Inspirasi

Seorang Ayah yang Tak Pernah Memeluk Anak Laki-Lakinya

Seorang Ayah yang Tak Pernah Memeluk Anak Laki-Lakinya

Malam hari, sisa hujan lebat masih menyisakan kabut tebal yang bergelayut menangkup segalanya. Mercedez melaju elegan, keluar dari areal pemakaman kemudian berkumpul bersama mobil lain, merayap menuju kota.

“Pak, tidak ditutup jendelanya? Nanti masuk angin,” sopir berbicara dari bangku kemudi.

Saya tak menyahut. Tidak saya indahkan khawatirnya, malah saya semakin menikmati gerimis menerpa wajah, saya memejamkan mata.

Musik Fur Elise menyapa permulaan alam kembara. Saya berada di ruang gelap, siang hari, hanya sinar matahari yang mampir lewat jendela-jendela besar. Melangkah lebih dalam, Fur Elise terdengar semakin jelas. Saya tersenyum. Bocah laki-laki yang memainkan Fur Elise itu menoleh, juga tersenyum. Saya menghela napas, melepas kepingan rindu yang terhimpun di dada.

Dua menit, Fur Elise selesai. Bocah laki-laki beranjak dari pianonya, berlari kecil mau memeluk saya. Saya menolak, membalikkan badannya dan meminta ia memainkan musik sekali lagi.

**

“Datangi saja perempuan itu! Sekalian tidak usah pulang!”

Saya mengenang ingatan lainnya. Ketika bocah laki-laki saya sudah remaja, dia tidak menghadiri seleksi penerimaan pianis internasional. Dia lebih tertarik mendatangi perempuannya yang menikah saja belum, sudah manja sekali minta dijenguk karena sakit sepele.

Saya menang pada pertengkaran kali itu. Meski seleksi penerimaan pianis telah lewat berjam-jam tapi setidaknya remaja laki-laki saya menurut untuk tidak pergi, saya ingin mengajarinya tidak terpedaya oleh cinta wanita. Dia gegas masuk kamar dan menutup pintu dengan sekali entakan seperti anak perempuan yang mengurung diri dalam tangisannya.

Tiga hari dia tidak keluar kamar. Makan diantar pembantu setiap hari, kadang dimakan setengah, kadang nasi beserta piringnya itu dilemparkan ke tembok. Saya cuek. Meminta pembantu membeli piring tiga lusin lagi untuk dia pecahkan.

Suara berdebam, benda dibanting-banting dan teriakan-teriakan amarah membangunkan saya dini hari itu. Asalnya dari ruang musik tempat remaja lelaki itu biasa berlatih.

Ruang musik kacau balau. Telapak tangan dan lengan remaja laki-laki mengucurkan darah segar. Saya kalap melihat darah sebanyak itu. Murka, mengetahui piano mendiang istri saya hancur, berpuing-puing dihantam kursi.

Saya ternyata lebih sayang kepada kenangan. Remaja laki-laki itu saya tampar, tendang, darah mengucur semakin deras sana-sini dan saya tidak peduli. Saya menangis sambil teriak-teriak. Merasa kedua kali kehilangan istri.

**

Sopir mengantar sampai ke rumah. Saya membuka pintu, aroma kesunyian menyergap. Dengan jiwa masih kosong, melangkah masuk ke ruang musik.

Piano rusak dan darah remaja laki-laki masih tersisa, sengaja tak kubereskan. Saya melihat keduanya dengan nanar.

Istri saya memainkan piano itu setiap hari, kami berdansa kemudian bercinta. Dia meninggal ketika mati-matian melahirkan bocah laki-laki. Tiap hari bagai neraka, saya merindukannya, tak ada cara bagaimana melampiaskan rindu ini.

Hingga bocah laki-laki itu membuka piano, duduk di depannya dan mulai memainkan Fur Elise. Saya merasa istri saya hidup kembali.

Setiap menit permainan bocah laki-laki serasa candu di ruang musik ini. Sebelumnya saya selalu kesal melihat bocah laki-laki itu, seolah melihat pembunuh wanita saya. Tapi begitu dia bermain piano, saya berubah teramat sangat mencintainya.

Saya menjadi terobsesi. Bocah laki-laki saya harus bermain piano sepanjang hidupnya. Saya bisa rindu mati-matian bila dia tidak memainkan sehari saja.

Dini hari itu, ternyata ia mengamuk sebab pacarnya mati. Sakitnya bukan demam, tapi leukimia yang sudah diidap lama.Remaja laki-laki balas dendam. Menghancurkan piano saya, istri saya mati dua kali.

Saya mengurungnya. Malam hari kemudian saya masih berbaik hati meminta pembantu mengantar makan. Tapi pembantu itu malah berisik, berteriak, katanya remaja laki-laki itu gantung diri.

Kini, saya hanya ingin berdiam di ruang musik ini, mengenang istri dan remaja laki-laki itu. Saya bahkan belum sempat menyeka luka bekas pukulan dan tendangan remaja laki-laki itu, saya terlalu angkuh untuk meminta maaf karena menyebabkan darahnya malah semakin deras.

Saya membencinya, sejak lahir tidak pernah sudi memeluknya. Sekarang hari tua saya berkabut penyesalan, menjalani sisa hidup sebagai seorang Ayah yang tidak pernah memeluk anak laki-lakinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top