Inspirasi

Jangan Takut Gagal. Sekecil Apa pun Dukungan, Itulah Alasanmu untuk Terus Berjuang

Jangan Takut Gagal. Sekecil Apa pun Dukungan, Itulah Alasanmu untuk Terus Berjuang

Aku juga kadang menyerah. Lelah. Rasanya ingin diam saja, membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan apa pun, tanpa berjuang lagi. Tapi ternyata Tuhan begitu ingin aku menjadi orang. Tuhan begitu baik, mengirimkan seorang malaikat yang dukungannya terus berada di sisiku, tiada berhenti suaranya terngiang, memintaku terus semangat.

**

“Ujung celanamu terciprat air hujan. Cepat bersihkan pakai ini sebelum nodanya mengering.”

Aku dibuat terkejut, menyadari tiba-tiba seorang wanita menghampiri, menyodorkan sebuah saputangan. Aku tidak mengenalnya. Begitu saja wanita itu mengajak berbicara.

“Maaf?” Ragu-ragu aku memastikan, takut wanita itu salah mengenali orang.

“Namaku Mentari, dan kita memang belum pernah kenal sebelumnya. Aku hanya tidak ingin, perusahaan yang akan kamu datangi jadi ragu mempekerjakan pegawai yang penampilannya tidak bersih.”

Mataku melebar, takjub, “Tahu dari mana aku akan melamar pekerjaan?”

Mentari mengulas senyum, menyodorkan saputangan miliknya lagi. Kali ini aku menurut, cepat-cepat membersihkan noda di ujung celana menggunakan saputangan Mentari.

“Sudah cukup lama aku memerhatikan kamu di halte ini. Sudah seminggu setiap pagi, kamu selalu naik bus berbeda-beda jurusan. Selalu mengenakan setelan hitam-putih, dengan amplop coklat yang selalu kaupegang hati-hati. Besar kemungkinan, kamu sedang melamar pekerjaan ke sana-sini.”

Aku takjub sekali lagi, mendengar Mentari menebak dengan sangat tepat.

 “Aku benar ‘kan?”

Aku mengangguk-angguk, masih melongo seperti bodoh.

Senyum manis Mentari berikan sebelum akhirnya ia cepat-cepat berbalik, berlari kecil menuju bus yang baru datang.

 “Saputanganmu bagaimana?”

 Aku selalu mengingat, betapa cantiknya rambut panjang Mentari terkibas ketika saat itu membalikkan badan untuk menoleh padaku.

“Kalau kamu belum mendapat pekerjaan, maka besok aku akan mengambilnya saat kita bertemu lagi di sini. Tapi kalau kamu sudah mendapat pekerjaan dan tidak kemari lagi, anggap saja itu hadiah ucapan selamat dariku.”

 **

 “Kukembalikan saputanganmu.”

Mentari terkekeh pelan. “Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Sudah satu minggu lebih kamu belum juga mendapat pekerjaan.”

“Tenanglah. Seribu kali mencoba, pasti akan ada satu yang berhasil. Setuju tidak?”

“Ya. Semoga saja tidak benar-benar sampai seribu kali.”

Kekehan pelan terlontar berbarengan. Aku lantas mempersilakan Mentari duduk di bangku halte yang kebetulan kosong.

 “Siapa?”

“Ya?” Aku agak membungkuk, untuk lebih jelas mendengar pertanyaan Mentari.

 “Namamu. Siapa?”

Aku baru sadar, aku belum pernah menyebutkan namaku untuk ia kenali.

“Junior.” Kami kemudian saling menjabat tangan.

Ketika bersentuhan, tangan Mentari terasa dingin nyaris seperti es. Aku pun baru melihat dari dekat, betapa pucat wajah dan bibir Mentari.

 “Kamu sakit?” hati-hati aku bertanya.

“Sejak kemarin memang sedang flu. Aku tidak terlalu suka musim hujan seperti sekarang ini. Kalau besok tidak sembuh, sepertinya aku harus libur dulu.”

“Itu lebih baik.”

“Bus-ku sudah datang. Aku pergi dulu. Junior, semoga hari ini kamu berhasil.”

Aku tersenyum, senang Mentari mengatakan itu. Kemudian seperti kemarin, Aku diam-diam menyukai rambut panjang Mentari yang terkibas-kibas pelan ketika Mentari terburu-buru menuju bus. Aku menikmati itu.

**

Aku mengintip isi tas. Sebuah syal berwarna oranye muda ada di sana, sengaja kubeli kemarin untuk diberikan pada Mentari. Sangat berharap Mentari tidak sakit semakin parah, dan aku dapat memberikan syal ini, bertemu di halte ini seperti biasanya.

“Kakak yang bernama Junior?” Seorang anak laki-laki penjual koran mendatangi aku dengan sebuah amplop berwarna biru di tangannya.

 “Kenapa kamu bisa tahu?”

Kakak yang bernama Mentari titip ini. Dia minta maaf nggak bisa ketemu Kak Junior lagi.”

Mentari menaiki bus yang sama setiap pagi bukan untuk bekerja. Tempat tujuan Mentari adalah sebuah rumah sakit. Kanker darah stadium akhir, Mentari satu tahun belakangan mengidap penyakit itu. Setiap pagi selama satu minggu ini dia menyambangi rumah sakit, untuk mengurus berbagai macam dokumen dan rujukan penting yang ia perlukan untuk menjalani operasi di luar negeri.

        **

Sudah satu tahun, setiap pagi saat berangkat kerja, aku mendatangi halte ini atau sekadar mampir saat jam istirahat. Aku selalu berharap Mentari datang kembali, dengan tubuh sehat, atau bila dia belum sembuh, aku ingin gantian memberinya semangat.

Sedikit banyak, aku harus akui, karenanya aku tak pernah patah semangat. Aku terus berjuang, terus berharap, suatu saat dapat bertemunya lagi dan dia bangga melihatku sudah berhasil. Karena meski dia tak pernah datang, semangat darinya, di dalam jiwa ini, tak pernah hilang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top