Health

Obat Apasih Ivermectin? Obat ‘Terapi Covid-19’ Atau Obat Cacing?

Ivermectin Obat ‘terapi Covid-19’

Obat anti parasit Ivermectin kabarnya telah mendapat lampu hijau dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) sebagai obat terapi COVID-19. Rencananya obat ini bakal diproduksi oleh PT Indofarma, Tbk dengan kapasitas 4 juta obat setiap bulannya.

“Hari ini pula kami akan menyampaikan obat Ivermectin obat antiparasit telah keluar hari ini telah mendapat izin BPOM,” kata Erick Thohir, Menteri BUMN RI pada, Senin (21/6/2021).

Lihat Juga: Klaim Obat COVID-19, Video Anji – Hadi Pranoto Dihapus Oleh Pihak Youtube

Termasuk Obat Keras

Ivermectin tergolong obat keras, yang berarti hanya dapat digunakan sesuai resep dokter. Penggunaan dalam jangka panjang tanpa adanya indikasi medis dapat menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang ditimbulkan akibat penggunaan yang tak sesuai indikasi yaitu:

  • Ruam kulit
  • Pusing
  • Nyeri otot atau sendi
  • Diare
  • Sembelit
  • Sindrom Stevens-Johnson
  • Mengantuk

Ingat Ivermectin Bukan Obat COVID-19!

Menteri BUMN RI Erick Thohir menegaskan obat ini bukanlah obat COVID-19 tetapi obat ‘terapi COVID-19’. Ivermectin sendiri bukanlah obat baru di Indonesia. Obat ini terdaftar sebagai obat cacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis). Biasanya diberikan untuk pemakaian satu tahun satu jali dalam dosis tunggal 150-200 mcg/kg berat badan.

Dalam uji in-vitro, obat satu ini terbukti berpotensi antivirus. Uji tersebut dilakukan untuk menemukan obat baru atau obat yang telah digunakan untuk penyakit lain, namun diduga berpotensi untuk pengobatan virus Corona.

Lihat Juga: Obat Corona “Avigan” Belum Mampu Obati Penderita Covid-19

Uji Klinis Baru Akan Dimulai

Sementara, dr Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pengendalian dan Pencegahan penyakit Menular Kemenkes, mengatakan uji klinis obat ini baru akan dimulai. Karena itulah belum ada kepastian hasil dari keamanan atau khasiat Ivermectin untuk COVID-19.

“Belum (mulai uji klinis Ivermectin). Baru bakal dimulai,” tegas dr Nadia seperti dikutip dari laman detikcom, Selasa (22/6/2021).

Selain itu, juga menegaskan obat ini harus di bawah penanganan doker. Karena tidak seluruh pasien kemudian membutuhkannya.

To Top