Health

Menkes Ungkap Tak Ada Hubungan Gagal Ginjal Akut dengan Covid-19

Gagal Ginjal Akut

Kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak di seluruh Indonesia kian mengkhawatirkan. Namun demikian, kasus kematian akibat gagal ginjal akut itu tidak ada kaitan dengan vaksin Covid-19 yang telah diikuti anak-anak di seluruh Indonesia.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ngabila Salama, menyatakan penyakit gagal ginjal akut misterius yang menjangkit anak-anak tak ada kaitannya dengan pemberian vaksin COVID-19. Dia menegaskan, sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan korelasi antara vaksin COVID maupun gagal ginjal.

“(Sebanyak) 80 persen balita yang belum mendapatkan vaksin COVID dan data-data di DKI juga tidak ada hubungan antara gagal ginjal akut dengan vaksinasi apapun, termasuk COVID maupun vaksin lainnya,” kata Ngabila dalam webinar yang diakses melalui YouTube Dinkes DKI Jakarta, Minggu (23/10/2022).

Merujuk kasus di Jakarta, Ngabil menyebut kasus meninggal akibat gagal ginjal akut disebabkan karena terlambat diagnosis maupun penanganan lanjutan. Ditambah lagi, adanya riwayat pasien mengkonsumsi obat sirup yang meningkatkan fertilitas.

Juru Bicara Kemenkes Muhammad Syahril juga menyampaikan bahwa tidak ada bukti dengan kejadian gangguan ginjal akut misterius ini dengan vaksin Covid 19 maupun infeksi virus tersebut.

“Walaupun banyak ditanyakan oleh masyarakat apakah ada kaitan antara gagal ginjal akut misterius ini yang merenggut 99 anak dan berseliweran informasi di media sosial dan Kemenkes selidiki, sehingga dipastikan gangguan gagal ginjal akut misterius ini tidak ada kaitan dengan vaksin Covid-19 maupun infeksi Covid-19 juga,” tegas Syahril.

Gangguan ginjal akut misterius ini pada umumnya menyerang anak usia kurang dari 6 atau 5 tahun. Sedangkan program vaksinasi Covid-19 itu belum menyasar anak dengan usia dari 1-5 tahun.

Obat Gagal Ginjal Akut dari Australia dan Singapura Tiba Hari Ini

MENTERI Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa obat untuk pasien gagal ginjal akut akan tiba hari di Tanah Air.

Obat penawar racun atau antidotum tersebut dibawa dengan hand carry atau dibawa langsung oleh petugas dari negara tersebut ke Indonesia. 

“Hari ini masuk, di-hand carry, dibawa langsung orangnya lewat pesawat,” ujar Budi dalam acara Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2022, Minggu (23/10). 

Dia mengatakan bahwa obat tersebut memang masih langka dan cukup mahal. Sehingga, dirinya langsung menelpon menteri kesehatan Australia dan Singapura.

Menurut Budi, obat itu diberikan 1 vial untuk 1 orang anak. Untuk obat dari Australia harganya mencapai Rp 16 juta per buah dan obat dari Singapura Rp10 juta. 

“Kita dapat dari Singapura 10 dari Australia 16, obat ini masih langka saya telepon menteri Singapura dan Australia langsung,” kata dia.

Anjuran Ganti Obat Sirup dengan Jenis Tablet-Supositoria

Kementerian Kesehatan pun meminta kepada masyarakat untuk sementara waktu tidak lagi mengkonsumsi obat sirup. Obat sirup dapat dikonsumsi jika ada saran dari dokter atau tenaga kesehatan.

“Kementerian Kesehatan mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk melakukan pengobatan anak sementara ini tidak mengkonsumsi obat dalam bentuk cair atau sirup tanpa berkonsultasi pada tenaga kesehatan, termasuk dokter,” ujar jubis Kemenkes dr Mohammad Syahril

Kata Syahril banyak jenis obat lain yang dapat dikonsumsi sebagai pengganti. “Sebagai alternatif, dapat menggunakan dapat menggunakan obat dalam bentuk sediaan lain, seperti tablet, kapsul, suppositoria, atau lainnya,” lanjutnya.

Kemudian dia meminta orang tua mewaspadai gejala gagal ginjal akut yang muncul pada anak-anak. Misalnya seperti penurunan jumlah atau volume urine dan frekuensi buang air kecil.

Diketahui kasus gagal ginjal akut misterius di Indonesia terus bertambah. Penyakit misterius ini pertama kali dilaporkan merebak di Gambia, Afrika Barat beberapa waktu lalu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil langkah antisipatif dengan melarang penggunaan dua bahan berbahaya yang diduga kuat menjadi pemicu gagal ginjal akut di Gambia. Dua bahan berbahaya yang biasa dicampur pada obat sirup itu yakni dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG).

“Untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat, BPOM telah menetapkan persyaratan pada saat registrasi bahwa semua produk obat sirup untuk anak maupun dewasa tidak diperbolehkan menggunakan dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG),” tegas BPOM melalui keterangan tertulisnya

BPOM menjelaskan, DEG dan EG merupakan kandungan dalam obat sirup yang biasa dipakai di Gambia. Obat sirup yang diduga menjadi pemicu gagal ginjal akut itu diproduksi oleh Maiden Pharmaceutical India.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top