Inspirasi

Biar Mereka Menikah Duluan. Aku Bahkan Belum Tahu, Sudah Pantaskah Mendampingimu?

Biar Mereka Menikah Duluan. Aku Bahkan Belum Tahu, Sudah Pantaskah Mendampingimu?

“Fotoin, dong!” Mila menyodorkan kameranya, mengangkat gaun putih-merah mudanya hingga betis, lantas melompat setinggi mungkin dan aku menjepret tepat ketika ia tersenyum lebar di udara.

Aku menggeleng, mendecih geli. Gaun manis menjuntai begitu dipakai berfoto gaya koboy. Mila memang tomboy-nya tidak tertolong lagi.

Tapi dia cantik sekali. Benar kata orang, wanita yang ingin menikah maka kecantikannya meningkat puluhan derajat. Mila sudah cantik sejak aku mengenalnya di klub basket SMP dulu. Dengan gaun sakralnya itu, aku yakin calonnya nanti tak akan berkedip memandang Mila di hari H. Bisa-bisa mempelai pria lupa hapalan ijab kabul saking melongonya. Hihi.

“Semoga cepat menyusul ya, Dian,” Mila menutup hari fitting gaun pengantin itu dengan melapalkan doa untukku.

**

Aku mengetuk-ngetuk arloji di tangan, mataku mengikuti jarum penunjuk waktu itu dua kali putaran, kemudian mulai resah. Katanya 10 menit lagi Seno sampai. Tapi sampai sekarang tak terlihat jambulnya sekelebat pun. Bahkan, harusnya Seno tiba di resepsi ini bareng denganku sejam yang lalu.

“Maaf, Sayang. Kamu datang sendiri gapapa, ya? Aku masih ada lemburan,” katanya sebelum aku berangkat tadi.

Dari gedung lantai tujuh ini, terlihat gerimis menjadi pelatuk di dinding kaca. Lampu jalanan Jakarta jadi sedikit buram, kabut yang terlihat membentuk ilustrasi dingin, memggigilkan. Harum bebungaan di berbagai sudut membuat rileks sementara. Aku bagai orang asing di gedung resepsi ini, menunggu Seno.

Bukan keterlambatannya yang membuat galau. Ini tentang hubungan kami. 4 tahun sudah kami berpacaran, menikah masih berupa rencana. Aku sedikit panas ketika harus mendengar beberapa pertanyaan seperti ‘kapan nikah?’ atau bahkan yang terang-terangan menyindir, pacaran lama tidak nikah-nikah. Harusnya dia memikirkan perasaanku, pedihnya datang tanpa gandengan ke nikahan teman.

Mila yang baru pacaran setahun saja sudah naik pelaminan sekarang. Ah, dia beruntung. Bahkan tomboynya tidak kelihatan lagi semenjak ia menginjak pelaminan.

Dia melambai dari atas sana, bertanya dengan gerakan mulut, menanyakan Seno. Aku mengangkat bahu, dia memasang tampang prihatin. Lalu satu persatu tamu menyalaminya lagi. Aku memandangi Jakarta lagi.

Jambul basah rapi itu kemudian terlihat menyembul di antara para tamu undangan. Aku segera bangkit, mendorong kursi dengan bokong. Tidak lupa, memasang tampang cemberut.

Namun, semakin Seno mendekat, semakin aku memerhatikan penampilannya, merengutku pudar. Dia mengenakan kemeja yang sama ketika berangkat kerja kemarin, pertanda ia belum pulang ke rumah. Dia hanya menutupi jas hitam yang umurnya sudah dua tahun. Lalu ujung celananya basah, seolah ia berlarian menuju gedung ini, tak peduli genangan air asal cepat sampai sini.

Butir-butir air merebak, memanas di mataku. Hei, Dian, kau sibuk menggerutu di sini, padahal Seno pun berjuang untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan kemudian menembus macetnya Jakarta yang juga hujan.

“Sabar ya, Sayang. Aku masih menabung. Aku harap kamu sabar,” sekelebat, secara tiba-tiba aku ingat ucapan Seno dua tahun lalu, di hari jadi kami.

Seno adalah tulang punggung keluarga. Hanya lulusan SMA yang berakhir sebagai pekerja tetap di sebuah pabrik. Ayahnya sudah meninggal, menyisakan tanggungan Ibu yang sudah sakit-sakitan dan dua adik yang masih kecil pada Seno.

Aku tiba-tiba merasa menjadi wanita jahat. Dulu, dua tahun lalu, aku masih bisa bahagia saat Seno memintaku untuk sabar. Aku senang karena dia ada niatan serius untuk menikah. Baru ditinggal teman-teman menikah duluan saja, aku sudah banyak melupakan bahwa pernikahan bukanlah tentang cepat-cepatan, tapi tentang waktu yang tepat, kedua hati yang sepakat untuk sehidup semati.

Aku menjadi pemarah dan banyak menuntut. Seno adalah pria tegar yang tak pernah kudengar keluhannya meski ia lelah. Pantaskah aku yang emosional ini mendampinginya yang begitu sabar?

Seno sampai di mejaku. Aku memeluknya tanpa ragu, dia kaget, aku melepas perlahan sambil menyadari sesuatu yang lain. Matanya sayu dan lelah akibat lembur. Aku terenyuh. Aku ingin terus bersama lelaki pekerja keras ini, dan kuharap dia bersedia sabar melatihku menjadi matang sepertinya. Aku akan sabar menunggu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top