Health

Mitos Malam Pertama dalam Kacamata Medis

Malam pertama tentu tak lepas membayang-bayangi bakal pengantin baru. Malam yang indah dan mesra, mendadak menjadi mimpi yang indah setiap malam. Adegan-adegan dalam film romantis terbayang, berharap dapat mendapatkan malam pertama seperti itu.

Namun, adalah hal wajar, jika menjadi pengantin baru pun membuat Anda was-was akan apa yang terjadi di malam pertama nanti. Beragam cerita orang seperti tentang betapa menyakitkan malam pertama itu terjadi, membuat Anda sedikit merinding. Anda menjadi tidak siap dan ragu. Hal itu tentu meresahkan. Sudah selayaknya sepasang suami istri berhubungan intim dan semua itu dimulai dengan malam pertama.

Tentu, Anda tidak ingin segala isu tidak mengenakkan tentang malam pertama merusak angan-angan Anda. Untuk itu, Anda perlu tahu lebih dulu mitos-mitos malam pertama. Siapa tahu di antara mitos tersebut, pemikiran Anda salah satunya, sehingga Anda tidak perlu risau lagi karena itu hanya mitos. Tak lupa, kami juga menyertakan fakta medis untuk lebih meyakinkan Anda. Berikut rangkuman kami.

Selaput Dara dan Kaitannya dengan Keperawanan

Penetrasi yang terjadi pada pertama kali berhubungan intim bisa menyebabkan darah keluar dari vagina dan itulah yang menjadi penentu apakah seseorang masih perawan atau tidak ketika itu.

Faktanya, selaput dara tidak semuanya sama. Ada beberapa yang bersifat elastis sehingga ketika wanita mendapat respon seksual yang baik, selaput dara akan tetap melentur sehingga memungkinkan selaput dara tidak robek bahkan sampai melahirkan. Selaput dara yang tidak robek tentu tidak menyebabkan pendarahan. Selain itu, robeknya selaput dara pun bukan satu-satunya disebabkan karena penetrasi. Selaput dara bisa robek sebelum malam pertama terjadi, bisa jadi disebabkan oleh kecelakaan yang membentur vagina sehingga berakibat merobek selaput dara.

Malam Pertama itu Menyakitkan

Mitos satu ini biasanya menghantui kaum wanita. Mereka khawatir tidak dapat menahan sakit saat terjadinya penetrasi. Beberapa pria pun takut menyakiti istrinya karena mitos ini.

Faktanya, hubungan intim yang dilakukan pertama kali tidak selalu menyakitkan. Semua tergantung bagaimana respon seksual itu terjadi, dalam hal ini, sukses atau tidaknya foreplay lah yang menjadi penentu. Jika wanita terangsang, vagina akan secara otomatis mengeluarkan lendir yang membantu membasahi liang vagina sehingga rasa sakit yang terjadi akibat penetrasi akan berkurang. Vagina yang masih terlalu kencang memang menyebabkan rasa sakit ketika penetrasi terjadi. Maka, diperlukan foreplay untuk merilekskan vagina tersebut.

Malam Pertama adalah Penentu Hubungan Seks Berikutnya

Banyak yang mengatakan, jika malam pertama berhasil maka hubungan seks di malam-malam berikutnya akan berhasil pula. Begitu pun ketika malam pertama mengalami kekecewaan, seperti ejakulasi dini atau rasa sakit yang dialami wanita karena penetrasi, maka malam-malam berikutnya pun akan buruk atau malah menyebabkan kedua pasangan malas berhubungan lagi.

Faktanya, sudah menjadi naluri masing-masing pengantin baru untuk terus mencoba berhubungan lagi meski malam pertama gagal. Sebab, seperti yang kita ketahui, pasangan yang baru menikah sangat membutuhkan berhubungan seksual dan wanita sebagai istri pun memiliki setidaknya kesadaran untuk melayani suami dalam hal tersebut. Biasanya, rasa sakit ataupun ejakulasi dini yang menggagalkan malam pertama tersebut akan kecil kemungkinannya terjadi lagi seiring berkurangnya ketegangan yang pengantin baru rasanya. Mitos ini, bisa diatasi secara psikologis. Tenanglah dan terus mencoba.

Film Biru adalah Ideal

Banyak pasangan yang berpikir bahwa menonton film biru adalah salah satu cara belajar menghadapi malam pertama. Sehingga tidak jarang pasangan yang menjadikan semua adegan bahkan gerakan dalam film biru adalah seks yang ideal.

Faktanya, belajar dari film biru sangat tidak dianjurkan. Setiap pasangan, terutama wanita membutuhkan ketenangan, belaian sebagai foreplay dan psikologis yang baik. Tidak seperti adegan di film biru yang kebanyakan tidak runut, terburu-buru dan menampilkan adegan yang nyaris tidak mungkin seperti berhubungan dengan foreplay singkat tapi bisa mencapai orgasme. Padahal, dalam kacamata medis dan psikolog, wanita membutuhkan foreplay hingga terangsang setidaknya sampai 30 menit. Waktu tersebut dirasa ideal untuk memberikan wanita respon seksual yang baik. Ingat, semakin sukses foreplay, semakin kecil pula kemungkinan rasa sakit yang dialami wanita ketika penetrasi. Ingatlah pula bahwa film biru tetaplah sebuah film, di mana setiap pemainnya tentu saja berakting.

Tidak Orgasme = Gagal!

Banyak pasangan yang membayangkan bahwa malam pertama akan sangat indah dan hebat, sehingga orgasme sangat mungkin terjadi. Ditambah gairah yang menggebu sebab baru pertama kalinya berhubungan seks, orgasme seolah dianggap wajib terjadi ketika malam pertama.

Faktanya, foreplay yang tidak berhasil sehingga menyebabkan rasa sakit dan ejakulasi dini membuat orgasme kedua pasangan sulit terjadi. Faktanya, siklus respon seksual pria dan wanita berbeda dan membutuhkan waktu setidaknya berhari-hari untuk menyesuaikan diri agar mencapai orgasme bersama. Banyak pasangan yang justru baru merasakan kenikmatan setelah berhubungan pada hari-hari berikutnya.

Malam pertama memang beraneka rasanya. Berdebar-debar, menggairahkan, membuat gugup bahkan takut. Apa pun, jangan sampai ketakutan pada malam pertama membuat Anda ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ajak pasangan untuk terbuka sehingga terjalin komunikasi yang baik demi kesuksesan malam pertama. Tidak perlu malu, Anda melakukannya ketika sudah menjadi suami istri—sudah berkomitmen sehidup semati, bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top