Inspirasi

Kakak Bukan Tak Sayang. Hanya Melatih Sedikit Keras, Karena Hidup ini Juga Tak Ramah

kakak sayang adik

Kantin lengang. Suara kasar yang barusan bergema adalah suara Gracia, istri bos pabrik dan cewek satunya yang terduduk basah kuyup akibat disiram es kopi oleh Gracia adalah Melinda, adik perempuanku.

Sejak tadi punggungku menegang, kuhentikan aktivas makan dimsum. Begitu Gracia masuk kantin kantor sambil menggebu-gebu, memang nafsu makanku luntur seketika. Aku tahu hari ini bakal terjadi. Gracia pasti bakal habis kesabarannya kalau setiap hari harus melihat suaminya, Gani, dekat-dekat terus dengan adikku.

Di tengah suara-suara yang mulai berbisik, Gracia yang akhirnya meninggalkan kantin, temanku mendatangi mejaku. “Amanda, kok lu diem aja?” bisiknya, sedikit protes.

Aku mengangkat bahu, menaikkan alis dengan cuek, berharap juga ketegangan di wajahku luntur. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, aku melahap dimsum yang mendadak semuanya terasa hambar.

Kulirik Melinda lagi. Beberapa teman sudah membantunya, melap tubuhnya dan mulai memapah Melinda ke toilet. Tubuh gemetar Melinda tidak luput dari penglihatanku. Wajahnya pucat, kotor oleh kopi, pakaiannya pun. Aku membuang napas miris. Itu bahkan pakaian kesayangan Melinda.

Semalam baru saja aku membahas ini dengan Melinda. Aku mendapatinya tercenung di kamar. Duduk tidak bergerak-gerak, hanya matanya saja yang kadang mengerjap dalam, senyumnya melekat terus pada bibirnya, seolah sesuatu yang manis tengah ia bayangkan.

“Mikirin apa lu?” Aku melemparnya pakai bantal, mencoba menggoyahkan lamunannya. Melempar dari jarak cukup jauh, karena aku tidak berani dekat-dekat, takut Melinda sedang kesambet atau malah sawan.

“Rese, ah! Melinda tuh lagi senang, Mbak,” ia memeluk bantal tadi begitu erat, membawanya goyang-goyang kesana-kemari. Aku merinding.

Aku membuang napas kasar. Dalam hati sudah menduga, pasti ini tentang Gani. Melinda memang tengah dekat dengan bos di pabrik kami itu. Entah bagaimana perkenalannya, mereka kemana pun selalu berdua. Setidaknya selama seminggu mereka sudah dekat. Pulang diantar, kadang Melinda pun pulang telat karena diajak jalan dulu oleh Gani.

Melinda akhirnya jatuh cinta pada Gani yang seolah-olah amnesia, lupa kalau dirinya sudah beristri. Sialnya, istrinya itu adalah Gracia, seseorang yang juga memiliki pengaruh besar di pabrik. Dengar-dengar, pabrik ini milik ayah Gracia yang kemudian diwariskan pada Gani. Mereka salah satu pasangan yang nikah muda. Jiwa Gracia pun masih jiwa muda, terlihat dari penampilannya termasuk sikapnya yang garang sok berkuasa, baper tak kenal tempat.

“Lu mau dianggap perebut suami orang? PHO, Perusak Hubungan Orang,” aku mencoba mengingatkan akan status Gani.

“Ngomongnya nggak usah begitu kali, Mbak,” Melinda mulai menunjukkan tanda-tanda susah dibilangin.

“Ya memang kenyataannya begitu. Cinta sih cinta, tapi lihat-lihat dong. Nggak ada cowok baik yang tega ninggalin istrinya demi cewek lain, dan sialnya, cewek itu elu!”

Melinda menatapku, menantang. Ponselnya berdering saat itu juga, Gani yang menelepon. Cuek, ia meninggalkan kamar, menuju teras depan dan mulai berbincang manja dengan Gani hingga larut malam.

Sepertinya semalam adalah obrolan terakhir Melinda dengan Gani, sebelum tadi akhirnya ia kena damprat oleh Gracia. Gracia bahkan memecat Melinda. Takut rugi banyak, Gani berlutut pada Gracia, memohon ampun. Hubungan Gani dan Gracia baik-baik saja meski sudah cacat. Melinda yang dirugikan. Sudah putus cinta, pengangguran pula.

Adikku yang malang itu ke luar pabrik dengan kepala tertunduk, seperti beban ditaruh di kepalanya. Temanku terus saja membujukku untuk mengantarnya pulang atau sekadar menghiburnya. Tapi aku menolak. Biar Melinda nikmati kegagalannya, biar belajar. Lagipula aku tidak tega menatap langsung matanya. Aku merasa sudah cukup tega dan bersalah. Tadi pagi, sebelum Melinda kena damprat, aku memberikan foto mesranya bersama Gani pada Gracia.

Entah yang kulakukan benar atau salah. Aku hanya ingin mengajarinya. Cinta boleh saja, tapi jangan buta. Cari pekerjaan susah, kenapa harus cari gara-gara? Kurang keras bagaimana lagi hidup ini?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top