Inspirasi

Sandiwara Cinta dalam Keluarga

Sandiwara Cinta dalam Keluarga

“Aku tidak ingin merasa bersalah dengan suamiku,” kataku saat Hendra memaksaku untuk bertemu.

“Itu tidak mungkin. Jika tidak ingin merasa bersalah, semestinya dari dulu kita tidak komunikasi seperti ini.”

Benar.

Ralat: Tidak benar. Bila aku berkomunikasi atau bertemu dengan Hendra, mas Awal tidak akan marah atau cemburu. Iya, jadi aku tidak bersalah dan tidak perlu merasa bersalah. Mas Awal masih mencintai kekasihnya yang dulu. Dia tidak mencintaiku. Jadi, tidak benar kalau pertemuanku dengan Hendra salah. Tak akan jadi masalah. Iya, benar. Tidak akan ada masalah.

“Baiklah, kita bertemu,” aku pun memutuskan.

Di tempat makan yang jauh dari rumah dan kantor mas Awal, aku dan Hendra bertemu. Kami bertemu di meja nomor 27.

Hendra sudah pesan makanan dan minuman. Kami duduk dan menyantap makanan yang sudah terhidangkan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami masing-masing. Entah karena sama-sama canggung atau karena sedang makan. Aku yakin karena gugup dan canggung. Aku menikmati hidangan sambil sesekali melirik Hendra. Wajah itu. Sudah lama aku tak menikmati wajah itu.

Di sela waktu makan, handphone-ku berdering. Aku meliriknya. Mas Awal meneleponku.

“Suamimu?” tanya Hendra yang sepertinya mengamati raut wajahku saat melihat handphone.

“Tidak biasanya dia meneleponku jam segini,” kataku sambil melanjutkan makan dan mengabaikan panggilan telepon.

Hendra tersenyum. Senyum itu menunjukkan kebahagiaan karena aku lebih memilih menikmati waktu bersamanya dan mengabaikan panggilan telepon dari suamiku.

Seneng, ya?”

“Sangat. Haha… Terima kasih,” jawab Hendra dengan senyum genitnya.

Percakapan kami pun mulai mencair dan kami menikmati pertemuan hari ini.

Pukul 7 malam aku pulang ke rumah. Aku pulang dengan sangat bahagia. Ketika aku masuk rumah, kudapati mas Awal sedang duduk di ruang tamu.

Mas Awal memandangiku. Pandangan yang aneh menurutku. Barangkali dia sedikit kesal karena teleponnya tidak kuangkat. Ah, mana mungkin mas Awal marah? Dia tidak pernah marah padaku. Apalagi hanya urusan tidak terima telepon.

“Bunda, sudah makan?” tanya mas Awal. Seperti biasa.

“Sudah, Mas,” jawabku seperti biasa.

Ya, aku selalu makan lebih dulu atau bilang sedang malas makan kalau mas Awal bertanya seperti itu. Aku menghindari makan bersama dengannya. Karena setiap melihatnya, aku selalu merasa bersalah. Bersalah karena aku menghianatinya.

“Baiklah. Kalau begitu aku makan dulu. Istirahatlah!” ucap mas Awal sambil beranjak ke dapur.

Mas Awal menyuruhku istirahat dan tidak bertanya aku pergi dari mana. Entah karena dia bukan tipe orang yang perhatian atau memang ingin memberi kebebasan untukku pergi ke manapun tanpa ikut campur? Dia susah ditebak.

Sampai detik ini aku juga penasaran, apakah dia juga melakukan penghianatan terhadapku? Apakah dia masih berkomunikasi dengan mantannya itu atau bahkan malah sering bertemu? Kurasa iya. Sama seperti halnya Hendra yang sudah beristri tapi tetap menghubungiku dan mengajak untuk bertemu. Hendra tidak bahagia dengan istrinya, mungkin karena itu Hendra lebih nyaman tetap menjalin komunikasi denganku. Pun aku yang tak nyaman dengan mas Awal.

 

Aku sangat yakin kalau mas Awal tidak nyaman atas pernikahan ini dan dia masih mencintai mantannya. Ternyata, kita sama saja. Lalu, kenapa kita tidak berpisah saja kemudian menikah dengan orang yang kita cintai? Dengan begitu, hidup jauh lebih berwarna, bukan? Daripada kita sama-sama tertekan. Tidak nyaman, tidak saling mencintai, tapi masih saja bertahan seperti ini? Harus bersandiwara setiap hari.

Nira. Ya, Nira jadi alasan rumah tangga ini tetap bertahan. Kasihan kalau kami harus berpisah. Aku tak ingin berpisah dengan Nira. Pun dengan Nira. Nira tidak ingin berpisah denganku maupun mas Awal. Kukira mas Awal juga tidak ingin berpisah dengan Nira. Jadi, entah sampai kapan sandiwara ini bertahan? Barangkali untuk seumur hidupku. Bukan. Bukan seumur hidupku, tapi seumur hidup kami. Karena kami sama-sama bersandiwara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top