Health

4 Resiko Sulit Mendapatkan Anak

Hampir semua pasangan yang menikah menantikan kehadiran seorang anak yang akan menjadi penerus generasi keluarga atau pun menjadi penolong di masa tua nantinya. Anak juga diyakini sebagai bukti adanya suatu ikatan cinta dan kasih antara suami dan istri. Sehingga, ketika suatu pasangan suami istri tidak segera mendapatkan momongan, banyak yang merasa gagal dalam pernikahan. Padahal anggapan tersebut tentu tidak sepenuhnya benar karena meski tanpa ada anak dalam pernikahan tersebut seharusnya ini tidak mempengaruhi kebahagiaan mereka.

Setiap pasangan suami istri tentu memiliki kesepakatan dan privasi atas kelangsungan kehidupan dan kebahagiaan mereka. Dalam masyarakat kita, ada beberapa ketakutan dan resiko yang akan ditanggung ketika seseorang tidak segera mengatasi masalah yang menyebabkan mereka tidak bisa cepat hamil.

Beberapa resiko tersebut antara lain:

1. Semakin tua usia, semakin sulit memiliki anak

Faktor usia memang memberikan banyak pengaruh terhadap peluang kehamilan seseorang. Masa terbaik dalam kehidupan seseorang untuk bisa mendapatkan kehamilan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Tentu saja, ketika seseorang mulai menua maka fungsi tubuh mereka juga mengalami penurunan termasuk tingkat kesuburan reproduksi mereka. Meski demikian, usia di atas 30 tahun juga masih memungkinkan untuk bisa mendapatkan peluang hamil. Hal ini terbukti dengan adanya banyak orang mengandung di usia yang sudah cukup matang. Kehamilan memang 100% merupakan kuasa Tuhan.

Dengan usia yang semakin bertambah, peluang kehamilan mungkin akan semakin kecil. Namun, ketika peluang tersebut masih ada sekecil apapun, kita hendaknya tidak berputus asa. Melakukan konsultasi dengan ahli kesehatan akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang kondisi kesehatan kita. Menjaga pola hidup lebih sehat, mengurangi stres dan lelah, serta senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan bisa menjadi salah satu cara agar bisa tetap berpikir positif dalam menjalani kehidupan.

2. Rasa frustrasi dan tekanan mental

Banyak pasangan merasa frustasi dan stres ketika mereka belum juga mendapatkan kehamilan saat usia mereka sudah semakin menua. Hal ini tentu sangat wajar terjadi. Namun, daripada merasa stres yang akhirnya membuat tertekan yang akhirnya semakin memperkecil kemungkinan untuk hamil, mereka sebaiknya bisa lebih terbuka dan bersyukur dengan keadaan mereka. Mereka bisa tetap menikmati dan menjalani kehidupan mereka sambil terus berusaha dan berdoa. Kehamilan merupakan sebuah takdir dan karunia dari Tuhan.jadi, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa dengan giat untuk mendapatkan keajaiban tersebut.

Resiko Sulit Mendapatkan Anak

Rasa frustasi dan tekanan mental karena kesulitan mendapatkan anak hanya akan membuat kondisi semakin buruk. Meski tujuan menikah salah satunya adalah untuk mendapatkan keturunan, namun, ini bukan suatu keharusan sehingga akhirnya menjadi suatu tuntutan. Masalah kehamilan sebaiknya menjadi pembicaraan bersama suami istri bahkan ketika ada masalah yang menyebabkan kesulitan mendapatkan kehamilan. Selama mas penantian hadirnya seorang anak, pasangan suami istri bisa kembali menikmati masa-masa untuk melakukan hal yang menyenangkan seperti saat awal menikah.

3. Kekhawatiran di masa tua

Memiliki anak merupakan salah satu tujuan dari pernikahan. Banyak pasangan ingin mendapatkan anak karena mereka ingin ada seseorang yang merawat mereka ketika tua nanti. Meski demikian, pasangan yang kesulitan untuk mendapatkan anak hendaknya tidak khawatir secara berlebihan tentang masa tua mereka. Mereka bisa mempersiapkan kehidupan masa tua mereka mulai dari sekarang. Saat ini, ada banyak asuransi yang menyediakan layanan hari tua. Dengan demikian, bila suatu kondisi terjadi dan membutuhkan perawatan, maka pihak asuransi bisa membantu mereka.

Selain itu,tidak ada jaminan bahwa pasangan yang memiliki anak akan bahagia dan tenang kehidupannya di masa tua. Bahkan, tidak sedikit anak yang meninggalkan orang tua mereka saat tua. Tanpa kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangga tidak lantas membuat kebahagiaan menjadi tak sempurna. Mereka bisa melakukan banyak hal termasuk berbagi dengan sesama terutama yang kekurangan, anak yatim, atau pun lainnya sehingga ketika masa tua tiba, mereka masih memiliki banyak orang yang menyayangi dan bersedia membantu mereka ketika kesulitan.

4. Resiko terjadinya perceraian

Salah satu resiko paling mengerikan ketika pasangan suami istri tidak memiliki anak adalah perceraian. Perceraian menjadi momok bagi banyak pasangan yang kesulitan mendapatkan anak. Sebenarnya tidak ada hukum mana pun yang menyebutkan adanya masalah anak menjadi suatu penyebab dan alasan pasangan bercerai. Namun, masalah anak tersebut biasanya membawa efek munculnya berbagai perselisihan dan pertengkaran pada keduanya yang akhirnya membuat kehidupan rumah tangga menjadi tidak menyenangkan sehingga berujung pada perceraian. Oleh karena itu, bagi pasangan yang akan menikah atau pun yang sudah menikah sebaiknya senantiasa membuka pintu komunikasi yang baik di antara sesamanya termasuk masalah anak. Mereka hendaknya mulai membicarakan kemungkinan terburuk dalam pernikahan mereka termasuk masalah kesulitan anak tersebut.

Jangan merasa terbebani dengan kondisi di mana penantian kehadiran seorang anak tak kunjung datang. Pasangan tersebut sebaiknya mulai memikirkan kembali komitmen awal mereka menikah sehingga mereka bisa mulai membuka pintu kebahagiaan meski tanpa ada anak. Sebenarnya pemicu rasa stress dan tertekan saat pernikahan tak kunjung dikaruniai momongan adalah pihak ketiga seperti keluarga, tetangga, atau pun orang sekitar lainnya.

Mereka seringkali memunculkan desakan, cibiran, dan sindiran yang akhirnya bisa membuat stres. Dalam hal ini, pasangan suami istri hendaknya bisa saling mendukung sehingga bisa membentengi rumah tangga mereka dengan lebih kuat dari tekanan dari luar dan dalam diri mereka terkait dengan masalah anak sehingga mereka tetap bisa merasa bahagia. Dan, yang pasti, pasangan suami istri hendaknya tetap optimis karena kehamilan dan anak merupakan rejeki dan keajaiban yang Tuhan berikan. Jadi, meski mungkin dokter memvonis salah satu atau pun keduanya memiliki masalah reproduksi, ini sebaiknya tidak langsung membuat pasangan tersebut terbebani. Mengembalikan semua yang terjadi kepada Tuhan akan membuat pernikahan menjadi lebih indah, langgeng, dan bahagia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top