Inspirasi

Aku Mencintainya. Meski Dia, Wanitaku yang Pemarah

“Kau tahu apa yang membuat kopi ini terasa semakin nikmat?” Aku menciptakan bunyi berdenting, dari secangkir kopi yang kutaruh di atas sebuah piring kecil. Kopi hitam tanpa gula, yang menurutku hangat dan cocok diminum di teras rumah hujan-hujan begini.

“Entahlah. Aku tidak pernah mengerti kebiasaanmu itu. Apa menariknya kopi tanpa gula? Kau benar-benar menyiksa dirimu sendiri,” Kartini mulai menggerutu, seolah mendapat kesempatan untuk itu.

Beberapa menit yang lalu, dia memang sudah dibuat kesal olehku. Pasalnya, benang wol di tangan Kartini sekarang ini berwarna hijau, bukan biru seperti yang tadi pagi Kartini katakan saat memintaku pergi membelinya ke pasar kain.

“Aku suka warna hijau. Air berwarna hijau tidak masalah kan?” aku membuat alasan.

“Ini untuk laut, Galindra! Aku sedang membuat kristik bergambar sebuah rumah di tepi laut. Bagaimana bisa aku membuat laut dengan warna hijau?” Kartini sungguhan teriak.

Tapi, aku justru merasa dia lucu. “Marahmu selalu berhasil menggodaku, Kar.” Aku merogoh saku celana panjang, mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Itu berbentuk gumpalan berwarna biru.

“Kau menyebalkan!” gumpalan benang wol berwarna biru dihempaskan begitu saja oleh Kartini, hingga terpental jauh ke halaman rumahnya yang lapang, mendarat di genangan lumpursukses menjadi kotor dan tidak bisa terpakai lagi.

Aku bengong sementara Kartini masuk ke rumah dengan mengentakkan kaki, membanting pintu hingga jendela bergetar.

Para tetangga yang kebetulan lewat, ternyata menyaksikan entah sejak kapan. Mereka berbisik-bisik, sadar aku melihat mereka, kumpulan bising itu pergi setelah mengangguk sok menyapa.

Baiklah, ini salahku. Bercandaku keterlaluan. Tapi cara Kartini melempar wol ke genangan air pun tidak dibenarkan. Harusnya dia tidak cepat marah.

      **

Aku pernah balas marah besar karena sifat Kartini itu. Lebih tepatnya beberapa hari lalu saat Kartini membentak-bentakku di stasiun yang ramai orang, hanya karena aku salah mengantri untuk membeli tiket. Kepergian kami akhirnya batal. Padahal, hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu sebagai hari berlibur yang sudah sangat kami rencanakan sebelumnya.

Kartini terlalu banyak membaca novel drama. Begitu menurutku, ketika mencoba berpikir apa kira-kira yang bisa membuat wanita tercintaku itu sangat berlebihan dalam menghadapi kemarahannya sendiri.

Cinta memang selalu bisa menerima apa adanya, tapi aku tidak ingin seperti itu. Yang saling mencintai harusnya saling membawa perubahan baik. Aku selalu menginginkan Kartini merubah sifatnya menjadi lebih baik. Menjadi lebih lembut layaknya seorang wanita dewasa.

      **

“Aku sudah mencobanya,” suara Kartini tertahan.”Berkebun, memelihara hewan, memasak, melakukan semua pekerjaan wanita dengan baik.”

“Di kolam itu,” Kartini mengarahkan dagunya ke sebuah kolam ikan yang begitu luas terpelihara di halaman rumahnya ini. “Tidakkah kau menyadari teratai di sana?”

Aku baru menyadari keberadaan bunga-bunga itu sekarang.

“Ya, Galindra. Itu adalah terataimu.”

Aku tertegun. Lima belas tahun sudah Kartini merawat teratai itu. Teratai pemberianku, padahal dulu Kartini meminta dibelikan sebuah mawar.

“Aku memang teratai itu, Galindra. Persis seperti yang kaubilang. Mempesona, tapi saat melihat ke dalamnya, yang ada dalam air hanyalah lumpur-lumpur kotor.”

Kartini menyeka cepat titik-titik air yang mulai menggantung di sudut matanya. “Demi Tuhan, Galindra. Aku sama sekali tidak mengira, pertengkaran karena teratai saat itu akan menjadi terakhir kalinya untukku bisa bertemu denganmu. Aku sudah mencoba. Aku sudah berhasil mengubah sifatku, tapi aku malah mendengar kabar itu.”

Aku pergi belajar ke luar negeri kemudian bekerja dan betah disana tanpa memberitahu Kartini. Ya, aku pergi karena tak tahan sifatnya yang pemarah. Tapi kini, 15 tahun setelah pertengkaran terakhir kami, aku kembali datang dan rasanya mantan pacarku itu telah banyak berubah.

Baiklah. Mungkin, meski terlambat sekian tahun, aku masih belum terlambat untuk melamar Kartini. Kami sama-sama lajang, belum menikah karena saling menunggu.

Cinta memang aneh begitu. Tak pandang siapa buruk, cinta tulus akan bertahan hingga lama.

Sekarang, andaikan Kartini belum berubah, aku tetap akan melamarnya. Karena setelah sekian lama, baru aku berani mengakui aku sangat mencintai wanita pemarah itu.

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top