Family

Phobia Pengaruhi Perkembangan Anak

Phobia Pengaruhi Perkembangan Anak

Jangan abaikan jika anak Anda phobia terhadap sesuatu, misal phobia ketinggian, hewan atau jenis makanan tertentu. Sebab, phobia dapat menghambat perkembangan motorik dan tumbuh kembang anak.

Psikolog, Maria Jovita Ferliana, Mpsi mendefinisikan phobia adalah sebagai ketakutan yang berlebihan pada suatu objek tertentu padahal orang lain tidak takut pada objek tersebut. Sebagai contoh; orang lain sangat menyukai kucing, tetapi si anak phobia pada kucing.

Dalam talk show kesehatan di ElshintaTV,  Maria Jovita menguraikan, anak bisa dikategorikan phobia terhadap suatu objek bila ketakutan tersebut telah berlangsung lebih dari 6 bulan. Jika baru satu dua bulan memiliki ketakutan berlebihan pada suatu objek, belum dapat dikategorikan sebagai bentuk phobia.

Dua ciri yang paling mudah dikenal dari anak penderita phobia adalah;

  1. Terjadi perubahan fisiologi ketika bertemu objek yang ditakuti, seperti dada berdebar-debar, kepala pusing, atau keluar keringat dingin.
  2. Anak berusaha menghindari suatu objek yang ditakuti.

“Jika phobia tidak segera diatasi dapat mengganggu perkembangan anak,” jelas Maria Jovita.

Phobia Pengaruhi Perkembangan Anak

Sebagai contoh, anak-anak usia prasekolah seharusnya banyak latihan motorik kasar dengan berlari, melompat, atau memanjat mainan seperti perosotan. Tetapi kalau anak phobia pada ketinggian, misalnya, anak jadi tidak maksimal dalam mengeksplor permainan. Dampaknya akan menghambar perkembangan motorik kasar anak.

Anak yang phobia terhadap jenis makanan tertentu juga dapat mengganggu perkembangan tubuhnya. Ambil contoh, anak phobia pada nasi sehingga tidak mau makan nasi. Padahal nasi dibutuhkan tubuh sebagai sumber karbohidrat.

Phobia pada anak dan orang dewasa memiliki motif berbeda. Orang dewasa phobia karena mengalami pengalaman traumatis. Sedangkan pada anak, phobia bisa terjadi karena missing informasi.  Misalkan, orangtua tanpa sadar menakut-nakuti anak dengan tujuan melindungi anak., padahal akan membuat si buah hati jadi phobia.

Sebagai contoh, orangtua berseru kepada anaknya,”Eh…eh jangan memanjat nanti jatuh, kepalamu hancur!”.

Informasi-informasi salah tersebut secara otomatis masuk dalam pikiran anak, sehingga mereka menjadi phobia pada ketinggian.

Contoh lain, orangtua phobia pada hewan tertentu. Ketika melihat hewan tersebut, ekspresi orangtua yang ketakutan membuat kaget si anak. Meski sang anak awalnya tidak mengerti, tapi mereka dapat merekam ekspresi ketakutan itu dan mampu memahami pesannya apa. Akhirnya anak menjadi phobia pada hewan yang ditakuti orangtuanya. Di sini orangtua memiliki peranan penting dalam memberikan informasi pada anak.

Baca Juga : Tahapan Penting Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Bagaimana mengatasi phobia, tergantung intensitasnya. Jika anak  terlalu sering mengalami ketakutan, peran psikolog bisa dilibatkan untuk mengatasi masalah tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top