Inspirasi

Untukmu Tulang Punggung. Keluarga Bukan Beban, tapi Alasan untuk Bertahan

Untukmu Tulang Punggung. Keluarga Bukan Beban, tapi Alasan untuk Bertahan

“Maaf, saya tidak bisa mempekerjakan kamu lagi.”

Siapapun bila mendapat kalimat seperti itu pasti sedih. Tak terkecuali aku, yang beberapa jam lalu mendengar kalimat serupa dari bos pemilik toko kue tempatku bekerja. Aku dipecat.

Sekarang aku di pinggir jalan ini, sengaja duduk tak pergi-pergi dari bangku-bangku di depan minimarket. Kuabaikan pandangan petugas parkir yang penuh tanda tanya, sebab aku dan motor bebekku tak juga enyah dari lapaknya.

Ponselku sepi, tak ada Ibu yang menanyakan kenapa aku belum pulang. Aku sudah bilang duluan tadi, aku berbohong, mengatakan aku sedang lembur. Lembur apanya? Pekerjaan saja tidak punya!

Aku marah. Mengapa masalah datang di waktu seperti ini? Bapak sedang sakit. Ibu yang kepayahan merawatnya ikutan sakit. Adik laki-lakiku masih pengangguran seperti yang dia lakukan selama setahun belakangan. Aku satu-satunya harapan.

Untukmu Tulang Punggung. Keluarga Bukan Beban, tapi Alasan untuk Bertahan

Kerja keras untuk keluarga adalah tugas mulia, pekerja keras memiliki tempat terbaik di hati siapa saja.

Aku pikir ini tidak adil. Sebelum toko kue itu memecatku, aku cukup berjasa mengenalkan toko itu pada teman-temanku, bahkan aku ikut menyumbang resep baru berdasarkan pengalamanku dari kelas tata boga. Resepnya laris. Tapi imbasnya padaku tak manis.

Anak perempuan si bos, yang selama ini membuat resep dan memasaknya sendiri, tak terima resepku lebih laris dibanding buatannya. Dengan bulu mata palsu berkedip-kedip di matanya, dia pura-pura menangis saat aku berkemas tadi. Huh. Aku tahu dia yang meminta papanya memecatku.

“Neng, masih betah?” petugas parkir tadi, tahu-tahu sudah duduk mendaratkan celana basah oleh hujan itu ke bangku di seberangku.

Aku menjawab sekenanya. Bilang sedang menunggu hujan reda, padahal aku sedang mengenakan jas hujan lengkap dengan hoodie, pertanda siap menerjang hujan. Biarlah. Aku sedang tak peduli apapun.

Ponsel tiba-tiba berdering. Adikku menelepon, mau pinjam motor katanya. Aku membentaknya, “Enak aja lu, minjem-minjem motor! Gue lagi pusing, lu mau enak-enakan ngapel? Bukannya kerja lu!” Aku mematikan sambungan, mematikan ponsel, untung tidak sampai kulempar ponsel ini saking kesalnya.

Sedikit lega rasanya berteriak seperti tadi. Tapi, hujan yang semakin menderas ini, turun beriringan dengan rasa bersalahku.

Adikku tidak lulus SMA di sekolah formal, bahkan baru sempat mengikuti Ujian Paket C dua tahun setelah anak-anak seusianya lulus. Harusnya aku tidak membentak dia seperti tadi. Aku tahu dia berusaha kerja, mengojek tetangga pun mau. Dia hanya belum beruntung sebab belum ada perusahaan yang menerimanya yang datang dengan menerima ijazah Paket C di tangan.

Rolling door minimarket berderit ditutup, aku tersentak. Pramu toko menyapa pulang, aku juga bangkit menuju motor. Hujan sudah mulai jarang-jarang, aku melepas jas hujan, berpikir basah-basahan di bawah gerimis mungkin seru juga.

Sampai di rumah, disambut dengan cemberut adikku. Aku melemparnya dengan sarung tangan. Mengajak tertawa, sekaligus minta maaf dan memberinya kunci motor.

Batuk-batuk Bapak semakin parah saja. Ibu menyambut di depan pintu kamar Bapak, tersenyum hangat, aku mencium tangannya, Ibu menepuk-nepuk pundakku.

Aku masuk kamar. Bapak berusaha bangun tapi aku mencegahnya. Yang membuatku pilu adalah, Bapak meminta maaf, bahkan di saat infeksi paru-paru ini bukanlah salahnya. “Maaf yo, Nak. Kamu harus kerja sampai malam gini. Doakan Bapak cepat sembuh, biar kerja lagi.”

Aku menghambur memeluknya, ikut rebah dan terisak di dada kurusnya. Aku mendengar tirai disibak. Mungkin Ibu ingin masuk tapi urung.

Malam itu juga, aku menceritakan kepada Ibu, kepada Bapak dan Adik tentang dipecatnya aku. Kupikir mereka kecewa. Tapi ternyata, mereka tersenyum bangga padaku. Kata Ibu, biar istirahat dulu di rumah. Bapak juga bilang ingin ditemani tapi selama ini aku lembur terus. Adikku, dia gembira motorku bakal sering ada di rumah. Aku menimpuknya dengan cabe gorengan karena itu. Kami tertawa setelah itu. Rasanya hangat dan tenang.

Untukmu, tulang punggung sepertiku, jangan pernah anggap keluarga adalah beban. Mereka adalah tempatmu untuk pulang, bahkan ketika kau merasa tidak berarti, ketika kau pengangguran.

Masalah memang terasa berat karena ia datang di saat kita lemah. Masalah tak berarti ketika kita sedang kuat. Bersyukurlah, sebuah masalah akan membuatmu mengerti banyak hal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top