Inspirasi

Hai, Ayah dan Ibu. Ini Aku, Buah Dari Perceraian Kalian

anak-menjadi-korban-perceraian-orang-tua

Aku ingat sekali saat itu. Hujan sudah deras saat pertengkaran Ayah dan Ibu dimulai. Pagi penuh petir itu aku meringkuk di kursi, mencoba menutup telinga tapi tak mempan. Kau berteriak mengalahkan petir, Ibu. Sementara Ayah, aku melihat wajahnya sudah merah padam. Aku berani taruhan, sebentar lagi Ayah akan berteriak dan membanting-banting barang seperti biasa.

Tapi, ternyata tidak. Ayah diam saja sambil menyimak amarah Ibu. Sekonyong-konyong Ayah berdiri dari kursi makan, tidak melempar piring seperti biasa tapi hanya melihat ke arahku. Mata Ayah merah nyaris menangis. Bibir hitam akibat rokok itu melempar senyum padaku. Punggungku menegak.

Jaga dirimu baik-baik, Nak, kata Ayah kemudian. Aku bengong. Tahu-tahu, Ayah melangkah ke luar begitu cepat. Firasatku buruk. Aku bangkit, jatuh terpeleset saat turun dari kursi, berkali-kali aku terpeleset genangan air, mengejar, tapi Ayah terus berlari menembus hujan.

“Biar dia pergi! Lelaki penjudi itu tidak pantas jadi ayahmu!”

**

“Beli segitu banyak, kau ingin menjadi orang bule, ya?” Tania, teman kerjaku, meledek ketika melihatku memenuhi troli belanjaan dengan roti-roti aneka rasa.

Aku hanya tertawa dan meneruskan mendorong troli di pasar swalayan ini sambil lihat-lihat. Tanggal tua, pasar swalayan ini tak begitu ramai. Sebenarnya aku dan Tania pun tidak sedang punya banyak uang.

Aku menerima sedikit bonus dari atasanku, dan mentraktir belanjaan Tania rasanya tak buruk juga. Tahu? Dia teman kerja sekaligus tetangga yang baik. Malah, bila dihitung-hitung dia yang lebih sering mentraktir ketimbang aku. Ya, meski hanya mentraktir nasi kucing atau mi instan sih. Dia yang sering aku mintai bantuan, misalnya, ketika aku dan Ibu belum makan seharian.

Setengah jam kemudian kami berpisah. Tania mengeluh ketika tahu ia harus pulang sendiri, “Kukira traktiranmu berlaku juga untuk membantu membawa barang belanjaanku. Curang, berat nih!” omelnya dengan empat kantung belanja di tangan.

Aku menertawakannya, dia semakin cemberut tapi kemudian ia tersenyum, hangat. “Hati-hati membawa rotinya, ya. Salam untuk ayahmu. Aku akan bilang kamu masih betah di swalayan, kalau ibumu bertanya. Dah!” ucapnya, meski sambil teriak dari kejauhan, penuh simpati.

Aku masih mematung ketika punggung Tania sudah berbelok ke sebuah gang. Cuaca dingin sehabis gerimis ini, hidungku malah rasanya panas, mataku berair. Aku menggeleng, menghela napas dan mendongak menatap langit mendung. Dalam hati aku memerintahkan diriku agar tidak menangis.

Entah sudah berapa puluh ribu hujan yang kulalui semenjak hari itu, hari berpisahnya Ayah dan Ibu. Aku tumbuh dewasa, normal, meski kadang masih pengecut dan takut untuk mendatangi sebuah rumah yang tak jauh dari swalayan ini.

Rumah berdinding kardus yang mulai berlubang sana-sini, tak ada perabotan berarti di dalamnya, karena akan sulit membawanya ketika kapan saja Satpol PP datang dan mengusir penghuninya. Penghuni rumah itu, Ayah.

Aku takut datang kesana. Takut menangis di depan Ayah, padahal aku mengatakan padanya bahwa aku kuat, aku anak gadisnya yang kuat. Aku pengecut untuk mengaku pada Ibu bahwa aku menentang perintahnya untuk tidak menemui Ayah lagi.

Baiklah, aku minta maaf karena telah membohongi Ibu. Tapi, pernahkan kalian lihat seorang anak perempuan duduk manis di pangkuan ayahnya sambil dinyanyikan, dibacakan buku dongeng? Sejak kecil, aku ingin seperti itu.

Meski terlambat sekian tahun, tapi aku masih ingin duduk di pangkuan mereka berdua, Ayah dan Ibu. Di pangkuan mereka, akan kuusap wajah Ibu yang tetap cantik meski sudah kendur dagu lancipnya. Lalu kusuapi Ayah dengan macam-macam roti yang dicelup air putih, karena Ayah bahkan sudah tak punya gigi lagi untuk mengunyah nasi. Aku ingin begitu, meski tidak mungkin membawa Ayah tinggal bersama, karena Ibu tak ingin bersatu lagi.

Lalu ketika Ayah dan Ibu tertawa dengan gigi tak seberapa, meledekku mengapa tidak menikah juga, aku akan diam saja. Aku tidak ingin mereka tahu, aku takut menikah karena tak ingin anakku nanti takut dan pengecut seperti ibunya. Perceraian Ayah dan Ibu membuatku takut berkomitmen dalam rumah tangga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top