Inspirasi

Hidup Memang Bertujuan, Tetapi Bukan Sekadar Meraih Semua Keinginan

Hidup Memang Bertujuan, Tetapi Bukan Sekadar Meraih Semua Keinginan

Dunia semakin tua, semakin menjamur ambisi yang menggila di dalamnya. Keserakahan manusia sudah menjelma menjadi umpan mudah yang ditangkap berita. Miris, padahal hidup bukan sekadar meraih keinginan dunia. Hidup memang bertujuan, tapi bukan dengan memeluki erat sebuah keserakahan bernama ambisi.

 

Hidup Tidak Bisa Direncanakan

Siapa kamu, hingga merasa kebahagiaan dan semua rencanamu akan terwujud di dunia ini. Kuasamu tidak seberapa. Hidup ini tidak bisa kamu miliki, kamu hanya sewujud dari sekian banyak wujud yang terpaksa harus terus berjalan, menjalani kehidupan yang tidak bisa terus sesuai rencanamu.

Hidup Pasti Ada Jatuhnya

Boleh saja kamu menolak, kamu berpendapat bahwa meski selangkah hidup bisa direncanakan. Ya, itu memang mungkin. Tetapi tetap saja hidup ada jatuhnya. Tersandung atau bahkan terseok-seok. Biasanya semakin besar kamu berharap pada sebuah rencana, akan semakin lebar koyak yang kamu dapat setelah terjatuh.

Hidup itu Lelah

Ya, Lelah. Tidak bisa berencana, lantas suatu saat pasti terjatuh. Jalan panjang sudah ditempuh, namun tidak juga mencapai keinginan. Untuk apa hidup sebenarnya?

Hidup itu Berganti

Hidup Memang Bertujuan, Tetapi Bukan Sekadar Meraih Semua KeinginanSebenarnya, hidup hanyalah menunggu giliran. Percaya Tuhan? Maka Tuhan yang telah begitu baik sesungguhnya lebih baik dari yang kamu duga. Dia bukan jahat membiarkanmu terseok di bumi-Nya ini. Dia hanya mengajarimu agar tidak cengeng. Dia melatihmu untuk terus kuat. Hingga saatnya nanti, jika kamu terus berusaha dan percaya pada kebaikan Tuhan, kamu akan berada di posisi itu. Posisi teratas, di mana keinginan terbesar telah membawamu ke puncak.

Hidup untuk Bertahan

Inilah alasan kuat mengapa Tuhan membiarkanmu belajar menjadi kuat dengan terseok-seok dulu. Karena, ya, hidup berganti. Kamu bisa saja jatuh lagi dari puncak. Jatuh yang dampaknya akan serius karena begitu tinggi jarak dari puncak ke bawah, bukan? Namun, kamu yang sudah pernah terseok, tentu tahu bagaimana menghadapi ini. Kamu telah kuat, maka bisa ya, cepat bangkit meski jatuh berulang?

Hidup Bukan Melulu Ambisi

Jika kamu paham, maka harusnya kamu sudah tahu bahwa hidup memang hanyalah permainan. Bukan berarti kamu menjalaninya dengan main-main, tapi lebih kepada paham bahwa ambisimu pada dunia ini adalah sia-sia. Cukup jalani seadanya, cukup kuat, cukup bertahan bila diterpa.

Hidup, Sejatinya adalah Antrian Panjang Menuju Kematian

Bila napas sudah lepas dari raga, apalagi yang bisa kamu lakukan saat orang-orang yang mencintaimu menangis meraung-raung sedangkan kamu hanya bisa memandangi karena sudah terikat pada dunia yang lain? Wahai. Pada akhirnya hidup akan berakhir juga. Kamu, akan berakhir.

Kehidupan Sebenarnya adalah Akhirat

Bermainlah ke kubur, melihat-lihat jasad yang sudah tak bisa bergerak, bernapas pun tidak. Mereka yang pernah hidup, kemudian menjadi tidak dapat bergerak lagi–mati, Memang mau kemana ruh-ruh mereka setelah raganya masuk ke dalam kubur? Berkeliaran saja di dunia? Tentu kamu tidak akan berpikir sedangkal itu. Ada sebuah, sesuatu, sebentuk tempat yang bernama akhirat. Di sanalah nanti ruh mereka, termasuk ruh yang pernah hidup dalam ragamu akan memulai kehidupan baru. Kehidupan baik atau buruk yang ada di sana? Tergantung bagaimana kamu sekarang, bagaimana caramu hidup di dunia.

Maka, hiduplah dengan tidak menjadi budak ambisi. Percuma. Sebanyak apapun yang tercapai di dunia, pada akhirnya yang kamu bawa setelah hidup berakhir hanyalah sesosok ruh. Hidup sewajarnya saja, yang baik-baik saja. Jalani saja. Yakinlah sudah ada Tuhan, yang senantiasa mengurusimu asal kamu terus melakukan hal yang membuat Dia berada betah di sisimu. Jika sudah begitu, maka sesungguhnya kamu tidak perlu repot-repot berambisi ini-itu lagi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top