Inspirasi

Siapa yang Sedang Bersamaku di Ranjang ini?

Siapa yang Sedang Bersamaku di Ranjang ini?

Angin dini hari mengetuk jendela. Iramanya mirip degup jantungku yang tengah mengalami perasaan tak biasa. Wanita yang sedang berbaring miring, berhadapan denganku di ranjang ini, membuat kepalaku penuh berpikir, siapa dia?

Cahaya terang dari rembulan mengenai wajahnya. Ia bergumam, mungkin merasa silau. Aku menutup tirai. Pelan-pelan, rapat, hingga ia boleh melanjutkan tidurnya.

Kupandang lekat wajahnya, aku beringsut mendekat agar lebih jelas. Dia istriku. Namanya Alia. Nyaris tiap malam, setelah kami sepakat untuk tidur, aku memandanginya begini. Kami memang baru menikah 3 hari, jadi, aku kadang masih norak dengan adanya seorang wanita berbaring bersamaku.

Setiap malam, setelah selesai melayani, dia akan bertanya, aku atau dia yang tidur duluan, atau kami sebaiknya tidur bersama. Aku sesaat merasa bangga, ada seorang wanita, yang bahkan untuk urusan memejamkan mata pun, harus menanyai pendapatku dulu.

Belum lagi kalau aku pulang dan berangkat kerja. Dia selalu mengantar atau menunggu di pintu, mencium tanganku dan membawakan tas kerjaku. Padahal ketika kami pacaran dulu, tiap dia belanja aku yang membawakan tas dan kantung belanjanya Sekarang sudah berubah. Aku suaminya. Dia menghormatiku. Dan lagi-lagi, aku merasa hebat.

Dulu kupikir, aku yang paling kuat dibanding Alia. Ternyata dia tak kalah kuat. Bangun duluan dan tidur belakangan. Pagi-pagi sudah mencuci baju, menyiapkan sarapan, dan belanja ke pasar. Bahkan, ketika aku bangun, dia sudah berdandan dengan cantik. Padahal yang kutahu, waktu dulu tiap akan berkencan dia biasa memakan waktu berjam-jam untuk berdandan. Terbayang, wanita ternyata menjadi lebih kuat setelah menikah.

**

Sebulan setelah menikah. Aku tidak bekerja hari ini. Aku sakit flu biasa, tapi Alia bilang flu adalah sumber dari segala macam penyakit yang lebih parah. Dia tidak ingin aku lebih sakit. Jadi aku meminta izin kerja.

Hari ini pun masuk tanggal tua. Alia hanya menyediakan sayur sop dan nasi putih di meja. Karena aku sakit, Alia tidak memakan sopnya. Dia hanya makan nasi, sopnya untukku. Sambil menyuapi, ia memintaku berjanji agar nanti kalau gajian aku harus membelikannya ayam panggang kesukaannya. Tentu dia bercanda. Tapi aku diam-diam menyanggupinya. Ayam panggang atau apapun, aku berniat dalam hati membelikannya agar dia bahagia. Karena, wajah Alia semakin cantik saja kalau sedang bahagia.

Malamnya aku menyarankan agar tidak tidur seranjang dulu. Dia bisa saja tertular. Jelas, aku tak sanggup bila wanita kuatku ini ikut sakit juga. Tapi, dengan manisnya, dia mengatakan, aku adalah vitaminnya, jadi berada di dekatku tak akan menimbulkan penyakit apa-apa. Lagipula katanya, dia harus memastikan agar aku tidur pulas dan besok cepat sembuh. Duhai, aku ingin memeluk Alia saat itu juga. Tapi obat flu membuatku ngantuk.

**

Besoknya aku sudah mendingan. Aku kembali bekerja, malam harinya kembali memandangi wajah Alia di sebelahku. Wajahnya sedikit lebih tirus tapi tetap cantik. Cahaya bulan yang menyapu wajahnya, membuatku akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaanku mengenai siapa wanita ini.

Alia, dia adalah istriku. Lebih dari itu, dia adalah seseorang yang menghormatiku dan tulus melayaniku. Dia seseorang yang telah sangat percaya padaku, melebihi diriku sendiri. Dia percaya karena bersedia menikah denganku berarti dia telah memasrahkan tubuhnya, hidupnya, bahkan kebahagiaannya padaku, suaminya.

Lagi-lagi aku merasa bangga. Bersyukur. Lebih-lebih, aku bersemangat. Aku akan membahagiakannya, melindungi, membuktikan bahwa percaya padaku tak ada salahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top