Inspirasi

Doakan Aku Punya Ketulusan Sepertimu, Bu. Agar Tak Mengeluh di Hari Tuamu

Doakan Aku Punya Ketulusan Sepertimu, Bu. Agar Tak Mengeluh di Hari Tuamu

“Kalau nyuruh tuh sekalian dong, Bu. Tiara capek bolak-balik terus. Tiara kan nggak nganggur di rumah, Tiara kerja nyari duit!”

Sore itu, kekesalanku sampai puncaknya. Seolah tak ada yang mengerti aku lelah. Sampai di rumah setelah seharian bekerja demi menambah pemasukan keluarga, aku disambut dengan rengekan Icha, anak perempuanku yang sedang rajin-rajinnya menagih boneka panda yang mirip dengan kepunyaan anak tetangga sebelah.

Belum selesai membujuknya dengan permen, Ibu terbatuk-batuk di kamarnya, pertanda harus segera minum air putih sementara bangun untuk duduk saja Ibu sudah tak bisa. Mesti cepat kupapah, kemudian lekas minum sebelum batuknya menjadi muntah darah.

Merasa di tak diacuhkan akhirnya Icha membuat ulah. Kardus berisi mainan dibalik, berceceran semuanya di lantai. Bersamaan, Ibu meminta tolong diambilkan balsam.

Selesai puas memarahi Icha, sofa di ruang tamu menggoda sekali untuk kutiduri. Belum ada dua detik Ibu memanggil lagi minta ambilkan obat. Dan, begitulah responku. Aku marah karena lelah.

“Icha kemana? Jangan dibolehin main lagi, dia belum makan tadi.”

Aku tak menjawab. Segera aku membereskan mainan Icha, merapikan ruang tamu sekaligus semua ruangan. Tak ada pembantu di rumah ini. Selepas segalanya rapi, tak terasa aku tertidur saat sedang menemani Icha mengerjakan PR.

**

Aku bermimpi. Mimpi seperti kenyataan, seperti sebuah video kaset yang memutar kembali adegan 16 tahun lalu, ketika aku berulang tahun ke 10.

Balon warna-warni menggantung di setiap sudut dan dinding. Dilengkapi pita-pita lucu yang menggantung di celah-celah kumpulan balon itu. Ini hari ulang tahunku. Aku senang sekali. Berkali-kali aku bergaya di depan cermin, memuji gaun ulang tahunku yang baru. Putih bersih, harum sekali. Sepatuku juga cantik dengan warna yang senada. Bando berhias pita kecil yang juga berwarna putih memperindah rambut hitam lurusku yang sepunggung. Sempurna!

Pukul 4 sore teman-teman yang kuundang mulai berdatangan. Aku menyambut mereka dengan riang. Apalagi saat melihat kado-kado yang mereka bawa. Aku senang bukan main.

Tak lama kemudian pesta ulang tahunku pun dimulai. Kami melingkari meja bundar kecil di tengah ruangan yang berisi kue ulang tahunku yang bertingkat tiga. Tinggi dan besar.

Tapi … aku kaget saat melihat kue itu ternyata tidak seperti yang aku harapkan. Aku ingin bonekanya yang menghias kue itu adalah barbie dengan gaun berwarna pink. Tapi gaun barbie yang berada di atas kue itu berwarna merah. Aku tidak suka!

Aku marah pada ibuku, karena ibuku yang memesankan kue itu. Aku berteriak-teriak dan memaki ibuku di depan teman-temanku. Ibu berusaha membujukku, tapi aku tetap tidak terima. Akhirnya aku menghancurkan kue itu. Aku tidak suka kue yang tidak sesuai dengan keinginanku. Aku tidak suka pesta yang tidak sesuai keinginanku. Aku tidak suka berada di pesta ini.

Tamu yang hadir ada yang menegur sikapku, tapi aku memaki mereka balik. Aku tidak suka orang lain memarahiku. Apalagi ibu yang tetap bicara lembut pada mereka. Aku pun mengusir mereka semua.

Aku marah! Aku tidak terima! Pestaku kacau. Semua undangan pun sudah pulang. Hanya tinggal aku dan ibu.

Ibu terus membujukku dan berjanji akan membelikan kue yang baru. Aku tidak mau.

Ibu tak menyerah merayuku, membuatku semakin kesal. Sampai akhirnya aku mendorong ibu sekuat tenaga, hingga ibu jatuh dan kepalanya terbentur ujung kursi.

Kulihat kepala ibu berdarah. Tapi ibu tidak marah. Ia malah memeluk dan menciumiku yang menangis. Aku meronta. Ibu memelukku makin erat sambil membisikkan kata-kata sayangnya padaku.

**

“Bu?” panggilan Icha membangunkanku.

Belum sepenuhnya sadar dari mimpi, aku tergelagap dan berlari, meninggalkan Icha yang bingung. Aku menuju kamar Ibu. Wanita renta itu belum tidur. Masih bisa beringsut bangun untuk menyapaku, dengan senyum yang kusadari, kulit-kulit di antara bibirnya itu sudah tidak kencang lagi. Keriput tanda semakin tua.

Aku menghambur memeluknya. Sangat erat. Mendadak aku merasa takut kehilangan Ibu. Aku minta maaf.

Ibu, sejak aku kecil selalu sabar menghadapi nakalku, merawatku sepanjang hidupnya. Mengapa aku tidak bisa sabar merawat Ibu, mengapa aku tidak tahu terima kasih? Padahal Ibu tak pernah minta macam-macam, aku omeli pun diam saja.

Aku sungguh takut kehilangan Ibu, satu-satunya wanita terbaik, yang mencintaiku dengan cara terbaik.

Sebelum terlambat, malam itu juga, aku meminta satu hal pada Ibu, “Bu, doakan Tiara. Semoga Tiara bisa setulus Ibu. Tiara pengin ngerawat Ibu. Doakan semoga Tiara sabar.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top