Inspirasi

Kebahagiaan Itu Dekat: Keluarga

Kebahagiaan Itu Dekat: Keluarga

Aku pergi ke kamar untuk istirahat. Untuk buka Facebook tentunya. Barangkali Hendra update status tentang perasaannya saat ini. Pemberitahuan Facebook cukup banyak. Ada 150 permintaan pertemanan dan 10 kotak masuk. Kotak masuk cukup menarik perhatianku. Aku buka satu per satu. Wah ternyata banyak juga pesan yang belum sempat kubaca.

Indah Lestariana.

Nama itu sepertinya tidak asing. Seperti nama…

Selamat malam mbak Nadia. Salam kenal, saya Indah, istri mas Hendra. Sebelumnya saya mohon maaf kalau tiba-tiba mengirim pesan panjang seperti ini di Facebook Mbak Nadia.

Saya ingin bercerita tentang mas Hendra. Semoga Mbak bersedia membaca cerita saya. Sejak saya hamil 8 bulan sampai saat ini, mas Hendra mengalami banyak perubahan. Dia tidak lagi memberikan perhatian penuh pada saya. Dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain handphone. Mas Hendra juga jarang mengajak anak kami untuk bermain. Lagi-lagi mas Hendra sibuk dengan handphonenya. Tiap malam mas Hendra pamit untuk pergi sekadar ngopi di luar dan jarang makan malam di rumah. Saya tahu, di kesempatan ke luar rumah dia menghubungi Mbak. Pahit sekali rasanya menjalani hari-hari bersama suami seperti itu.

Saya tahu, selama ini mas Hendra sibuk dengan handphonenya hanya untuk mbak Nadia. Entah mas Hendra sudah pernah bercerita pada Mbak atau belum kalau saya mengetahui hal itu. Awalnya, saya ingin mas Hendra mengakhiri komunikasi dengan Mbak. Tapi mas Hendra hanya obral janji. Kedua kalinya, saya meminta untuk dipertemukan dengan Mbak, tapi mas Hendra tidak ingin kalau saya menyakiti Mbak. Mas Hendra tidak tega menyakiti hati Mbak tapi sangat tega menyakiti perasaan saya. Ketiga kalinya, keempat, kelima, dan seterusnya, saya sudah sangat bosan dengan janji-janji mas Hendra. Dia masih saja berkomunikasi dengan Mbak. Bahkan, saya tahu mas Hendra begitu bersemangat kalau dapat tugas di Jakarta. Saya tahu dia bebas untuk bertelepon atau bahkan bertemu dengan Mbak saat di Jakarta.

Tadinya, saya mau mengatakan ke Mbak sebagai sesama perempuan untuk mencoba mengerti perasaan saya. Saya ingin Mbak juga membayangkan kalau sikap mas Hendra terjadi pada suami Mbak. Tapi sepertinya tidak akan terasa karena tak sedikitpun ada cinta untuk suami Mbak.

Saya tahu kalian masih saling mencintai. Tapi jika saya ada di posisi Mbak, saya tidak akan merespon lelaki manapun termasuk lelaki masa lalu sekalipun masih cinta. Saya lebih memilih fokus untuk mencintai suami saya. Apalagi kalau sudah dikarunia anak. Itu saya. Dan saya sangat berharap Mbak Nadia juga seperti itu. Berhenti untuk tidak lagi merespon mas Hendra.

Saya yakin, jika mbak Nadia tidak merespon, secara bertahap mas Hendra akan berhenti. Mohon maaf sebelumnya, saya sudah meminta mas Hendra untuk tidak menghubungi Mbak lagi, tapi nihil. Karena itu saya memohon pada Mbak Nadia. Saya yakin Mbak Nadia jauh lebih pengertian.

Saya masih ingin mempertahankan pernikahan kami karena Agnes, putri kami. Saya juga ingin menjalani kehidupan rumah tangga seperti dulu. Saya rindu mas Hendra yang dulu. Jika komunikasi kalian masih terjaga, cinta kalian hanya akan semakin tumbuh dan itu akan menyakiti banyak orang. Mau sampai kapan? Mau sampai anak kita semakin tumbuh dewasa dan mengetahui ini semua? Setiap anak pasti tidak ingin kalau ayah atau ibunya disakiti atau dihianati.

Terima kasih. Salam untuk Nira.

Pesan yang panjang seperti cerpen. Aku tahu yang aku lakukan ini salah. Aku hambar dalam pernikahanku. Jika aku melepas Hendra, akan seperti apa aku? Mas Awal pasti juga tak jauh beda dengan Hendra. Hanya saja aku tak ambil pusing kalau mas Awal juga bertindak sama seperti Hendra.

