Family

Mendidik Anak dengan cara menakuti anak!

Mendidik Anak dengan cara menakuti anak

Ilmu dan pengetahuan tentang parenting sangatlah luas dan selalu berkembang dinamis. Parenting tidak hanya tentang cara mengasuh, merawat dan mendidik anak semata, namun ada peran yang sangat vital atas keterlibatan orang tua secara fisik maupun mental.

Perkembangan psikologis anak juga mesti diperhatikan lebih serius bagi para orang tua. Karena anak akan tumbuh dan berkembang dari keluarga dan lingkungannya. Segala sikap dan perilaku anak di masa dewasanya akan selalu bermuara dari bagaimana cara ia mempelajari norma dan moral di keluarga tempat ia tinggal.

Tanpa disadari, hampir semua orang tua sebenarnya telah membuat kesalahan ketika mendidik anak-anak mereka. Betapa tidak, salah satu cara yang sering mereka gunakan adalah dengan menakuti anak ketika berinteraksi langsung di kehidupan nyata.

Kebiasaan ini sudah tidak asing lagi bagi kita, entah itu dalam keluarga kita sendiri maupun dilingkungan tetangga sekitar kita. Semakin hari, kita pun mulai terbiasa menggunakan cara serupa ketika menghadapi perilaku anak-anak kita sendiri.

Menakuti anak sebagai cara mengalihkan perhatiannya.
Umumnya para orang tua menyadari bahwa menakuti anak-anak tidaklah baik, namun cara tersebut selalu terjadi berulang diberbagai kesempatan. Ada yang beranggapan dengan cara demikian dapat meredam keinginan ataupun perhatian anak. 

Misalnya :
“Awas ya, abang jangan merengek-rengek di Hypermart nanti. Disana ada satpam  yang setiap saat bisa menangkap abang, ” ujar kita untuk membuat anak diam ketika akan pergi berbelanja di pusat perbelanjaan Hypermart.

Setelah tiba di pusat perbelanjaan tersebut, biasanya orang tua malah memperkuat ucapan tadi dengan berkata; 
“Nah, abang lihat sendiri kan. Tuh ada satpam disana. Jadi abang jangan macam-macam ya didalam.”

Mendidik anak dengan cara menakuti seperti itu selalu terjadi dimana-mana. Dan, banyak subyek yang bisa dijadikan ‘role model’ untuk itu, entah Pak Satpam, Pak Polisi, Tetangga yang berkumis lebat dan bertampang sangar ataupun siapa saja yang mungkin ada disekitar kita. 

Yang paling ekstrem, banyak juga orang tua yang menggunakan ‘role model-nya’ dengan menyebut hantu, pocong dan segala macam mahluk lainnya.

“Adik jangan main ke pohon itu ya, nanti ketemu hantu yang suka makan anak-anak!”

Benar atau salah sikap kita menakuti anak-anak ?
Parahnya, para orang tua sebenarnya sadar cara tersebut tidak benar dan tidak baik. Alasan klise pun kerap menjadi pembelaan diri seperti :
“Yah, mau bagaimana lagi. Anak saya nakalnya minta ampun dan susah dikasih tahu baik-baik. “ 

Dan beragam alasan serupa selalu menjadi pembenaran atas tindakan seperti itu.

Tanpa dipungkiri, memang benar rata-rata anak dapat berhenti merengek ataupun menangis ketika kita bertindak seperti itu. Padahal, tanpa disadari kita telah berhasil menanamkan rasa takut sekaligus benci pada orang, institusi ataupun pihak lain yang kita jadikan sebagai subyek tersebut.

Ketika anak bertemu dengan mereka dilain hari, mental dan kepribadian anak akan tertanam “oh orang seperti itu harus saya takuti.” atau “ Ma, didepan ada pak Polisi…!”

Suatu ketika anak kita bersikap berlebihan terhadap seseorang atau hal lainnya, selaku orang tuanya kita sebaiknya  introspeksi diri. Bisa saja cara kita mendidik anak dengan menakuti mereka merupakan sebab utama mengapa anak kita seperti itu.

“Bu, temenin Adi pipis. Adi takut nanti ketemu hantu dikamar mandi….” 
Perkembangan psikologis anak juga harus mendapatkan perhatian kita, untuk itu kita harusnya bisa bersikap lebih baik dalam mendidik mereka. Hindari menggunakan cara menakuti anak untuk mendidik mereka.

Mendidik Anak dengan cara menakuti anak

Bagaimana solusi terbaik menghindari cara mendidik dengan menakuti anak ?
Langkah yang dinilai paling efektif adalah dengan berkata jujur pada anak dan kemudian memberikan pengertian kepada mereka dengan cara yang lembut dan sopan. 

Ketika anak diberikan pengertian dengan cara yang tepat, akan membuat mereka dapat belajar dan lebih matang dalam berpikir sehingga bisa memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik dimasa yang akan datang.

Agar lebih maksimal, tentu saja anak-anak butuh contoh yang nyata untuk ditiru. 

Siapa mereka ? Tidak lain adalah kita selaku orang tua mereka ! 
Jadi, berusaha menjadi pribadi yang baik dimata mereka bisa kita tunjukkan dengan cara memperbaiki diri kita sendiri terlebih dahulu, baik itu sikap maupun perilaku lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top