Health

Ditembakkan Polisi Saat Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Ini Efek Menghirup Gas Air Mata

Efek Gas Air Mata Seperti yang Ditembakkan Saat Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

127 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka akibat insiden kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Untuk mengurai kerusuhan tersebut aparat diketahui menembakkan gas air mata.

Banyaknya suporter yang turun ke lapangan direspons polisi dengan menghalaunya menggunakan tembakan gas air mata. Tembakan gas air mata itu lalu menimbulkan kepanikan, sehingga para suporter panik, berlarian hingga akhinya terinjak-injak.

Setelah ramai diberitakan karena kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, lantas apa bahayanya menghirup gas air mata?

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan: Apa Efek Saja Menghirup Gas Air Mata?

Terpapar gas air mata dapat mengakibatkan iritasi pada sistem pernapasan, kulit dan mata. Sementara tingkat keparahan gejalanya bergantung pada seberapa banyak dan jarak paparan gas air mata.

Lihat Juga: Arema FC Dikalahkan Persebaya, Suporter Ngamuk Rusak Lapangan 127 Orang Meninggal

Melansir laman Healthline, umumnya orang yang terpapar gas air mata bisa sembuh tanpa komplikasi. Namun, orang yang menghirup gas air mata terlalu banyak atau mempunyai kondisi medis tertentu dapat mengalami gejala lebih parah, seperti kebutaan, gagal napas, bahkan kematian.

Beberapa efek yang umum dialami setelah terpapar gas air mata:

  • Mata berair
  • Mata gatal
  • Mata terasa terbakar
  • Luka bakar di area mata
  • Pandangan kabur
  • Kebutaan

Efek Gas Air Mata Pada Pernapasan

Menghirup gas air mata juga bisa mengakibatkan iritasi pada hidung, tenggorokan dan paru-paru. Orang dengan riwayat gangguan pernapasan berisiko lebih tinggi mengalami gagal napas. Beberapa efek yang ditimbulkan yaitu:

  • Rasa terbakar dan gatal di tenggorokan
  • Kesulitan bernapas
  • Batuk
  • Dada sesak
  • Mual
  • Muntah
  • Gagal napas

Sudah Dilarang FIFA, Kenapa Polisi Tembakan Gas Air Mata di Stadion?

Tembakan gas air mata oleh kepolisian saat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan jadi sorotan. Menurut regulasi FIFA terkait Keselamatan dan Keamanan Stadion, dilarang menggunakan gas air mata atau gas pengendali massa.

Namun kenyataannya regulasi FIFA yang seharusnya dipatuhi PSSI, penyelenggara kompetisi, klub hingga panitia penyelenggara tidak dijalankan.

Polisi yang mengamankan laga Arema FC vs Persebaya pada Sabtu (1/10/2022), menembakkan gas air mata ke arah tribune penonton untuk menenangkan Aremania yang marah setelah tim kebanggaannya dikalahkan Bajul Ijo, 2-3.

Larangan FIFA terkait penggunaan gas air mata tersebut tercantum pada Bab III soal Stewards, pasal 19 tentang Steward di pinggir lapangan.

“Dilarang membawa atau menggunakan senjata api atau gas pengendali massa,” tulis regulasi FIFA.

Sementara Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta menuturkan pihaknya melepaskan tembakan gas air mata dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan itu karena suporter yang tidak puas turun ke lapangan. Mereka melakukan tindakan anarkis dan mambahayakan keselamatan pemain serta ofisial.

“Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen,” ujar Nico mengutip Antara.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top