Health

Sering Dikira Sama, Inilah Perbedaan Anosmia, Parosmia Dan Phantosmia

Anosmia Parosmia Dan Phantosmia

Saat ini, gangguan yang terjadi pada indera penciuman harus diwaspadai karena bisa menjadi tanda-tanda Covid-19. Anosmia, Parosmia, dan Phantosmia diketahui menjadi gejala baru Covid-19 yang baru-baru ini banyak didengar. Meskipun demikian, banyak orang yang salah mengira jika  anosmia, parosmia dan phantosmia termasuk satu istilah dengan makna yang sama.

Memang benar jika ketiganya itu sama-sama penyakit yang berhubungan dengan gangguan indera penciuman, namun ada perbedaan di antara ketiganya. Lalu, apa perbedaan dari ketiga gangguan pada indera penciuman tersebut? Yuk simak baik-baik ulasannya di bawah ini.

Pengertian Anosmia, Parosmia dan Phantosmia

Anosmia

Anosmia merupakan suatu hilangnya kemampuan seseorang dalam mencium bau, bahkan kondisi ini juga bisa menghilangkan kemampuan pasien dalam merasakan makanan. Ini bisa menjadi kondisi sementara maupun permanen. Kondisi ini tentunya dapat mempengaruhi hidup seseorang. Hal itu dikarenakan pasien tidak bisa lagi mencium bau-bauan dan merasakan makanan sehingga akan memicu kehilangan nafsu makan yang mengakibatkan berat badan turun, kekurangan gizi, hingga depresi.

Gejala dari anosmia pastinya dimulai dari hilangnya kemampuan penciuman. Sebagai contoh penderita anosmia bisa saja tidak sadar telah menghirup gas beracun, tercemar yang sangat membahayakan bagi kesehatan.  Bahkan seseorang yang menderita anosmia mungkin tidak sengaja memakan makanan yang basi karena mereka tidak dapat mendeteksi bau yang menandakan pembuskan.

Penyebab anosmia secara umum biasanya disebabkan oleh gangguan di dinding dalam hidung seperti pilek, rhintis non alergi, rhintis, sinusitis, flu, maupu kualitas udara yang buruk. Namun ada penyebab anosmia lainnya seperti:

  • Gangguan pada rongga hidung yang disebabkan oleh polip hidung, kelainan tulang hidung, dan tumor
  • Kerusakan pada otak dan sistem saraf  akibat dari operasi ataupun trauma di kepala
  • Paparan bahan kimia beracun
  • Pengobatan radiasi untuk kanker kepala dan leher

Parosmia

Parosmia termasuk gejala baru Covid-19 yang baru-baru ini muncul. Kondisi ini bisa dikatakan hampir mirip dengan anosmia. Jika anosmia merupakan hilangnya kemampuan penciuman dan perasa, maka Parosmia adalah suatu kondisi yang membuat penderita mengalami gangguan dalam mengidentifikasi suatu bau. Penderita parosmia mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengenali beberapa bau yang ada di lingkungan sekitar. 

Gejala utama parosmia yaitu mencium bau busuk terus-menerus meskipun saat itu berada di tempat yang berbau wangi. Banyak orang yang mengalami parosmia karena berbagai hal yang berbeda termasuk Covid-19. Menurut Professor Nirmal Kumar, ahli bedah Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) menjelaskan bahwa parosmia memiliki keterkaitan dengan saraf yang ada di otak khususnya saraf yang mengontrol indera penciuman. 

Parosmia terjadi karena disebabkan oleh kerusakan neuron yang berfungsi sebagai pendeteksi bau di hidung. Kerusakan neuron inilah yang menyebabkan hidung salah dalam menafsirkan bau yang diterima oleh bulbus olfaktorius yang memiliki fungsi untuk mendeteksi maupun menyaring bau. Selain itu, parosmia juga disebabkan oleh kondisi lain seperti:

  • Cedera di kepala
  • Paparan asap rokok dan bahan kimia
  • Efek samping dari pengobatan penyakit kanker
  • Tumor

Kondisi parosmia ini biasanya bersifat sementara. Neuron sebagai pendeteksi bau di hidung akan membaik seiring berjalannya waktu. Meskipun demikian, waktu pemulihannya pun berbeda sesuai dengan penyebab, gejala dan pengobatan yang dialami. Jika Parosmia disebabkan oleh faktor lingkungan, virus atau infeksi, pengobatan kanker maupun merokok, kemampuan mencium dapat kembali normal tanpa adanya pengobatan. Namun, waktu pemulihannya bisa membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 tahunan.

