Entertainment

Roy Kiyoshi Ajukan Permohonan Rehabilitasi Setelah Terjerat Kasus Narkoba

Roy Kiyoshi Ajukan Permohonan Rehabilitasi Setelah Terjerat Kasus Narkoba

Salah seorang paranormal dan public figure asal Indonesia yang saat ini dituntut penjara selama 6 bulan adalah Roy Kiyoshi. Ia dikenal publik semenjak menjadi pengisi program di salah satu stasiun televisi terkenal di Indonesia. Pria berusia 33 tahun ini harus menghadapi masalah dengan tuntutan 6 bulan penjara karena diduga menyalahgunakan psikotropika.

Roy ditangkap di kediamannya pada tanggal 6 Mei 2020 di kawasan Cengkareng, Jakarta. Ketika digeledah, polisi menemukan 21 pil psikotropika tanpa adanya resep dokter. Tentu hal ini langsung dianggap sebagai penyalahgunaan karena dapat menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku pengguna.

Setelah mendapat hukuman 6 bulan penjara, Edy Suryono selaku kuasa hukum Roy mengatakan bahwa paranormal asal Indonesia ini ingin melanjutkan dengan menjalankan rehabilitasi. Tujuannya untuk mengoptimalkan proses penyembuhan, karena sebenarnya masalah ini sama sekali tidak diinginkan oleh Roy.

Namun sebelum memastikan benar-benar menjalani rehabilitasi, Edy meminta Roy untuk memutuskan apakah dirinya akan mengajukan pembelaan atau tidak. Jika iya, kemungkinan ia akan mendapatkan keringanan dalam menerima hukuman. Karena sebenarnya Roy Kiyoshi tidak benar-benar niat mengkonsumsi obat tanpa resep dokter ini. Obat-obatan yang ditemui ketika proses penggeledahan adalah diazepam (mersi), alprazolam (calmlet), alprazolam (zypraz), dan nitrazepam (dumolid).

Jadi dengan mengajukan pembelaan tidak menutup kemungkinan ia akan diberi keringanan atau bahkan kebebasan.

Jaksa Penuntut Umum Menghukum Roy Kiyoshi 6 Bulan Penjara

Jaksa Penuntut Umum Menghukum Roy Kiyoshi 6 Bulan Penjara
Jaksa Penuntut Umum Menghukum Roy Kiyoshi 6 Bulan Penjara

Setelah melakukan segala bentuk pemeriksaan dan pengumpulan bukti, akhirnya Jaksa Penuntut Umum menjatuhkan tuntutan 6 bulan penjara kepada Roy. Karena, pengisi program paranormal ini telah terbukti bersalah menyalahgunakan psikotropika tanpa ada resep dokter.

Tapi tidak hanya mendapatkan tuntutan hukuman saja, Roy juga dikenakan denda sebesar Rp10 juta sesuai dengan berkas tuntutan yang sudah diputuskan Jaksa Penuntut Umum. Dari hukumannya ini, diharapkan sebagai tersangka dapat merasa jera dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Terutama untuk tersangka yang dihukum karena penggunaan narkoba, dimana menyebabkan ketergantungan. Jadi, hukuman tahanan dan denda saja tidak cukup tanpa adanya rehabilitasi. Karena pada proses tersebut, mantan pengguna obat-obatan tanpa resep dokter itu bisa mengembalikan kondisi tubuhnya baik fisik maupun psikologis secara maksimal.

Edy berharap agar Roy mau mengajukan pembelaan sehingga tidak perlu menanggung beban hukuman yang berat dan menjalankan rehabilitasi saja. Keluarga besar pun berpikir dan memiliki harapan sama dengan kuasa hukumnya. Tapi, bagaimanapun semua keputusan tetap berada di tangan Roy Kiyoshi karena ia yang menjalani.

Setidaknya agar ia tenang terlebih dahulu dalam mengatasi masalah yang harus dihadapinya. Dengan demikian mentalnya akan tetap kuat dan dapat dipastikan kondisinya selalu sehat. Sebagai pihak yang mendampingi, Edy tidak bisa memaksakan kehendak selain memberikan arahan-arahan terbaik.

