Health

Delirium Sebagai Gejala Baru Seseorang Telah Terinfeksi Covid-19

Delirium Sebagai Gejala Baru Seseorang Telah Terinfeksi Covid-19

This post is also available in: English

Delirium – Seseorang yang terindikasi virus Covid-19 akan mengalami beberapa gejala pada tubuhnya seperti batuk, flu, sesak napas, lesu, sakit tenggorokan, hingga letih. Bahkan beberapa kasus terdapat seseorang yang positif Covid-19 ditandai dengan adanya masalah pada paru-parunya maupun mengalami pneumonia.

Namun, saat ini dikabarkan ada gejala baru yang mengindikasikan bahwa seseorang tersebut terjangkit virus Covid-19. Gejala baru yang dimaksud adalah Delirium. Gejala ini bukan berdampak pada fisik seseorang seperti nyeri maupun sesak, namun Delirium ini diketahui berkaitan dengan kondisi kesadaran, kognitif, dan psikis pasien.

Nah, kira-kira benarkah bahwa seseorang yang mengalami Delirium merupakan gejala awal terinfeksinya virus Covid-19? Berikut ini ulasannya.

Sekilas tentang Delirium

Delirium disebut-sebut sebagai gejala baru yang dialami oleh seseorang yang terinfeksi Covid-19 dimana gejala ini banyak dialami oleh sejumlah pasien yang sudah lanjut usia atau lansia. Menurut salah satu Dokter Spesialis Sarah Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada bernama dr. Fajar Maskuri, Sp.S., M.Sc mengungkapkan bahwa Delirium disebut sebagai gangguan sistem saraf pusat yang berupa gangguan kognitif yang mengakibatkan kebingungan dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan. Kondisi ini diakibatkan adanya disfungsi otak pada beberapa pasien Covid-19.

Seseorang yang mengalami Delirium akan merasakan kesulitan saat berpikir, disorientasi, gelisah, halusinasi, sulit berkonsentrasi, sulit mengingat, dan sulit tidur. Tanda-tanda seseorang yang terkena sangat sulit dikenali. Hal ini dikarenakan ciri-cirinya sangat bervariasi.

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini, kondisi tersebut dapat dikenali dari beberapa gambaran di bawah ini, antara lain:

  • Gangguan kesadaran dan perhatian hingga koma
  • Gangguan kognitif berupa proses berpikir yang kacau, ketidakmampuan dalam membedakan antara realita dan bukan realita, disorientasi, dan rendah daya memori
  • Siklus tidur-bangun tidak teratur
  • Gangguan emosi dan kecemasan

Berdasarkan sebuah temuan dari Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy menunjukkan bahwa berkembangnya Delirium kemungkinan juga bergantung pada gejala neurologis. Menurut dr. Fajar Maskuri, Sp.S., M.Sc, gangguan neurologis dapat terjadi pada sekitar 42,2% pasien Covid-19. Sementara itu, bentuk gangguan neurologis yang sering dialami pada pasien Covid-19 meliputi nyeri otot sebanyak 44,8%, nyeri kepala sebanyak 37,7%, delirium sebanyak 31,8%, dan dizziness sebanyak 29,7%.

Nah, secara umum sebanyak 13-19% pasien Covid-19 yang berada di rumah sakit berpotensi mengalami delirium. Hal ini dikarenakan kondisi delirium memiliki sifat yang dinamis. Dengan persentase yang sedemikian rupa, sebenarnya hal ini sudah terjadi sejak lama, namun tanda maupun gejala Delirium sendiri seringkali tidak terdeteksi di awal karena banyaknya pasien dalam kondisi di bawah pengaruh obat penenang atau obat-obatan lain yang berefek menenangkan.

Penyebab Delirium pada pasien Covid-19

Banyak pasien yang terinfeksi Covid-19 ditandai dengan gejala Delirium sebagai gejala utama, bukan gejala Covid-19 yang umum terjadi seperti batuk, flu, dan lainnya. Kehadiran delirium sebagai gejala Covid-19 sebenarnya dikarenakan suatu kondisi.

Delirium yang terjadi pada pasien bisa disebabkan oleh virus Corona yang terlanjur menyerang otak. Selama ini, peneliti hanya memfokuskan untuk mempelajari kerusakan sistem pernapasan yang diakibatkan virus corona. Padahal setelah virus menginfeksi paru-paru, virus ini langsung menyerang bagian lain seperti otak, ginjal, bahkan seluruh organ tubuh.

Secara tidak langsung yang menjadi penyebab terjadinya delirium saat terinfeksi virus Corona yaitu

  • Virus menyerang otak
  • Virus yang menyerang paru-paru membuat tubuh kekurangan oksigen sehingga otak juga akan kekurangan oksigen. Hal itu tentunya mengganggu kinerja fungsi otak. Ketika otak terganggu, maka mental dan kognitif pun ikut terganggu
  • Virus corona membuat darah menjadi kental. Apabila darah semakin kental, maka aliran darah akan terganggu. Hal itu mengakibatkan pasien Covid-19 terkena stroke.

Berdasarkan sebuah temuan dari Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy, Delirium terjadi dipicu oleh tiga faktor, yaitu:

  • Hypoxia
    Saat jaringan otak kekurangan oksigen, maka akan menyebabkan pembengkakan pada saraf dan ederma. Hal ini mengakibatkan kerusakan pada otak
  • Peradangan
    Peradangan akan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh aktif secara berlebihan sehingga menyerang organ-organ. Dari situlah dapat merusak fungsi otak.
  • Toksisitas Neuronal
    Kondisi ini dianggap sebagai sebuah komplikasi yang jarang terjadi dimana virus Covid-19 secara langsung mengganggu fungsi saraf pada tingkat sel, bahkan sebelum mencapai rongga paru-paru.

Seseorang yang Mudah Terserang

Delirium rentan terjadi pada pasien Covid-19 yang sudah lanjut usia atau berusia 65 tahun. Delirium mudah menyerang lansia terutama yang memiliki kondisi tubuh lemah. Meskipun demikian, bukan berarti pasien Covid-19 yang berusia muda tidak bisa terkena delirium. Pasien berusia muda bisa terkena delirium karena adanya ensefalopati yang diakibatkan dari gangguan pernapasan berat.

Sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Network Open dimana studi ini menunjukkan bahwa sekitar 28% pasien Covid-19 lansia yang mengalami Delirium. Tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan Massachusetts General Hospital pun menemukan sekitar 817% pasien Covid-19 yang berusia 65 tahun ke atas mengalami kondisi ini.

Baca Juga : Tips Mencegah Penularan Virus Corona (COVID-19)

Nah itulah informasi mengenai kondisi Delirium yang disebut-sebut sebagai gejala baru terinfeksinya virus Covid-19 pada tubuh seseorang. Meskipun demikian, hingga saat ini, Centers for Disease Control and Prevention yang ada di Amerika Serikat belum menganggap secara resmi mengenai dilerium sebagai gejala baru dari Covid-19. Namun, banyak peneliti yang berharap kepada CDS untuk memasukkan delirium sebagai gejala awal infeksi virus corona ke dalam pedomannya.

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top