Inspirasi

Menikmati Proses Kehidupan, Kemudian Menikmatinya

Menikmati Proses Kehidupan, Kemudian Menikmatinya

Berawal dari suami saya yang terkena pemutusan tenaga kerja, kehidupan kami benar-benar berubah. Dulu, dalam satu bulan kami bisa pergi untuk makan di luar rumah hingga tiga sampai empat kali, setelah pemutusan kerja tersebut kami benar-benar harus mengikat perut kami bahkan harus menunda mempunyai momongan karena saya dan suami takut jika suatu saat tak ada dana untuk proses melahirkan.

Kami berdua tidak pernah bercerita keadaan kami pada orang tua kami sebab kami tahu ketika seorang anak berkeluh kesah pada orang tua, mereka akan merasa sedih bahkan melakukan berbagai hal untuk membantu anak-anaknya. Kami tak pernah mau menjadi beban bagi orang tua kami.

Awalnya, kami benar-benar kebingungan dengan kondisi seperti ini. Saya hanya seorang lulusan SMK dan tak banyak perusahaan yang bisa menerima saya bekerja begitu juga dengan suami saya yang kesulitan mencari pekerjaan karena terbentur batas usia maksimal. Selama hampir tiga bulan kami bertahan dengan uang tabungan yang bisa kami kumpulkan dulu. Kami mencoba untuk hidup sehemat mungkin bahkan kami pernah selama satu bulan menumpang mandi di SPBU untuk meringankan biaya air rumah kami.

Kami menyadari bahwa uang tabungan kami pun semakin menipis setiap harinya sampai suatu hari ketika saya pergi ke pasar saya melihat sebuah toko yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga terlihat sangat ramai dan saya memutuskan untuk mencoba bertanya apakah pemilik toko tersebut menerima pegawai. Hari itu saya merasakan bahwa setiap usaha yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Hari itu juga saya diterima bekerja di toko tersebut. Setiap hari saya berangkat pukul sepuluh dan pulang jam enam sore. Saya mengakui bahwa saya benar-benar lelah setiap harinya tapi saya sadar bahwa saya bertahan. Gaji saya tidak banyak, hanya separuh dari UMR namun ada banyak hal yang saya syukuri bahwa saya masih bisa bertahan hidup bersama suami.

Hampir enam bulan lamanya saya bekerja di toko, akhirnya suami saya mendapatkan pekerjaan sebagai sales salah satu produk susu untuk anak-anak. Kabar itu datang tepat bersamaan dengan tanggal gajian saya. Hari itu sepulang bekerja, suami saya memeluk saya dengan erat dan mengabarkan berita tersebut kepada saya, akhirnya sebagai rasa syukur kami, kami sepakat untuk membeli dua bungkus nasi goreng yang dijual dekat gang masuk rumah kami. Saya tahu nasi goreng adalah makanan biasa namun kami sudah hampir tak pernah makan nasi goreng di luar buatan saya sendiri. Saya bersyukur sekali hari itu.

Seiring berjalannya waktu, anak dari pemilik toko tersebut bercerita pada saya bahwa dia kebingungan membuatkan bekal untuk anaknya. Dia bercerita pada saya tentang alergi yang dimiliki anaknya dan jenis makanan apa yang harus dibawa anaknya ke sekolah besok. Sembari berbincang, saya bertanya apa saja yang tersedia di dalam kulkas yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk bekal esok hari. Dia bercerita bahwa dia memiliki rumput laut kering dari ibu mertuanya. Beberapa wortel untuk memasak sop dan mentimun untuk dibuat acar. Pada saat itu saya langsung teringat dengan makanan asal Jepang bernama sushi. Oleh karena itu, saya mengajukan diri untuk membuatkan bekal anak pemilik toko tersebut. Pemilik toko tersebut menyambutnya dengan sangat senang kemudian saya diberikan uang untuk membeli bahan-bahan yang saya perlukan. Hanya butuh tambahan sedikit daging ayam.

hipwee.com

Esok harinya, saya berangkat lebih pagi dari biasanya, yaitu pukul lima karena saya harus memasak sebelum anak pemilik toko berangkat. Saya berangkat diantar oleh suami. Setiba di pasar, saya melihat pemilik toko saya sudah menunggu di luar. Setelah sampai, saya langsung diajak masuk dan mulai memasak. Istri pemilik toko dan suaminya selalu baik pada saya. Mereka bilang saya adalah pegawai yang ulet dan rajin.

Sepanjang saya memasak, istri pemilik toko tersebut selalu mengajak bercerita tentang pengalaman-pengalaman saya dan dia juga membuatkan teh manis hangat untuk saya. Setelah sushi tersebut jadi, saya langsung memotongnya menjadi beberapa bagian dan menatanya di kotak bekal. Setelah selesai memasak, saya diantar pulang dan diizinkan untuk datang pada pukul dua belas.

Siang hari ketika saya datang, istri pemilik toko tersebut langsung menghampiri saya dan bercerita bagaimana tentang bekal yang saya buat tadi pagi. Jujur, awalnya saya sedikit takut namun setelah dia bercerita bahwa anaknya menghabiskan bekalnya di sekolah, saya sangat senang. Hal yang paling membuat saya senang adalah ketika istri pemilik toko ini bercerita pada saya bahwa teman-temannya memesan sushi buatan saya untuk acara ulang tahun anaknya. Sungguh, saya bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik.

Di awal menerima pesanan, saya diperbolehkan untuk tidak masuk toko karena harus membuat pesanan yang tiap hari semakin banyak namun akhirnya pemilik toko meminta saya untuk fokus saja membuat sushi, tidak bermaksud untuk memecat saya namun mereka tidak tega melihat saya kelelahan saat bekerja. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan saya menyetujui hal tersebut dan mulai berfokus pada membuat sushi. Tidak jarang pesanan datang dari pemilik toko dan teman-temannya. Suami saya juga memutuskan untuk berhenti bekerja dan membantu saya mengantarkan pesanan bahkan suami saya juga membantu saya berjualan dengan memasang iklan di media sosial, senang sekali rasanya.

Hingga saat ini usaha kami berjalan dengan lancar. Pemilik toko tersebut juga masih sering memesan dan kadang bertamu ke rumah kami. Bahkan, mereka memberi ide supaya saya memiliki kedai untuk berjualan dan mereka juga siap membantu jika memang membutuhkan.

Dalam keadaan tersulit apapun, saya selalu berusaha untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Saya berusaha agar saya dapat terus bertahan dalam segala ketidakmungkinan. Saya percaya bahwa ketika saya mampu berusaha dan bertahan dalam ujian, saya akan dipertemukan dengan orang-orang baik. Jadi, jangan pernah menyerah dengan apapun yang sedang kita lakukan sebab benar adanya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya yang selalu mau berusaha. Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambaNya dan manusia harus senantiasa berjuang untuk meneruskan kehidupan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top