Health

Ganja Medis Direstui PBB, Ini Potensinya Di Dunia

Ganja Medis Direstui PBB, Ini Potensinya Di Dunia

Komisi Obat Narkotika PBB telah menghapus ganja dari kategori obat berbahaya untuk alasan medis. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan voting yang diikuti oleh 53 negara anggota. Dari 53 negara tersebut, 27 suara mendukung dan mengijinkan ganja medis. Sedangkan 25 suara merasa keberatan dan satu suara memilih abstain.

Perubahan kategori tersebut dilakukan untuk mempermudah industri medis dalam menggunakan ganja untuk tujuan pengobatan. Rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghapus ganja dari Jadwal IV Konvensi Tunggal 1961 tentang narkotika, pada januari 2019 lalu. Sebelumnya, Ganja termasuk dalam daftar opioid berbahaya dan adiktif layaknya heroin.

Karena perubahan kategori tersebut, maka membuka dan memperluas penilitian ganja di seluruh dunia. Ganja sendiri menjadi komoditas legal di beberapa negara, dan pasarnya diproyeksikan terus meningkat. Dikutip dari detikcom, riset Precedence Research mencatat pasar ganja legal memiliki nilai US$ 17,5 miliar atau sekitar Rp 246,75 triliun pada tahun 2019. Pasar ganja tersebut diperkirakan terus naik hingga senilai Rp 917,91 triliun pada 2027 mendatang.

Saat ini ganja medis mengalami peningkatan permintaan karena menjadi pilihan para pasien yang menderita masalah medis nyeri kronis atau kejang. Menurut peneliti dan Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Balitbangtan, Dr. Evi Savitri. Di Indonesia ganja termasuk ke dalam narkotika golongan 1, yang berarti untuk tujuan pengobatan pun tidak diijinkan. Namun, tetap ada terbuka peluang untuk mengembangkan ganja medis.

“Tapi untuk pengembangan medis masih punya peluang, selama dilakukan oleh lembaga yang berkompeten dan memperoleh izin untuk melakukan penelitian,” Kata Dr. Evi, Jumat (4/12/2020).

“Sebenarnya kita juga ada penelitian walaupun skalanya kecil, tapi memang mungkin tidak diumumkan ke publik,” pungkasnya.

Terkait penelitian ganja tersebut, kata Dr. Evi sudah ada sejak dulu tapi sangat dibatasi. Ia pun menyakini kalau beberapa dokter di Indonesia sudah menggunakan ganja medis, namun tidak untuk diketahui banyak orang.

To Top