Inspirasi

Untuk Anak-Anakku yang Jauh dari Rumah dan Belum Menemukan Jalan Pulang

Untuk Anak-Anakku yang Jauh dari Rumah dan Belum Menemukan Jalan Pulang

Aku sedang menunggu anak-anakku. Duduk di teras, memandangi kebun bunga matahari yang mulai berubah menjadi warna oranye, dibasuh cahaya lembut senja. Aku masih ingat kapan bunga-bunga itu tertanam di sana. Empat tahun lalu, ketika anak-anakku masih di sini.

Sekarang bunga itu telah beranak banyak, anak-anaknya memenuhi tanah halaman yang dulunya kosong. Beda denganku yang semakin lama, semakin banyak kehilangan anak. Merelakan mereka merantau jauh memang harus seperti itu.

**

“Bu, tidak masuk? Sudah malam.”

Pembantuku, satu-satunya orang yang setia di rumah ini selain suamiku, memapahku masuk. Kakiku bahkan tidak kuat berjalan lagi, kecuali dengan tongkat atau bersandar pada bahu pembantuku. Anak-anakku, dulu Ibu masih kuat mengejar kalian berlarian di taman. Kini untuk berdiri saja Ibu sudah gemetar.

“Pintunya jangan ditutup ya. Sebentar lagi Nino pulang,” aku menyebut nama anakku yang bungsu.

“Kalau tidak ditutup nanti Ibu masuk angin.”

“Tidak apa-apa. Nino suka marah kalau terlalu lama menunggu di depan pintu.”

Sampai di kamar, aku minta didudukkan di tepi ranjang tempat suamiku tidur. Tanpa maksud membangunkan, aku membelai bibirnya yang kiri-kanannya sudah keriput, sama sepertiku.

Dia bangun, duduk, aku dengan sekuat tenaga membantunya. “Kau tidak tidur, Cantikku?”

Aku tertawa dengan gigi ompong. Dia selalu memanggilku cantik. Dulu itu pantas. Tapi sekarang, itu penghinaan buatku.

“Apa yang membuatmu gelisah?”

Aku tersenyum, memegang tangannya seperti biasa tiap kali aku mau mulai merajuk. “Anak-anak kita, kapan mereka pulang?”

Suamiku mengerang, menaruh tanganku ke tempat tidur sementara dia bersandar di tembok sambil memangku sebuah bantal. “Dulu, kau yang meminta mereka pergi jauh. Aku masih ingat. Kata kau, mereka harus mengenal dunia. Mencari uang, mencari ilmu. Kampung kita tidak bisa membuat mereka menjadi orang.”

Aku cemberut, menahan air mata yang menggantung di sudut mata tidak membesar lalu pecah mengalir ke pipi. “Aku kan ingin mereka sukses!” suaraku mulai gentar.

Suamiku, sejak dulu, memang tak pernah mau lama-lama melihatku menangis. “Iya, iya, sudah jangan menangis,” lalu menarikku ke dekapannya. “Memang sudah takdirnya, Cantikku. Anak kita yang pertama, harus ikut suaminya tinggal di luar kota. Yang lain merantau untuk bekerja. Si bungsu baru kemarin masuk kuliah di universitas di kota. Oh, ya, mana dia? Katanya mau mampir.”

Aku baru sadar sudah semakin malam, tapi Nino belum sampai rumah. Aku memanggil pembantu, meminta dia segera menelpon Nino.

**

Aku seorang pembantu di rumah kesepian ini. Tugasku merawat Ibu, nyonya di rumah ini yang sudah makin tua. Dia menua dengan menghabiskan setiap menit memikirkan anak-anaknya. Baru ingin melemaskan otot-otot, beristirahat, Ibu memanggil lagi, memintaku menelepon Nino.

Aku terpaksa mengambil ponsel di saku, pura-pura menelepon anak bungsunya itu. Tentu, aku tidak bisa sungguhan menelepon orang yang sudah mati, bukan?

Setiap hari memang begitu. Ibu duduk di teras, membiarkan kulitnya diterpa cahaya senja sambil memandangi bunga matahari. Lalu aku akan membiarkannya sendiri di kamar, membiarkannya bercakap-cakap sendiri. Dalam hatinya, mungkin ia berharap suaminya masih hidup, lalu dia akan bermanja, mengeluh tentang rindu tak terbendung untuk anak-anaknya. Setelah puas memintaku menelepon Nino, dan aku mengatakan padanya bahwa Nino sebentar lagi sampai, barulah ia tidur.

Sudah sejak lama tiga anaknya tak pulang. Yang terakhir pulang hanya Nino, diantar mobil jenazah karena kecelakaan bus saat perjalanan pulang ke sini. Suami Ibu meninggal malam itu juga, serangan jantung, kematian mendadak anak bungsunya membuat jantungnya ikut mati, tak mau lagi berdetak.

Ibu seperti raga tanpa jiwa semenjak malam itu. Ingatan tentang sakitnya kehilangan suami dan anak bungsu seolah terulang terus. Duduk di teras, mengeluh pada suaminya, memintaku menelepon Nino. Setiap sore hanya terulang seperti itu.

Sepanjang hari sisanya, Ibu hanya termenung di kamar, di kursi goyangnya sambil terus merapalkan sebuah kalimat berulang-ulang, “Merelakan mereka merantau jauh memang harus seperti itu. Ketika mereka pulang, kalau bukan aku yang mati duluan, mereka yang pulang dalam keadaan mati.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini

To Top