Entertainment

Kasus Video Anji dan Hadi Pranoto, Deddy Corbuzier: Tidak Perlu Jalur Hukum

Kasus Video Anji dan Hadi Pranoto

Sedang ramai melanda jagat maya tanah air, kasus yang melibatkan video Anji. Video Anji dibuat oleh youtuber sekaligus musisi terkenal, sehingga pemberitaan tentangnya sangat menarik perhatian publik (03/05).Kasus ini berawal dari video di kanal youtube dunia manji yang diunggahnya sendiri. Di dalam video tersebut, ia mengundang Hadi Pranoto sebagai narasumber.

Mereka membahas mengenai obat covid-19. Disebutkan bahwa telah ada penawar untuk menyerang covid-19. Dengan kata lain, obat untuk menyembuhkan covid-19 sudah ditemukan. Pernyataan ini disampaikan oleh Hadi Pranoto, seorang yang sering dipanggil ‘prof’ oleh Anji dalam video buatannya.

Hal ini tentu mengundang kontroversi lantaran virus corona atau covid-19 yang sudah enam bulan singgah di Indonesia. Ditambah lagi dengan keinginan masyarakat untuk segera terlepas dari pandemic ini. Pasalnya, adanya pandemic membuat berbagai kegiatan tertunda bahkan dibatalkan. Berbahaya bagi kesehatan, pun bagi keberlangsungan hidup manusia.

Tidak main-main, dengan tegas Hadi Pranoto menyebut bahwa telah ada obat untuk membasmi pandemic ini. Tentu sangat menarik perhatian public dengan dilatarbelakangi kondisi sekarang ini. Sontak saja video unggahan dunia manji tersebut menjadi viral dan hangat diperbincangkan.

Pernyataan mengenai penemuan obat dari covid-19 membuat masyarakat berharap lebih dan akan mengundang kekacauan public. Masyarakat akan menggampangkan covid-19 karena menilai sudah ada obatnya, padahal kebenarannya belum tentu.

Ditambah lagi dengan embel-embel yang dipakai oleh Hadi Pranoto. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang yang ahli dalam mikrobiologi. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya merupakan kepala dari tim riset formula antibody covid-19. Bahkan, yang lebih mengejutkan ialah judul dari video tersebut yang menyebutkan obat covid-19 telah ditemukan dan bisa kembali normal. Hal ini dinilai sangat provokatif, sehingga membahayakan.

Penghapusan Video Anji Unggahan Oleh Pihak YouTube

Dinilai terlalu provokatif dan memicu keresahan dalam masyarakat, youtube menghapus video unggahan kanal milik dunia manji. Penghapusan ini tidak begitu saja, melainkan setelah adanya berbagai dampak yang ditimbulkan dari unggahan tersebut. Memang tidak lama, hanya sekitar 30 menit, tetapi cukup menggemparkan masyarakat.

Karena obrolan antara Anji dan Hadi Pranoto, seolah telah memberikan kejelasan tentang obat covid-19, yang bertajuk herbal. Padahal, obat tersebut belum teruji secara ilmiah apakah benar demikian. Kasus ini yang kemudian menyeret nama keduanya ke jalur hukum.

Meski telah dihapus oleh youtube, cuplikan dari video singkat tersebut masih beredar di berbagai social media. Terlebih, Anji yang merupakan seorang public figure tentu menjadi sorotan public, sehingga apa yang ia ucapkan atau pun perbuat tentu juga mempengaruhi keadaan public.

Belum adanya fakta yang jelas mengenai pernyataan yang dikeluarkan Hadi Pranoto mengenai telah ditemukannya obat dari covid-19 membuat ia disinyalir sebagai penyebar hoaks. Kasus ini pun turut menyeret musisi Anji karena ia telah berkontribusi dalam penyebaran video tersebut.

Dibuat Video Anji Berisi Permintaan Maaf

Anji Minta Maaf
Anji Minta Maaf

Karena berbagai keresahan dan kegaduhan yang muncul dalam masyarakat, musisi satu ini meminta maaf kepada khalayak (05/08). Ia mengaku bersalah telah menyebarkan berita hoax dan memicu kegemparan dalam masyarakat.

Meskipun video anji telah dihapus, juga ia telah meminta maaf ke masyarakat, kasus menyeretnya tetap dilaporkan untuk dibawa ke meja hijau. Sebab, konten tersebut dinilai telah menyebabkan keresahan public yang luar biasa. Pelapor dari kasus ini adalah Muannas Alaidid, seorang ketua umum Cyber Indonesia (03/08).

Menurut Muannas, kejadian ini harus tetap dilaporkan ke yang berwenang. Apabila dibiarkan, akan memberikan peluang kepada public figure yang lain untuk terus membuat kegaduhan dalam masyarakat. Sebagai usaha preventif, langkah ini tepat diambil.

Ia pun menjelaskan bahwa pelaporan yang dilakukannya bertujuan untuk memberikan pelajaran kepada si pembuat agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya yang salah. Jika dibiarkan, barangkali dapat semakin meluas. Oleh karena itu, harus diambil sikap yang tegas dan jelas.

Perlu diingat pula bahwa tidak seharusnya para konten creator membuat statement yang memicu keresahan dalam masyarakat hanya demi sebuah konten. Hanya agar kontennya naik daun, hingga viral dalam masyarakat. Seharusnya, mereka memikirkan terlebih dahulu dampak seperti apa yang akan muncul dari tindakan yang dilakukan.

Ketika dampak yang timbul akan lebih besar dan cenderung merugikan orang banyak, maka sebaiknya jangan dilakukan. Karena sama saja tidak bermanfaat. Akibatnya, hanya kontroversial tetapi tidak berguna.

Deddy Corbuzier Menilai Kasus Ini Tidak Perlu Dibawa Ke Jalur Hukum

Deddy Corbuzier Menilai Kasus Ini Tidak Perlu Dibawa Ke Jalur Hukum
Deddy Corbuzier Menilai Kasus Ini Tidak Perlu Dibawa Ke Jalur Hukum

Menanggapi persoalan kasus ini yang akan diproses melalui hukum, Deddy Corbuzier menganggap bahwa tidak perlu penyelesaian melalui meja hijau pada akhirnya. Barangkali, menurutnya ini bukan kesalahan fatal.

Selain itu, the father of youtube ini juga mengungkapkan bahwa ia kasihan dengan polisi yang menangani kasus ini jika memang dilaporkan. Sehingga baginya masalah ini tidak perlu dilaporkan. Juga, ia menyampaikan pula jika kasus ini yang diduga melakukan penyebaran hoaks di media bisa dibahas dan diselesaikan melalui podcast di channel youtubenya.

Akan tetapi, Tim Cyber Indonesia mempertimbangkan bahwa jika tidak dilaporkan maka tidak akan menimbulkan jera. Terlebih, pelaporan seorang musisi terkenal dan Hadi Pranoto ditujukan hanya untuk memberi pembelajaran kepada mereka untuk tidak menyebarkan berita bohong hanya demi konten.

Para public figure secara umum dan para konten creator juga seharusnya menjadikan ini sebagai pembelajaran. Agar tidak terjadi peristiwa serupa. Hanya demi konten, tetapi merugikan masyarakat luas.

To Top