Inspirasi

Film “Sexy Killer”, Dibalik Potret Industri Tambang Indonesia

Film Dokumenter Sexy Killer

Sexy Killers adalah film dokumenter yang berkisah tentang latar belakang hancurnya lahan masyarakat karena pengaruh investasi batu bara.

Film Dokumenter Sexy Killer karya Dandhy Laksono bersama tim Ekspedisi Indonesia Biru Watchdoc. Karya film yang sebelumnya telah tayang seperti. Samin vs Semen, Kala Benoa, The Mahuzes, Asimetris juga berbicara mengenai ekploitasi alam diberbagai wilayah di Indonesia yang dilakukan oleh kaum elit.

Film dokumenter merupakan film yang merepresentasikan sebuah peristiwa tanpa rekayasa. Adegan Sexy Killer pembuka yang memperlihatkan sepasang kekasih yang tengah berbulan madu menguatkan pesan pada film sebelum bercerita tentang batu bara, bagaimana dampaknya yakni listrik yang sampai pada ranah paling privat manusia. Nyatanya, cinta romantis itu membutuhkan energi yang banyak: lampu tidur 9 watt, kulkas 250 watt, televisi 150 watt, laptop 87 watt, pengering rambut 400 watt, dan AC 350 watt.

Sebagian besar pasokan energi listrik di negara ini bersumber dari PLTU dengan bahan bakar utamanya adalah batu bara. Karena dianggap bahwa energi ini merupakan yang paling murah dibanding gas, angin dan energi lainnya. Namun disisi lain hal yang tidak bisa terhindarkan dari pertambangan batu bara adalah soal kerusakan lingkungan hidup, ketidakadilan terhadap masyarakat, dan beragam soal krusial lainnya seperti munculnya penyakit karena udara yang terpolusi.

Sexy Killers menampilkan dengan sangat baik bagaimana persoalan yang muncul dari upaya memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Namun menurut penulis ada beberapa hal penting yang bisa ditarik dari film Sexy Killer Garapan Dandy Laksono dkk ini, diantaranya: isu lingkungan hidup, dalam film yang berlatar di Pulau Kalimantan, Palu, dan Bali ini ditampilkan banyak kurasakan lingkungan seperti bekas tambang yang tidak direklamasi atau ditimbung dan polusi dari PLTU itu sendiri.

Isu selanjutnya adalah, isu penegakan Hukum dan HAM, misalnya beberapa petani yang ditangkap dikriminalisasi karena melawan pembangunan batu bara hingga perampasan lahan dan sebagainya. Terakhir isu agraria, batu bara ini berdiri atas kepemilikan diatas Hak Guna Dana Usaha (HGU), disinggung juga dalam debat Pilpres mengenai kepemilikan HGU atau kelompok oligarki yang menunggangi calon presiden ini.

Secara garis besar film ini mendukomentasikan bagaimana bisnis batu bara dan PLTU memberikan dampak yang negatif terhadap kehidupan sosial, lingkungan dan ekonomi masyarakat. Selain itu film ini secara gamblang juga menunjukkan nama-nama perusahaan dibalik bisnis tersebut serta tokoh yang menunggangi calon presiden sekarang.

Sexy Killer

Tanggapan Menteri ESDM Terkait Film Sexy Killer

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pun angkat bicara. Meski diakuinya belum menonton film tersebut, Jonan mengungkapkan selama ini pemerintah melalui kementeriannya telah membuat aturan dengan jaminan tidak ada kerusakan lingkungan.

“Saya sudah buat peraturan, kalau tidak ada komitmen misalnya jaminan reklamasi, kita tidak akan layani, termasuk semua perizinan terkait pertambangan itu,” kata Jonan seperti dilansir Antara usai ditemui di TPS 099 Cipete Utara, Jakarta, Rabu (17/4/2019).

Jonan menjelaskan seluruh pemegang konsesi tambang diwajibkan melakukan kegiatan reklamasi dan konservasi lingkungan sesuai peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Ia menegaskan Kementerian ESDM tidak akan memberikan izin kegiatan pertambangan, jika tidak ada jaminan melakukan reklamasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top