Inspirasi

Demi Sebuah Kemuliaan, Sedekah Kubagikan

Demi Sebuah Kemuliaan, Sedekah Kubagikan

Menjadi seseorang yang dermawan rasanya adalah hal yang mulia. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa berbagi dengan sesama. Ada kebahagian tersendiri juga jika kebaikan yang kita lakukan menginspirasi orang lain sehingga tergerak melakukan kebaikan pula.

Hari Jumat, terkenal dengan hari berbagi. Hari ini aku mulai berpikir keras untuk melakukan suatu kebaikan.

Mengajak makan bersama anak panti asuhan? Tapi itu butuh dana yang besar. Kalau sekadarnya saja, malah malu-maluin.

Membelikan sandal jepit untuk masjid? Tapi untuk saat ini sepertinya kurang dibutuhkan, yang ada nanti malah dibawa pulang oleh jamaah.

Membelikan mukena untuk masjid? Tapi nanti tidak terurus dan bahkan tidak terpakai karena jamaah lebih banyak membawa mukena sendiri. Bisa jadi juga bakal dibawa pulang ke rumah oleh jamaah.

Membersihkan masjid? Tapi kan sudah ada yang bertugas untuk membersihkannya.

“Ma, Ayah berangkat ke masjid dulu,” tiba-tiba suamiku menyela saat aku sedang berpikir hendak melakukan kebaikan apa. Suamiku pamit ke masjid untuk menyempatkan salat jumat.

Aku melanjutkan lagi rencanaku. Tapi rasanya terlalu banyak pertimbangan, membuatku semakin bingung, lelah, hingga kantuk mulai menyerangku. Aku tertidur sebentar.

Rasanya tidak lama aku merasa memejamkan mata, suamiku sudah berada di rumah kembali. Dia pulang membawa sebungkus nasi.

“Nasi bungkus dari mana? Aku kan masak,” kataku.

“Dapat dari masjid,” jawab suamiku.

“Hah? Dalam rangka apa?” tanyaku.

“Kurang tahu. Tadi usai salat, ada Bapak-Bapak sedang membagi nasi bungkus ke jamaah yang hadir di masjid itu,” terang suamiku.

“Wah, mungkin dia sedekah nasi,” tebakku.

“Iya, sepertinya,” jawab suamiku.

“Kamu tidak ingin melakukan hal serupa, Mas?” tanyaku.

“Apa? Sedekah nasi?” suamiku tanya kembali.

Aku mengangguk.

“Boleh dicoba,” jawab suamiku.

Aku pun mulai membayangkan tentang sedekah nasi tersebut. Sambil membayangkan, aku pun membuka bungkusan nasi yang dibawa suamiku. Wah, isinya nasi ayam. Lumayan!

Sambil makan, aku mulai menganggarkan tentang sedekah nasi.

“Ah, tapi aku malas masak. Lebih baik beli saja, lalu kita tinggal bagi-bagi saja,” saranku.

Suamiku hanya diam, tanda menyerahkan sepenuhnya kepadaku. Sepertinya dia tidak ambil pusing.

Nasi bungkus lauk ayam membutuhkan anggaran per bungkusnya sekitar Rp10.000. Untuk jumlahnya…

“Aku kurang tahu berapa jumlah nasi yang dibagikan tadi. Tapi, tadi ada 2 boks besar, sepertinya sekitar 50 bungkus atau 100 bungkus,” suamiku menerangkan.

Kalau 100 bungkus, itu berarti Rp10.000 x 100 = Rp1.000.000. Wah, banyak sekali. Kalau 50 bungkus, Rp10.000 x 50 = Rp500.000. Tetap saja banyak sekali. Kalau budget Rp100.000, hanya mendapat 10 bungkus nasi saja. Kalau dibagi di masjid, ah memalukan sekali kalau hanya 10 bungkus. Tapi budget Rp100.000 juga terlalu besar.

Kalau Rp50.000 dapat 10 bungkus, bisa tidak ya?

Bisa!

Cari menu lain. Iya, tidak harus nasi bungkus. Bisa mi instan dan juga nasi saja. Wah, sepertinya 10 bungkus tidak sampai Rp50.000 malah kalau isi nasi dan mi instan. 1 mi instan harga Rp2000. Kalau 1 mi instan untuk 2 bungkus, itu berarti untuk 10 bungkus mi instan, hanya perlu beli 5 x Rp2000 = Rp10.000. Wah, murah sekali! Berasnya beli 2kg saja, jadi 2 x Rp10.000 = Rp20.000. Total keseluruhan Cuma Rp30.000 saja.

Ideku ini pasti menginspirasi banyak orang, karena bisa sedekah dengan sangat murah. Dengan demikian, orang tidak akan takut sedekah. Karena sedekah itu murah.

Demi Sebuah Kemuliaan, Sedekah Kubagikan

Hari Jumat pun tiba lagi. Aku sudah menyiapkan 10 nasi bungkus isi nasi dan mi instan. Aku siap membagikan nasi ini. Karena hanya 10 bungkus, tidak mungkin aku bagi ke masjid karena ini terlalu sedikit, malu. Aku akan membagikan ini pada orang-orang yang lewat seperti pemulung, tukang becak, pengemis, pengamen. Ah, pasti mereka akan senang sekali mendapat nasi bungkus dariku.

Aku sudah mempersiapkan 10 nasi bungkus sejak pagi. Semua sudah aku bungkus rapi. Aku akan membagi nasi bungkus ini nanti siang usai salat jumat. Saat jamaah salat jumat pulang, di jalan mereka pasti akan melihatku sehingga mereka akan terinspirasi denganku untuk melakukan sedekah nasi.