Phantosmia

Phantosmia merupakan suatu kondisi yang membuat seseorang dapat mencium bau yang sebenarnya tidak ada dimana hal ini sering disebut sebagai halusinasi penciuman. Umumnya penderita akan mencium bau seperti asap maupun bau sesuatu yang terbakar. Meskipun demikian, jenis bau yang tercium berbeda-beda setiap orang, bahkan baunya mungkin terus tercium maupun bisa datang dan pergi.

Kondisi ini juga dapat terjadi hanya sementara maupun permanen. Jika terjadi hal ini, seseorang harus waspada karena dapat menjadi gejala Covid-19.

Pada umumnya, kondisi ini disebabkan oleh masalah yang terjadi pada hidung maupun mulut diantaranya:

  • Pilek
  • Alergi
  • Infeksi sinus
  • Iritasi akibat merokok
  • Iritasi akibat kualitas udara yang buruk
  • Polip hidung
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Masalah gigi
  • Migrain
  • Paparan zat beracun yang berbahaya bagi sistem saraf
  • Pengobatan radiasi dari kanker

Selain itu, ada juga beberapa kondisi yang tidak umum yang bisa saja menjadi penyebab Phantosmia, meliputi:

  • Cedera pada kepala
  • Akibat pukul
  • Tumor otak
  • Neuroblastoma
  • Parkinson
  • Epilepsi
  • Alzheimer

Seseorang yang mengalami Phantosmia biasanya ditandai dengan gejala munculnya bau yang sebenarnya tidak ada. Mayoritas penderita akan mencium bau yang kurang menyenangkan maupun busuk. Beberapa jenis bau yang paling sering muncul seperti bau roti busuk, karet terbakan, asap rokok, bau logam, dan lainnya yang berbau tidak mengenakkan.

Meskipun demikian, terkadang penderita Phantosmia juga menemukan bau yang tidak pernah dihirup sebelumnya sehingga sulit untuk mendeskripsikannya. Untuk penderita yang mengalami Phantosmia parah, bisa membuat aktivitas sehari-hari menjadi terganggu. Bahkan kondisi ini bisa membuat nafsu makan turun sehingga mengalami penurunan berat badan drastis. Hal ini dikarenakan Phantosmia mempengaruhi indera perasa.

Perbedaan Anosmia, Parosmia dan Phantosmia

Kondisi Anosmia, Parosmia dan Phantosmia terkadang disalahartikan sebagai sesuatu yang sama, namun ketiganya ternyata berbeda. Meskipun gejalanya hampir mirip dan sama-sama berhubungan dengan masalah indera penciuman, namun ada beberapa hal yang membedakan.

Anosmia merupakan hilangnya kemampuan indera penciuman sehingga seseorang tidak bisa lagi menggunakan indera penciuman untuk mencium bebauan. Parosmia merupakan kondisi yang menyebabkan seseorang kesulitan dalam mengidentifikasi bau sesuatu sehingga terkadang mereka salah dalam mengenali bau apa yang dihirupnya. Sedangkan untuk Phantosmia merupakan halusinasi penciuman dimana seseorang dapat mencium bau yang sebenarnya tidak ada bau apa-apa.

Jika kalian merasakan gejala-gejala yang merujuk pada ketiga gangguan indera penciuman di atas baik itu Anosmia, Parosmia, dan Phantosmia, sebaiknya langsung konsultasikan ke dokter. Tanyakan apakah gejala yang dialami ini menunjukkan gejala Covid-19 atau hanya penyakit gangguan indera penciuman biasa. Semoga bermanfaat.

To Top