Inspirasi

Pelajaran Berumah Tangga dari Ibu untuk Anak Perempuannya

Pelajaran Berumah Tangga dari Ibu untuk Anak Perempuannya

Aku mencium punggung tangan sendiri, aroma mangir. Sambil tersenyum aku memandang kebun bunga Ibu di halaman depan dari jendela kamar ini, menghirup udara embun yang segar, memejamkan mata dan tersenyum lagi.

Hatiku setenang pelukan, mantap dan tak lagi terlalu gugup menghadapi hari istimewa besok. Seperti menghadapi presentasi proyek besar, aku memang selalu punya kemampuan untuk menenangkan diri sendiri. Aku yakin pilihanku tak salah. Setelah besok, hidupku bersama Mas Pram akan bahagia dan setiap hari mesra. Pasti. Aku hanya harus sering-sering optimis dan positif agar tak gugup.

“Sudah luluran, Nduk?” Ibu masuk, sebuah buntelan kain entah berisi apa tampak berat di tangannya.

“Sudah, Bu. Apa itu?”

Ibu tersenyum misterius. Aku tertawa kecil. “Hadiah lagi?”

“Kali ini spesial,” Ibu akhirnya menyerahkan buntalan kain itu. “Buka nanti saja, ya. Setelah sah statusmu sebagai istri.”

Tak bisa lama-lama penasaran, malam sesudah resepsi, aku beristirahat di kamar pengantin, membuka buntalan itu.

Tahu? Ibu adalah seorang wanita romantis yang kemanisan dari setiap kejutannya diakui top markotop oleh bapakku. Kali ini, aku penasaran hadiah apa yang ada di dalam buntalan kain ini.

**

Buntalan itu membungkus kotak berbahan kayu jati berisi lembar-lembar foto yang dilaminating, dibolongi bagian pojok kiri atasnya, dipisahkan oleh pita lain warna yang tiap ikatan pitanya memuat beberapa foto yang tak tentu jumlahnya, ada yang dua, tiga, atau hanya selembar foto. Di balik setiap foto, kukenali tulisan tangan Ibu, mengisahkan foto itu memiliki kenangannya masing-masing.

**

Foto yang disatukan dengan pita berwarna merah, memuat foto pernikahan Ibu dan Bapak. Ibu menulis di baliknya, hingga foto itu diambil, ia sungguh tak percaya jalan hidupnya menemui rute baru. Ibu masih sulit percaya, dirinya sudah punya suami, teman hidup yang akan menemani hingga akhir hayat.

Ibu baru ‘ngeh’ setelah menjalani masa bulan madu, begitu tertulis di foto yang menggambarkan Ibu sedang berbulan madu di Natuna. Tiap hari menggairahkan.

**

Foto yang disatukan dengan pita berwarna biru, aku mengernyitkan dahi dan menahan ketika melihat berbagai ekspresi Ibu dan Bapak di sana. Tiga foto. Sebuah foto menggambarkan Bapak sedang cemberut, tapi Ibu nampak tersenyum jahil. Foto kedua sebaliknya. Bapak tersenyum lebar, Ibu merengut. Selembar lainnya hanya menggambarkan punggung Bapak yang sedang menghadap kebun bunga Ibu, punggung yang tengah marah.

Aku mengumpulkan tiga kalimat yang tercecer di ketiga foto itu. “Kadang Ibu yang membuat salah, kadang Bapak yang bikin Ibu marah. Kadang, tak ada yang sadar siapa yang bersalah. Rumah tangga memang isinya pertengkaran seperti itu.”

**

Foto terakhir, yang hanya selembar saja dihiasi dengan pita berwarna putih, aku ingat kisah di balik foto itu.

Foto itu diambil saat aku selepas aku wisuda. Ibu, Bapak dan aku berforto dengan bangga. Aku membaca tulisan di baliknya.

“Rumah tangga isinya pertengkaran dan salah paham. Dua kepala yang berbeda mesti tinggal satu atap. Mustahil tidak pernah debat pendapat.

Butuh bertahun-tahun untuk saling menyesuaikan diri dan mengerti pribadi masing-masing.

Tapi tahun demi tahun itu tidak terbuang sia-sia, melainkan menjadi macam-macam pengalaman, ladang beraneka hikmah.

Dalam rumah tangga, kebahagiaan sekecil apapun harus disyukuri benar-benar. Permasalahan harus diselesaikan cepat-cepat. Kelanggengan harus diperjuangkan sering-sering.

Nanti, keindahan itu akan muncul sendiri. Seperti foto ini. Tak sedikit perjuangan membesarkanmu, Nduk. Tapi akhirnya kau tumbuh sendiri, dewasa dan mengagumkan dengan sendirinya.

Satu yang mesti kauingat. Nasihat untuk mengarungi rumah tangga adalah: jalani saja.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top