Inspirasi

Banyak yang Mati karena Kerap Berpikir Rumit

Banyak yang Mati karena Kerap Berpikir Rumit

Daniel, nama pria itu. Matanya yang tampak lelah memandang ke luar jendela, lesu, meratapi nasibnya sendiri.

Dia adalah seorang pembicara dari seminar satu ke seminar lainnya, menyemangati anak muda yang ingin maju dan sukses.

Daniel merasa terhina. Anak muda yang dulu diberi petuah olehnya, kini lebih sukses, mobil anak-anak itu lebih mewah dan bergengsi.

Daniel tidak akan ke seminar lagi. Tiap di atas panggung, dia merasa, dalam pikirannya, anak-anak muda itu tengah menyombongkan diri pun menertawakan ketertinggalannya. Daniel semakin hari semakin kurus, karena pikiran, juga kelaparan. Tak ada penghasilan, tak ada yang ia kerjakan karena detik demi detik ia hanya sibuk mengutuk anak muda-anak muda itu.

Padahal, tak ada yang berani menertawakan Daniel. Semua orang, termasuk pemuda-pemudi itu, menghormatinya. Karena mereka merasa Daniel telah berjasa banyak atas keberhasilan mereka, maka mereka mengundang Daniel untuk emmebri motivasi lagi, sama sekali bukan untuk ditertawakan.

Tapi Daniel tak pernah sudi bicara tentang kesuksesan lagi. Dia gagal, karena pikirannya mengatakan demikian.

**

Kyle, nama wanita itu. Memandangi jalan dari jendela dengan wajah pucat, tak bergairah. Hujan tak jua reda dari matanya. Hatinya masih dipenuhi marah, kecewa, bercampur menyesal.

Ada waktunya ia meringis, menahan perih. Air matanya mengenai bopeng bekas jerawat di wajahnya yang semalam baru dipecahkan. Bopeng yang masih merah, menganga, perih.

Kyle menangis bukan karena kehilangan jerawat. Tapi karena habis bertengkar dengan kekasihnya.

Kapan hari, seorang wanita cantik melintas di depan jendelanya. Cantik, putih, mulus, hidung mancung, senyum merah merekah. Dulu sekali wanita itu pernah menjadi kekasih dari kekasihnya.

Kyle langsung bercermin setelah melihatnya. Ada jerawat. Kyle merasa kalah. Dipijit jerawat itu kuat-kuat, hingga meradang, hingga sekarang menjadi bopeng.

Padahal tak ada yang bilang Kyle buruk rupa atau kalah menarik. Dia cantik, manis, aura positif selalu membingkai senyum dan tatapannya. Kyle hanya merasa jelek, karena pikirannya mengatakan demikian.

**

Kyle dan Daniel bertemu. Aku memandang mereka berdua dari jendela kafe ini. Kyle masih sering menangis karena pikirannya sendiri. Daniel masih lesu, duduk di bangku di seberang Kyle, tersudut dari orang-orang yang lalu lalang.

Dasar motivator, melihat ada yang menangis, jiwa pembangkit semangatnya muncul. Dihampirnya Kyle dengan sebuah sapaan, “Wanita cantik, kenapa menangis?”

Kyle mengangkat wajah. Mendengar sapaan Daniel, Kyle tersenyum. Dalam hati ia terhibur, rupanya, masih ada yang menganggapnya cantik.

Daniel mengerjap tak percaya. Melihat senyum merekah dari bibir Kyle, ia seperti merasa hidup kembali. Berpikir, rupanya, dirinya masih bisa membuat orang lain yang menangis sesegukan menjadi tersenyum cerah begini.

**

Aku, seorang penulis yang sejak tadi memandangi Kyle dan Daniel dari jendela kafe ini. Akhirnya, aku semangat menulis lagi. Segera aku menandaskan kopiku, menaruh uang di atas meja dan melangkah ke luar kafe.

Sebelum datang ke kafe ini, pikiranku suntuk, naskah yang sedang kuselesaikan menemui jalan buntu. Aku berpikir, naskah tersebut akan gagal. Aku merasa tak akan bisa melanjutkan cerita, karena aku berpikir demikian.

Tapi melihat Kyle dan Daniel, dua orang yang kebetulan saling menyapa, yang namanya bukan Kyle dan Daniel, mereka hanya tokoh fiktifku saja, aku menjadi mengerti.

Jika kau berpikir bisa, maka kau akan bisa melakukannya. Jika sejak awal kau berpikir tidak bisa, maka kau akan sungguhan tidak bisa.

Awalnya, melihat seorang pria paruh baya menyapa seorang wanita muda cantik, membuatku hendak berpikir yang bukan-bukan. Semacam pria tua yang mengajak kencan wanita muda. Tapi, aku lebih memilih berpikir positif hingga aku bisa mengarang kisah hidup Kyle dan Daniel. Aku memilih berpikir positif, karena aku tahu, banyak manusia yang mati oleh pikiran rumitnya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top