Inspirasi

Terlanjur Salah Mencintaimu

Terlanjur Salah Mencintaimu

…. Aku masih mencintainya.

Dari sekian banyak tulisan yang dibuat, hanya kalimat itu yang membuatku harus menelah ludah. Ternyata, suamiku masih mencintai kekasihnya yang dulu. Cemburu? Tidak. Aku hanya merasa heran, pernikahan lima tahun ini belum membuat kami saling mencintai meski sudah memiliki sang buah hati. Memang, kami menikah karena perjodohan orang tua kami masing-masing. Tapi, mau sampai kapan kami menjalani pernikahan hambar ini?

Kriiing… kriiing…

Nada dering bak suara bel sepeda terdengar, handphone-ku berbunyi membuyarkan semua.

“Nadia, kenapa dari tadi kamu tidak menerima panggilanku? Suamimu sedang kerja, kan?” suara Hendra terdengar dari telepon genggamku.

Hendra adalah lelaki yang sangat berarti bagiku. Dulu, kami teman satu organisasi saat kuliah di Yogyakarta. Kedekatan kami menjadikan kami saling menyayangi. Tidak ada kata cinta, tapi kami tahu saling mencintai. Tidak ada kata sayang, tapi kami tahu saling menyayangi. Kami menjalani hari-hari mengalir begitu saja, berbagi kasih, cinta, dan sayang. Layaknya pasangan anak muda-pacaran. Sekali lagi, Hendra adalah lelaki yang sangat berarti bagiku. Bukan hanya dulu, melainkan sampai saat ini. Dan aku yakin, sampai saat ini aku juga berarti untuknya.

Kami masih saling mencintai tapi tidak menikah. Barangkali, inilah yang disebut takdir. Jalan cerita cinta kami bersambung begitu saja setelah Hendra lulus kuliah. Setelah lulus, dia pergi ke luar kota tanpa ada kabar, alamat rumah, atau nomor telepon. Saat itu kami belum mempunyai handphone. Aku mencari informasi tentangnya tapi tak kunjung kutemukan. Sampai akhirnya di ujung usia, orang tuaku meminta supaya aku segera menikah. Pencarian Hendra sudah membuatku lelah. Aku pun menikah dengan lelaki pilihan orang tuaku.

Facebook telah mempertemukanku dengan Hendra. Aku menemukan Hendra sebulan setelah aku menikah. Saat itu aku merasa ingin mengulang waktu untuk membatalkan pernikahanku. Namun, keinginan itu padam setelah aku mengetahui kalau Hendra sudah menikah. Hendra menikah lebih dulu. Tak peduli dengan status perkawinanku atau perkawinan Hendra, aku menulis pesan untuknya di Facebook.

Rinduku sudah tak dapat terbendung, berkirim pesan lewat Facebook tidak cukup. Setiap pagi atau malam saat suamiku tidak di rumah, aku dan Hendra berbicara lewat telepon. Istri Hendra? Di setiap kesempatan Hendra berkirim pesan denganku dan bertelepon saat Hendra berada di Jakarta. Ya, dua minggu sekali Hendra berada di Jakarta untuk kerja. Kesempatan itu kami gunakan untuk saling bertelepon.

“Dari lubuk hatiku terdalam, aku mencintaimu.”

“Sama. Aku juga. Sampai saat ini bahkan aku masih mencintaimu.”

Bertahun-tahun kami saling mengenal, baru kala itu kami ungkapkan perasaan cinta, di saat masing-masing dari kami sudah menikah. Aku tahu ini salah. Tapi, entahlah..

Barangkali aku sudah tergila-gila pada Hendra, Barangkali karena aku merasa hambar atas pernikahanku. Barangkali.. barangkali.. ini garis cinta kami. harus diam-diam saling mencintai.

Mulai dari awal kehamilanku sampai putriku berusia empat tahun, aku masih saling berbagi kasih lewat suara dengan Hendra. Hanya lewat suara, belum pernah berjumpa.

Kini, Hendra di Jakarta hendak bertemu denganku. Aku belum siap bertemu dengannya. Aku takut terluka, Aku takut semakin mencintainya. Mencintai diam-diam itu sangatlah menyiksa.

Terlanjur Salah Mencintaimu
Terlanjur Salah Mencintai

“Sekali saja.” Hendra pantang menyerah membujukku.

“Apa kamu tidak takut kalau perasaan cinta kita semakin tumbuh?” tanyaku.

“Sudah terlanjur. Bertahun-tahun kita saling bertelepon dan berbagi kasih, itu sudah menumbuhkan cinta.”

Benar. Itu kesalahan. Kami menyadari salah tapi mengagungkan ego untuk saling bicara dan menumbuhkan kembali cinta yang pernah terpendam. Terlanjur. Iya, benar sudah terlanjur. Jika tidak ingin tumbuh, semestinya dari awal kami tidak saling bertelepon dan berbagi di setiap kesempatan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top