Tuuut… tuuut…

Handphone mas Awal berbunyi. Hanya beberapa detik kemudian sudah tidak berbunyi lagi. Mungkin saja hanya miss called. Jangan-jangan dari mantan kekasihnya. Aku penasaran. Aku ambil handphone mas Awal dan menggeledah kotak masuk.

Satu persatu kupandangi kotak masuk, sepertinya tidak ada nama yang mencuri perhatian. Kebanyakan pesan dari adiknya untuk membicarakan bisnis.

Drrrt… drrrt…

Handphone mas Awal bergetar. Ada SMS masuk.

Mas, aku kangen. Aku mohon tolong dibalas.

Nah, ini dia. Kebetulan yang sangat tepat. Aku scroll ke atas tapi mas Awal tidak pernah membalas. Nomor ini pun juga tanpa nama. Kenapa tidak disimpan?

Maaf, Lia. Aku sudah berkeluarga. Aku sudah punya istri dan anak. Aku sangat mencintai mereka. Demikian juga kamu. Lebih baik kita hindari untuk saling komunikasi. Dulu biarlah berlalu. Mari kita jalani yang sekarang. Fokus dengan keluarga kita masing-masing. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya saya balas SMS-mu.

Semua pesan hanya dari perempuan itu. Mas Awal hanya sekali saja membalas pesannya. Kenapa?

“Bunda…” suara mas Awal mengejutkanku.

Dengan sigap aku menaruh handphone mas Awal. Perlahan, aku pandangi wajah mas Awal. Dia terlihat kebingungan. Mas Awal mendekat dan mengambil handphone-nya. Mimik wajahnya berubah saat melihat handphone-nya. hipwee.com

“Maaf,” ucapnya.

“Cukup, Mas. Jangan terlalu sering minta maaf! Kau selalu menganggap bahwa dirimu salah. Justru sebenarnya aku yang banyak salah,” aku sudah tak kuasa menahan tangis.

Wajah mas Awal semakin terlihat kebingungan.

Aku membanjirinya dengan banyak pertanyaan: Kenapa tidak pernah membalas pesan mantan kekasihnya? Bukankah masih saling cinta? Bukankah pernikahan kita ini hambar? Kenapa tidak mencari kebahagiaan dengan Lia yang jelas-jelas menawarkan kebahagiaan? Kenapa harus berbohong pada Lia kalau Mas mencintaiku?

“Bila harus menuruti nafsu dan egoku, aku pasti akan membalas pesannya. Aku sudah mengambil keputusan menikah denganmu, maka aku akan mempertahakan pernikahan ini. Tidak peduli kau mencintaiku atau tidak. Kedatangan cinta tidak hanya sekedar ditunggu tiba-tiba, tapi juga bisa ditumbuhkan. Dan aku ingin menumbuhkan cinta di antara kita. Tak peduli seberapa besar cintaku dengan Lia, tak peduli kau mencintaiku atau tidak, tak peduli terasa hambar atau tidak, aku tetap berusaha menumbuhkan cinta di antara kita. Jalan kita masih panjang. Kebahagiaan tidak hanya ditunggu kehadirannya, tapi kebahagiaan juga dapat diciptakan. Aku tidak akan pergi meninggalkan bahtera pernikahan kita dengan mencari kebahagiaan di luar sana. Aku yakin ada kebahagiaan di sini. Aku tidak akan menunggu kebahagiaan itu datang, aku akan ciptakan kebahagiaan di sini denganmu dan Nira. Tapi maaf jika aku masih belum bisa membuat kalian bahagia, terutama kamu.”

Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Aku memeluk mas Awal dan tumpahlah tangisku dalam pelukannya. Perlahan mas Awal membalas pelukanku. Sentuhannya seolah berbicara padaku supaya aku tenang. Tangisku semakin menjadi dan aku tidak berhenti mengucap maaf padanya. Dia berusaha menciptakan kebahagiaan di rumah ini sedangkan aku sibuk mencari kebahagiaan dengan Hendra.

Nadia, terima kasih atas pertemuan hari ini. Besok ketemu lagi yuk!

Pilihan-Hapus Pesan-Pesan Terhapus.

Kontak-Cari-Hendra-Blokir Kontak-Kontak Terblokir-Pilihan-Hapus Kontak-Kontak Terhapus.

Facebook-Pencarian-Hendra Gunawan-Blokir Pertemanan.

Aku tidak akan lagi mencari kebahagiaan di luar sana. Ada kebahagiaan di sini, keluarga kecilku. Bila tak kunjung kutemukan kebahagiaan di sini, aku akan menciptakannya. Sama seperti yang dilakukan mas Awal, suamiku.

“Mas, tadi sudah jadi makan? Makan lagi yuk! Kita makan malam bersama.”

Mas Awal tersenyum. Senyum yang sepertinya tak pernah kulihat sebelum-sebelumnya. Senyum kebahagiaan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top