Sudah Menjalani Pengobatan Ke Psikiater

Roy Kiyoshi Sudah Menjalani Pengobatan Ke Psikiater
Roy Kiyoshi Sudah Menjalani Pengobatan Ke Psikiater

Alasan Roy mengkonsumsi psikotropika adalah karena adanya gangguan kesehatan yang dialami. Hanya saja beberapa waktu terakhir dia membutuhkan obat tersebut namun terkendala dengan adanya COVID-19. Sebenarnya, ia sudah menjalani proses pengobatan ke psikiater sejak tahun 2019.

Namun, karena adanya pandemi ini membuat Roy takut untuk pergi ke apotek maupun dokter. Akhirnya, ia memutuskan untuk membeli obat yang pernah diresepkan oleh dokter dengan cara daring tanpa menggunakan resep dokter. Saat itu Roy membutuhkan obat tersebut karena mengalami susah tidur yang diakibatkan oleh tingkat stres yang meningkat karena WFH.

Hal ini dibuktikan dengan fakta persidangan yang telah dijalani pada Rabu (22/7/2020) dimana kehadiran RSKO Cibubur memberikan keterangan atas pembelaan terhadap Roy Kiyoshi. Pihak RSKO mengatakan bahwa Rot mengalami tiga gangguan sekaligus, yaitu bipolar, sulit tidur, dan paranoid akut.

Setelah mendengar tuntutan yang sudah diputuskan oleh hakim, akhirnya Roy ingin mengajukan pembelaan melalui penasehat hukumnya.Setelah mendapat hukuman paling ringan, ia menginginkan untuk bisa melanjutkan dengan mengikuti rehabilitasi dan segera kembali ke kehidupan normal seperti sebelumnya.

Keluarga dan kuasa hukum hanya bisa mendampingi dan mendukung agar tetap kuat selama menjalani proses hukuman dan sidangnya hingga mendapatkan keputusan terbaik.

Selain Roy Kiyoshi, Banyak Artis yang Terjebak dalam Kasus Narkotika

Selain Roy Kiyoshi, Banyak Artis yang Terjebak dalam Kasus Narkotika
Selain Roy Kiyoshi, Banyak Artis yang Terjebak dalam Kasus Narkotika

Ternyata selama masa pandemi ini, tidak hanya Roy yang terjebak ke dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan atau narkoba. Semakin kesini, banyak artis yang diduga mengkonsumsi narkoba dengan alasan yang sama. Alasan tersebut adalah merasa stress selama menjalani masa karantina atau WFH.

Memang cukup membosankan, ketika sebelumnya bisa bekerja dengan bebas di luar rumah sambil menghirup udara segar. Tapi kini harus berdiam diri di rumah dan menjalankan segala aktivitas di dalamnya. Secara otomatis sebagian besar aktivitas menjadi terbatas dan merasa bingung harus melakukan apapun.

Tapi, sebenarnya untuk menghadapi situasi seperti ini bisa mengisi waktu luang dengan hal-hal positif sehingga tetap merasa enjoy. Mencari kesibukan yang lebih bermanfaat seperti olahraga dan berkarya akan sedikit membantu kita dalam mengusir rasa bosan. Apalagi hingga saat ini masih belum dapat dipastikan kapan virus ini akan pergi.

Sedangkan kalau bicara soal menjalani hidup normal seperti biasa, kita saat ini sudah menjalani kehidupan new normal. Dimana semua orang  bisa melakukan aktivitasnya asalkan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti mengenakan masker, sering mencuci tangan, serta menjaga jarak dengan orang lain.

Jadi, jangan biarkan stress akibat terbatasnya gerak aktivitas justru membawa kita ke hal-hal negatif yang memiliki dampak buruk. Sebisa mungkin untuk tetap menjaga kesehatan dan melakukan hal baik yang lebih bermanfaat.

To Top