Inspirasi

Aku Rela Kebagian Derita, Tapi Aku Juga Punya Masalah

Teman sejati ada saat dikala suka maupun duka

Jakarta sedang ramai-ramainya. Semua kendaraan tumpah-ruah turun ke jalan, menyusuri rute pulang kerja. Aku di atas jembatan, duduk di atas motor yang kutepikan. Kulempar pandangan, lampu-lampu mobil dan taksi seperti aliran sungai yang cemerlang, berkelok-kelok mengikuti jalan.

Ponsel di saku bergetar sejak tadi, sejak rokokku masih utuh sebatang. Aku cuek, menyulut rokok lagi demi sengaja mengulur-ulur waktu.

Sambil mengalihkan rasa kesal, aku mencoba mengingat kapan persisnya aku mulai merokok. Mungkin sekitar enam bulan lalu, sewaktu suntuk datang menyergap, tanpa ampun membuatku jenuh dan lelah oleh pekerjaan.

Aku tahu rokok tidak baik untuk kesehatan. Aku tahu, perokok memiliki citra buruk di kalangan masyarakat apalagi aku adalah perempuan. Tapi, untuk sekarang ini biarlah. Sebelum memutuskan merokok, aku sudah berjanji akan berhenti suatu saat. Mungkin nanti, ketika seseorang hadir, dan keberadaannya mampu mengertiku dan membuatku nyaman, melebihi ketenangan saat merokok.

Ponsel bergetar lagi. Omong-omong soal seseorang yang pengertian, temanku satu ini sama sekali tidak dapat aku mengerti. Menelepon terus seperti ini di saat butuh, menghilang tak ingat kalau sedang senang.

Riani, namanya. Entah dia langsing atau gembul sekarang, kerja atau masih melanjutkan kuliahnya. Terakhir aku bertemu dengannya adalah sekitar dua tahun lalu, wajar kalau tidak tahu perkembangannya.

Terakhir, akulah yang mengajaknya bertemu. Dia menolak bukan pertama kali. Ya sudah, aku malas. Tapi tadi siang, dia tiba-tiba menelepon. Sembari suaranya lemas, ia berkata bahwa ia ada di kontrakanku sekarang. Itulah yang membuatku malas pulang malam ini.

Langit mendung meski jalanan bercahaya. Aku tidak bawa jas hujan. Aku menyumpah-nyumpah ketika ternyata Riani tak juga menyerah menghubungiku. Nuraniku akhirnya tergelitik. Baiklah, aku pulang.

**

“Aku kabur dari rumah, Put. Malam ini boleh ya, menginap di rumahmu?” Yani terus-terang begitu melihatku datang. Percayalah, aku bahkan belum turun dari motor. Aku tak menjawab dulu permintaannya. Aku mempersilakannya masuk dulu, membantunya membawanya koper sebesar gajah ke dalam, menyediakannya teh dan camilan seadanya, sambil terus merapalkan mantra kesabaran dalam hati.

“Kenapa kabur?” Aku menguncir rambut, memakai bando kain dan mulai mengoleskan krim pembersih wajah.

“Biasa, berantem sama Nyokap.”

Riani mengaku sudah capek bertengkar dengan ibunya terus. Katanya, ibunya begitu kolot hingga ia pulang pukul 03.00 dini hari saja sudah dikunci, Riani akhirnya tidur di teras.

Aku berhenti mengusap krim pembersih. Membuang napas, tak habis pikir. “Umur lo udah berapa sih, Ri?”

Baiklah, aku tak perlu bertanya, sebenarnya. Dulu, Riani dan aku selalu bertukar kado tiap ulang tahun. Kami lahir di tanggal sama, bulan sama, sepantaran. Umurnya nyaris 25, tapi dia masih suka keluar malam, bahkan rela bertengkar dengan ibunya cuma karena itu?

Aku pendam kuat-kuat kekesalanku. Aku tidak sejahat itu membiarkan dia tidur di jalanan, dia boleh menginap. Sementara Riani mandi, aku berdiam di kamar. Menyalakan ponsel, melihat foto Ibu.

Ibu, orang tua satu-satunya yang kumiliki itu meninggal setahun lalu. Hidup sebagai yatim piatu tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saudara lain jauh di kampung, aku dan Ibu dulu hanya nekat merantau. Ternyata, berat juga hidup seorang diri. Tak ada yang mengerti, tak ada yang peduli. Teman? Aku punya banyak. Tapi semuanya sejenis Riani. Datang hanya di saat butuh.

Riani masuk tepat ketika air mataku luruh, meluncur tak dapat dikontrol. Riani mendekat, merangkul punggungku yang gemetar. “Kenapa, Put?”

Malam itu, aku seperti mendengar sebuah pertanyaan yang agaknya tak pernah kudengar bertahun-tahun. Aku sesenggukan di pelukan Riani.

Beberapa saat, setelah puas mata sembab, aku menceritakan semuanya. Riani setia mendengarkan, menangis juga untukku. Aku menemukan Rianiku kembali.

Tak ingin kehilangan sesosok sahabat lagi, aku terus-terang malam itu juga. Selain memintanya pulang besok pagi dan cepat minta maaf pada ibunya, aku pun katakan, aku benci harus menganggap Riani adalah sahabat yang datang di saat butuh saja. Riani meminta maaf. Dan itu membuatku sadar, yang membuat aku dan Riani terpisah selama ini hanyalah komunikasi. Aku terlalu sibuk marah, terlalu berpikiran jelek tentang Riani. Padahal, Riani masih seperti dulu. Renggangnya persahabatan kami hanya salah paham.

Asal saling peduli, saling terbuka dan memaklumi, sahabat tidak akan benar-benar pergi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top