Hingga siang datang, aku pergi meninggalkan rumah dan pergi ke jalan. Ada tukang becak lewat, Nah! Kebetulan sekali ada penumpang. Kalau aku member tukang becak itu, pasti akan menginspirasi penumpang becak itu. Aku segera memberhentikan becak itu dengan gerakan tangan. Tukang becak mengerti dan dia menghentikan becaknya.

“Pak, ini ada nasi bungkus untuk makan siang Bapak,” ucapku.

“Wah, nasi apa ini, Mbak? Maksud saya dalam rangka apa?” tanya tukang becak.

“Bukan apa-apa, Pak. Saya hanya sekadar ingin berbagi,” jawabku.

“Wah, iya. Terima kasih,” ucap tukang becak.

“Sebentar, Pak. Kita foto dulu, ya?” pintaku.

“Untuk apa, Mbak?”

“Sebagai dokumentasi supaya banyak orang tahu sehingga dapat menginspirasi yang lainnya untuk mau sedekah,” jawabku penuh bahagia.

“Apa Mbak yakin dokumentasi yang nantinya akan dibagikan bertujuan untuk menginpsirasi orang lain?” tanya penumpang becak tiba-tiba.

Apa maksud atas pertanyaan itu? Pertanyaan itu belum sempat kujawab, penumpang tersebut meminta tukang becak untuk melanjutkan perjalanan.

Aku tetap melanjutkan misiku. Masih ada 9 bungkus. Mencari orang yang tepa untuk mendapatkannya kok rasanya susah sekali.

Beberapa menit kemudian ada pemulung sedang membongkar tumpukan sampah. Aku mendatanginya dan memberikan sebungkus nasi. Dia menolak karena sudah makan katanya. Aku tetap memaksanya untuk menerima. Aku tidak mau ditolak. Apalagi mulai banyak orang yang melihatku. Malu kalau sampai aku ditolak. Aku terus memaksanya. Pemulung itu menerima dengan wajah jutek. Aku tak peduli, yang penting aku tidak tertolak.

Masih ada 8 bungkus. Ada rombongan pengamen anak muda lewat. Mereka ada 8 orang. Kalau aku bagi ke mereka semua, langsung habis dong.

“Bagi-bagi nasi, Mbak?” tanya salah satu dari rombongan pengamen.

Aku mengangguk.

“Kebetulan sekali, kami semua belum makan,” terangnya.

Salah satu yang lainnya sudah ambil nasi bungkus sendiri dengan paksa. Dia membuka bungkusannya.

“Walah, cuma nasi dan mi instan,” teriak pengamen yang mengambil bungkusan nasi secara paksa.

Aku mulai panik karena dia teriak-teriak seperti itu.

“Apapun isinya, kita tetap harus menerimanya,” ujar pengamen yang lain.

“Iya, ambil saja. Tapi, sisakan dua bungkus. Di sana ada seorang ibu dan anaknya lewat, 2 bungkus nasi biar untuk mereka,” kataku.

“Tidak usah, Mbak. Biar nanti kami yang belikan 2 bungkus nasi untuk ibu dan anak itu,” terang pengamen itu.

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Kasihan kalau mereka harus makan nasi dan mi instan. Nanti biar kami belikan nasi di warung sebelahnya,” jawabnya.

Apa maksudnya walau harus makan nasi dan mi instan?

“Nanti, kami akan berikan 2 nasi bungkus ini atas nama Mbak kok,” lanjutnya.

Aku semakin tak mengerti kenapa pemuda itu berbicara seperti itu. Tapi yang jelas, ini seperti mengejekku. Ini menyebalkan. Lebih baik aku segera meninggalkan mereka.

Aku meninggalkan mereka begitu saja. Mereka berteriak-teriak, entah apa yang mereka ucapkan. Aku tidak mau ambil pusing.

Sesampai di rumah, aku mengistirahatkan diri sambil membuka media sosial. Wah, banyak sekali yang berkomentar pada postingan foto bersama dengan tukang becak tadi.

“Gilak! Sampai sedetil itu perhitungannya. Sedekah semurah-murahnya, cari muka sebesar-besarnya, ya?”

“Walah, sedekah kok perhitungan banget. Mbok seadanya aja, Mbakyu.”

“Wah, saya penumpang becak ini. Tadi bungkusannya dibuang sama tukang becak karena sudah bau. Isinya nasi dan mi instan. Sepertinya dimasak pagi. Kalau dibagi siang, udah jelas enggak enak.”

Apa-apaan ini? Banyak sekali komentar buruk. Kenapa tidak ada sedikitpun yang memujiku?

“Ma, kembali lagi pada niatmu,” tiba-tiba suamiku berkomentar.

“Aku punya niatan untuk berbagi,” jawabku.

“Kenapa harus mendokumentasikannya dan dibagi ke media sosial?” tanyanya.

“Barangkali ada yang terinspirasi dengan apa yang aku lakukan,” jawabku.

“Yakin? Tapi kenapa komentar yang keluar tadi adalah kekecewaanmu karena tidak mendapat pujian?” pertanyaannya mulai membuatku diam.

“Ada uang lebih, kenapa alokasi bagi nasi hanya untuk mi instan? Kamu memasak tadi pagi, dibungkus tadi pagi, dibagi siang hari, apa itu layak makan?”

Aku tidak menjawab pertanyaan suamiku itu. Aku tidak ingin memperpanjang permasalahan ini. Aku membuka media sosialku lagi. Ada satu komentar baru lagi muncul.

“Jangan memanfaatkan keadaan seseorang untuk menjadikan Anda tampak lebih mulia.”

Ya, aku salah. Salah niat, ucapan, dan juga tindakan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top