Inspirasi

Saya Harus Bangkit!

saya harus bangkit

Sebagai manusia, saya percaya apapun yang terjadi adalah baik dan saya percaya bahwa semua orang berhak untuk bahagia dan melanjutkan kehidupan dengan jalan yang telah dipilih masing-masing.

Nama saya Rina. Saat ini saya berusia dua puluh tujuh tahun dan tinggal di sebuah kota kecil di pinggiran kota. Saat ini saya bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyedia vitamin dan obat-obatan khusus anak-anak. Di sinilah saya bertemu dengan Iwan untuk pertama kali dan sudah terhitung hampir enam tahun perkenalan kami.

Pada saat usia saya menginjak dua puluh satu saya mengenal Iwan. Dia seorang pemuda yang cukup tampan dengan penghasilan yang jauh lebih tinggi daripada saya. Maklum, dia salah satu orang yang dipercaya di tempat ini. Iwan sendiri yang mewawancarai saya ketika saya melamar pekerjaan di kantor ini. Ketertarikan kami satu sama lain akhirnya diketahui teman-teman sekantor hingga pada akhirnya saya dan Iwan menjalin sebuah hubungan. Saat itu segalanya berjalan dengan mudah dan berjalan dengan lancar-lancar saja.

Setelah kami menjalin hubungan selama satu tahun, saya berniat mengenalkan Iwan pada orang tua saya dan pada akhir pekan Iwan datang ke rumah saya. Awalnya, saya tidak merasakan kekhawatiran apapun selama Iwan berbincang dengan kedua orang tua saya. Hingga akhirnya setelah Iwan pulang, orang tua saya memanggil saya untuk menyatakan pendapat mereka terhadap Iwan. Rasanya saat itu ada petir yang menyambar kepala saya ketika saya tahu bahwa kedua orang tua saya tidak suka dengan Iwan. Mereka beralasan bahwa Iwan bukan dari keluarga baik-baik. Saya tahu bahwa kedua orang tua Iwan telah berpisah sejak Iwan masih kecil dan orang tua saya takut saya akan mengalami hal yang sama.

Saya sangat sedih saat itu. Akan tetapi Iwan terus mencoba menenangkan diri saya, salah satunya dengan mengajak saya bertemu dengan orang tuanya. Ketika saya diajak ke rumahnya, hanya sampai di depan saja saya sudah ciut. Rumahnya begitu besar dan mewah, ada banyak taman-taman dan air mancur di halaman rumahnya, pilar-pilar rumahnya pun tidak sebanding dengan tiang penyangga rumah saya. Di dalam rumahnya pun semua tertata dengan rapi dan saya begitu banyak melihat asisten rumah tangga. Ketika saya bertemu dengan ayah dan ibu tiri dari Iwan, rasanya begitu berbeda dengan orang tua yang lainnya. Di awal, saya sudah ditanya tentang apa pekerjaan ayah dan ibu saya. Dengan pelan-pelan saya bercerita bahwa ayah saya hanya sebagai pegawai kantor pos dan ibu adalah seorang penjahit. Ketika saya bercerita tentang orang tua saya, Iwan terus menggenggam tangan saya. Dia menyadari kalau saya tidak nyaman.

Hal yang diterima Iwan dari orang tua saya pun akhirnya saya terima juga dari keluarga Iwan. Orang tua Iwan menganggap saya tidak layak menjalin hubungan dengan Iwan karena saya hanya anak orang biasa, bukan orang berada. Karena kejadian tersebut, saya dan Iwan dirundung kesedihan yang berlarut-larut. Kami sering pergi diam-diam untuk pergi ke tempat-tempat yang kami suka. Saya sering pergi ke klub malam bersama Iwan untuk menghabiskan bergelas-gelas minuman keras hingga sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan terjadi, saya hamil.

Saya merasa sangat ketakutan. Saya putuskan untuk mengakui hal ini pada orang tua saya. Saya tidak ingin mereka akan lebih marah jika mereka mengetahui perut saya semakin hari semakin membesar. Saya juga menganggap bahwa kejujuran saya akan berbuah manis dengan orang tua saya mampu memberikan jalan keluar bagi saya. Akan tetapi, semua anggapan saya hancur berantakan. Saya diusir dari rumah karena dianggap telah mencoreng kehormatan keluarga.

Di awal-awal bulan Iwan sangat menjaga saya dengan baik di rumah karena saat itu saya memutuskan untuk menyewa sebuah rumah kecil dekat dengan kantor tempat saya bekerja. Pagi sebelum berangkat, dia selalu menyempatkan diri untuk mampir membawakan saya sarapan dan ketika pulang kerja dia akan menemani saya di rumah hingga larut malam. Sesaat itu saya merasa tenang karena Iwan terus membuat rencana untuk menikahi saya. Memasuki trimester ke dua, entah apa yang membuat Iwan mulai jarang muncul ke rumah hingga di kantor pun dia jarang masuk. Ketika memasuki kehamilan bulan ke lima, Iwan benar-benar menghilang dari kehidupan saya.

Kehilangan keluarga dan Iwan membuat saya mengalami depresi. Saya tidak masuk kantor berhari-hari, tidak makan, dan mengurung diri di kamar sambil terus menyalahkan diri sendiri.

Hingga suatu hari saya mencoba untuk pergi mandi dan saya masih ingat saya terjatuh tepat di depan kamar mandi setelah saya tidak ingat lagi apa yang kemudian terjadi. Ketika saya membuka mata, saya sudah berada di sebuah kamar yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saat saya sadar, saya tahu bahwa saya berada di rumah sakit. Saya mendengar isak tangis seorang perempuan. Silvia, sahabat saya. Ketika dia tahu saya sudah sadar, dia langsung mendekap saya erat-erat dan meminta saya untuk kuat. Saat itulah hati saya menjadi sangat remuk bahkan entah saya mampu melanjutkan hidup atau tidak. Saya kehilangan bayi yang saya kandung.

Perlu waktu bagi saya untuk menerima diri saya kembali. Saya memutuskan untuk resign dari kantor dan menghabiskan waktu sendiri. Saya memilih untuk pulang. Saya masih ingat bagaimana ayah begitu terpukul karena menyesali perbuatannya yang dahulu, begitu juga dengan ibu yang tak hentinya memeluk dan mengusap tubuh saya ketika dia tahu bahwa saya kehilangan bayi saya.

Saya mengerti apa yang saya lakukan adalah dosa bahkan aib untuk keluarga saya dan bagi saya sendiri. Namun, saya selalu tahu bahwa saya harus bangkit. Saya tidak bisa selalu menyesali diri karena kesedihan saya bisa membebani orang-orang yang saya cintai.

Selama kurun waktu satu tahun saya mencoba untuk benar-benar bangkit, memaafkan diri saya dan mencintai diri saya sepenuhnya. Di pertengahan tahun saya kembali melamar di pekerjaan di tempat dulu saya bekerja dan kali itu bukan Iwan yang mewawancarai saya. Saat ini saya sedang bekerja di kantor yang sama dengan jabatan yang lebih baik.

Saya percaya bahwa ketika kita berani untuk mengakui kesalahan, mengikhlaskan apa yang telah terjadi, memaafkan diri sendiri dan memperbaiki diri, semua akan dimudahkan oleh Tuhan dan Dia akan terus menyediakan yang terbaik untuk saya. Sekarang saya sangat bahagia hidup bersama orang tua dan seorang lelaki yang akan menikahi saya bulan depan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top