelap. Setelah itu, saya tidak pernah ketinggalan pekerjaan.”

Selama pertengahan 1920-an, Howe bekerja sebagai kameramen dengan sutradara Herbert Brenon dan Victor Fleming, tekniknya terus maju. Sinematografi Hollywood pada pertengahan tahun ’20-an biasanya menyelimuti set dan para pemain dengan cahaya terang, bahkan iluminasi tanpa memperhatikan mood atau efek emosional. Karena setiap gambar ditangkap terpisah seperti potret, gambar-gambar itu kurang memiliki kohesi visual saat diedit bersamaan secara berurutan.

The Spanish Dancer, film kelima Howe sebagai sinematografer, terkadang menderita ketidakkonsistenan ini. Namun, bahkan pada tahap awal karirnya ini, Howe sudah mulai menggunakan cahaya untuk membangkitkan mood, seperti dalam bayangan gelap adegan film tersebut.

Howe menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa selama bertahun-tahun dan dalam dekade yang mengikuti era film sunyi. Ia punya filosofi bahwa juru kamera terbaik tidak pernah meminta perhatian pada dirinya sendiri melainkan menggunakan pencahayaan, pembingkaian, dan gerakan untuk mendukung dan mengekspresikan mood dan emosi suatu urutan.

Dalam sebuah surat tahun 1960, dia menjelaskan, “Saya masih percaya bahwa ceritanya adalah inti yang penting, dan semua hal lain harus mengarah dan bekerja untuk mengekspresikan dan menafsirkan ceritanya … sinematografi seharusnya tidak pernah menjadi lensa yang dipoles hanya untuk melihat gerakan. Sinematografi harus berkontribusi pada nilai emosional dari tindakan itu dengan caranya sendiri,” demikian yang dilansir dari silentfilm.org.

Dalam sebuah wawancara, Howe sempat menjelaskan dalam klip film Hud dengan menunjukkan bagaimana dia memberikan pencahayaan bagi aktor untuk menekankan kualitas emosional setiap karakter. Untuk aktor Melvin Douglas, misalnya, Howe menekankan bayangan dan isolasi. Sementara untuk Paul Newman, ia memakai kontras. Bagi Brandon De Wilde, Howe menggunakan pencahayaan terbuka dan sederhana untuk menekankan masa mudanya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top