Family

Tips Parenting: Fixed vs Growth Mindset Pada Anak

Beberapa waktu lalu ada artikel yang sempat viral di Facebook bertajuk “Tolong, jangan bilang anakku pintar!” dan membahas tentang fixed vs growth mindset pada anak. Sekilas kalimat tersebut terdengar biasa karena wajar saja seseorang meminta tolong, tapi coba cermati kalimat sisanya, “Jangan bilang anakku pintar!”. Sepertinya sudah hal lumrah ketika kita mengucapkan pujian “Pintar” untuk anak apalagi ketika mereka berprestasi. Namun tahukan Anda, berdasarkan sebuah penelitian kebiasaan tersebut justru berdampak negatif terhadap anak.

Fixed vs Growth Mindset

Kedua istilah tersebut muncul dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Carol Dweck yang kemudian hasilnya dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006). Dalam bukunya tersebut Dweck menekankan bahwa efek pujian seperti ”Anak Pintar” justru membuat anak cenderung tidak ingin mengambil risiko.

Penelitian dilakukan dalam dua kelompok anak untuk meneliti efek pujian yang diberikan. Kelompok I pujian diberikan karena ‘kepintaran’ mereka sementar Kelompok II pujian diberikan berdasarkan ‘usaha’ mereka, dan terdapat empat tahapan test yang sama untuk setiap kelompok.

Test pertama: setiap anak baik dari kelompok I dan kelompok II diberikan puzzle non-verbal yang mudah dan hasilnya rata-rata semua anak dari kedua kelompok bisa menyelesaikannya dengan baik.

Test kedua: pada tes kedua diberikan dua pilihan puzzle, pilihan puzzle pertama setingkat lebih sulit dari puzzle pertama dan pilihan puzzle kedua sama mudahnya dengan puzzle pada tes pertama. Hasilnya, sebagian besar anak kelompok I memilih puzzle yang mudah sama dengan test pertama sementara 90% anak-anak dari kelompok II justru memilih puzzle yang setingkat lebih sulit

Test ketiga: pada tes tahap tiga ini baik kelompok I dan kelompok II tidak diberikan pilihan puzzle dan harus menyelesaikan puzzle yang lebih sulit (jenis puzzle untuk anak 2 tahun lebih tua dari usia mereka). Hasilnya, semua anak gagal menyelesaikannya.

Test keempat: pada tahap terakhir anak-anak dari kedua kelompok diberikan puzzle yang tingkat kesulitannya sama dengan tes pertama, namun hasilnya akhirnya sangat berbeda. Kelompok I mengalami penurunan skor hingga 20% sementara Kelompok II justru mengalami peningkatan skor hingga 30%.

Fixed vs Growth Mindset

Fixed vs Growth Mindset

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah. Pada test pertama saat semua anak berhasil menyelesaikan puzzle dengan baik, kelompok I mendapat pujian bahwa mereka “pintar” dalam menyelesaikannya sementara kelompok II mendapat pujian karena “usaha” mereka sehingga hasilnya memuaskan. Pada tes kedua, saat setiap anak dari masing-masing kelompok diberikan pilihan puzzle, anak-anak dari kelompok I cenderung memilih puzzle yang lebih mudah karena bagi mereka penting untuk mempertahankan status “anak pintar” yang mereka terima sehingga beranggapaan lebih baik memilih puzzle yang mudah karena jika memilih yang sulit risikonya mereka akan kehilangan status “anak pintar” tersebut. Sementara kelompok II memilih puzzle yang lebih sulit walaupun kemudian hasilnya banyak yang gagal menyelesaikan dengan baik. Pendapat ini diperkuat ketika test ketiga diberikan, anak-anak dari kelompok I terlihat tertekan saat menyelesaikan test dan berkesimpulan bahwa mereka sebenarnya tidak pintar sementara anak-anak dari kelompok II justru terlihat lebih serius dan berusaha lebih keras karena menganggap kegagalan mereka di test kedua karena kurang fokus.

Lalu apa yang dimaksud dengan Fixed vs Growth Mindset? Kelompok I adalah contoh dari bentuk Fixed Mindset dimana anak-anak cenderung menganggap diri mereka pintar dan lebih mementingkan hasil akhir yang menunjukkan bahwa mereka memang pintar namun mereka tidak suka menghadapi kegagalan karena dengan begitu mereka akan kehilangan label “anak pintar” itulah mengapa mereka lebih suka menghindari tantangan, sementara Kelompok II adalah contoh dari bentuk Growth Mindset diamana anak-anak akan memiliki pemikiran bahwa untuk mencapai sesuatu merekalah yang memegang kendali, apabila mereka sukses maka itu adalah hasil dari upaya mereka dan ketika mereka gagal itu artinya usaha mereka kurang maksimal dan justru terpacu untuk berusaha lebih keras lagi.

Sebagai orang tua tentunya ingin yang terbaik untuk anak mereka dan berhenti memberikan pujian “anak pintar” tidaklah terlalu sulit hanya saja hal ini sudah menjadi kebiasaan lama. Cobalah Anda praktikkan ketika ada orang lain yang memuji anak Anda dengan “anak pintar” kemudian Anda justru menjawab “Tolong, jangan bilang anakku pintar!” kira-kira tanggapan seperti apa yang akan Anda terima? Happy parenting!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top