Inspirasi

Beda Pendapat, Bukan Berarti Ayah Tak Sayang. Melunturkan Marah Hanya Butuh Waktu

Ayah sayang kepada anaknya

“Kyaaaa!”

Orang-orang, terutama perempuan-perempuan di sebelahku menjerit ngeri. Yang membawa anak mencoba menutupi mata anak mereka, tapi akhirnya anak-anak itu menangis juga. Yang sedang hamil mengelus perut mereka, ada juga yang mual, kabur saat itu juga.

Aku tidak berusaha menjauhkan diri dari mereka. Aku terus saja berjalan. Dengan darah merembes di seluruh pakaianku, mengalir dari kepala ke wajahku, aku berjalan dengan meneteskan banyak darah ke jalan protokol di kota ini.

Telapak tanganku berlubang, dalam dan terkoyak, entah besi apa yang menusukku tadi. Aku melepasnya karena membuat jalanku susah, akibatnya darah bercucuran terus begini.

Sementara orang-orang di sekitar menarik diri dari dekatku, hujan malah datang menyergap. Ampun, luka-luka di sekujur tubuh semakin perih tersiram hujan. Darahku kemudian mengalir bersama air, ada kalanya aku berdiam, istirahat sebentar, darah jadi menggenang.

Aku diam lagi. Kepalaku susah payah mendongak, memerhatikan layar televisi di sebuah kafe. Aku tidak peduli orang-orang di dalam kafe menjerit-jerit lagi, aku sudah biasa dianggap menyeramkan dan menjijikkan sejak 30 menit lalu.

Aku menonton televisi lagi. 30 menit lalu, persis seperti apa yang dikatakan penyiar berita itu, telah terjadi kecelakaan kereta api. Kereta sedang diam, ditabrak oleh kereta yang baru masuk. Salah sinyal. 30 menit yang lalu, aku masih berada di kereta itu. Lukaku parah tertiban apa saja. Tapi aku tak punya waktu lagi bahkan untuk sekadar menyelamatkan diriku, aku harus datang ke suatu tempat di kota ini. Ya, aku tidak punya waktu untuk menonton televisi begini. Aku meneruskan jalan, meski darah tak henti, hujan tak berhenti.

**

“Sampai mati, Ayah tak akan merestui hubungan kalian!”

“Kalau begitu, aku tidak perlu restu Ayah. Untuk hidup bahagia saja harus minta izin Ayah? Aku cuma cinta dia!”

“Menikah dengan seorang montir tidak bisa membuatmu bahagia, Elen!”

Elen terdiam, menatap dengan tajam. Air di sudut matanya, dapat kulihat itu membesar, lalu satu-satu pecah mengalir ke pipi. Kekecewaan, jelas tercetak jelas di wajah memerah itu. “Oh,” Elen mengangkat dagu, menantang. “Karena pekerjaannya, ya? Ayah menilai kebahagiaanku dengan uang?” Elen berdecak, menatap tajam sekali lagi. Berbalik, lalu ia tak pernah terlihat lagi.

**

Semalam, setelah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya, Elen menelepon. Mulanya suaranya riang, menututpi suaraku yang bergetar menjawab setiap pertanyannya mengenani kabarku. Bagaimana makan Ayah sekarang? Reumatik Ayah bagaimana? Sudah tidak pernah mandi malam, ‘kan? Pertanyaan-pertanyaan itu kujawab sekuat mungkin.

Kemudian, Elen menangis. Pertama, suaranya hanya bergetar, selanjutnya malah sesenggukan. Dia bercerita bahwa dia sudah lama bercerai. Hidupnya tidak bahagia, berjuang berdua saja tanpa sanak keluarga tidak semudah itu. Cinta mereka tidak sekuat itu. Sekarang Elen nyaris tak sanggup membiayai anaknya sendiri.

Aku memgeratkan genggaman, tanganku yang tidak luka begitu serius menenteng sebuah tas yang kupeluk erat-erat saat kecelakaan tadi.

Isi tas itu adalah pakaian-pakaian baru untuk Elen dan anaknya. Kudengar anaknya perempuan, kubelikan boneka sesaat setelah Elen menutup telepon. Aku pun membawa banyak makanan dan uang, yang kuharap tak rusak karena kecelakaan tadi.

Mati pun, aku harus memberi semua ini untuk Elen. Aku harus memeluknya, juga memeluk cucuku. Aku bahkan tidak peduli jika ada mantan suaminya di sana. Siapa yang salah dan siapa yang egois sekarang tidak penting lagi.

Meski luka-luka, aku hanya ingin memeluk anak perempuanku, menunjukkan padanya bahwa sampai mati pun aku mencintainya, selalu merindukannya. Yang harus kulakukan adalah tetap berjuang hidup sampai di rumahnya, meski setelah bertemu tak hidup lagi, asalkan aku sudah bilang padanya bahwa aku mencintainya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top