Inspirasi

Yang Kelaparan di Sekitar Restoran

Yang Kelaparan di Sekitar Restoran

Kayla, anak perempuan Sang Jutawan, tengah tertawa bersama teman-temannya di sebuah restoran. Segala macam dipesan. Ayam, daging sapi, ikan, bebek hingga kepiting dan udang. Nasi putih dan pasta, minuman buah hingga buah sungguhan.

Kayla asyik tertawa, menertawakan segala macam hal dengan teman-temannya. Hanya satu-dua kali makanan dan minuman dinikmati.

Belum habis, makanan penutup dipesan. Kue yang terbuat dari keju Belanda, eskrim yang terbuat dari coklat Belgia. Kemudian Kayla membayar semuanya, mengajak teman-temannya ke tempat lain, makanan dan minuman ditinggalkan di meja.

**

Seorang pelayan merapikan meja bekas Kayla dan teman-temannya. Ia memandangi makanan di meja satu per satu. Ayam, daging sapi, ikan, bebek hingga kepiting dan udang semuanya tampak menggiurkan. Pelayan menelan ludah. Perutnya keroncongan.

“Lho, mau diapakan? Tidak dibuang?” Seniornya heran melihat semua makanan sisa itu malah ditaruh di sebuah kotak makan, bukannya di buang ke tempat sampah.

Pelayan hanya terdiam. Sambil tetap menggenggam kotak makan erat-erat, ia menunduk, berharap senior tak menghiraukan dan cepat pergi.

**

Seekor kucing meringkuk lemas di depan restoran. Tubuhnya kurus, bulunya rontok, penuh luka. Habis-habisan ia berkelahi dengan kucing lain yang lebih kuat, lebih sehat, saling berebut tulang di tempat sampah. Tulang secuil saja, menghabiskan separuh tenaga yang ada di tubuhnya. Akhirnya kucing lain yang dapat, dia hanya dapat lemasnya saja.

Gerimis berubah menderas. Orang-orang meneduh di depan restoran karena atap di sana menjuntai, bisa melindungi. Teras restoran menjadi penuh. Si kucing ditendang oleh orang-orang yang mencari tempat berteduh.

Si kucing terpaksa duduk di bawah hujan, memandangi sepatu hak tinggi berwarna merah yang tadi menendangnya. Sepatu Kayla.

**

Seorang Nenek berpakaian kumal, mengambil kucing itu, membawanya ke lorong kecil di sebelah restoran. Diusapnya kepala kucing, diajak duduk bersama di atas karung goni, si Nenek membuka bungkusan berisi nasi yang ia beli dari hasil menjual gelas plastik bekas, dibiarkan si kucing memakan dengan lahap.

Nenek mencium aroma masakan dari restoran, membuat perutnya keroncongan. Nenek sebisa mungkin menahan ludah, menunggu kucing selesai memakan apa yang bisa dimakan dari nasi itu, barulah ia menghabiskan sisanya.

Suara tawa Kayla dan teman-temannya membuat Nenek menoleh, matanya terasa basah. Mungkin, cucunya sudah sebesar Kayla sekarang. Sayang sekali, anaknya tak menginginkan kehadiran Nenek, jadi Nenek tak bisa lagi bertemu cucunya.

**

Jam kerja si pelayan akhirnya selesai. Ia menerobos kerumunan orang-orang yang berteduh di depan restoran. Hujan sudah semakin deras. Kayla memanggil ojek payung, berteriak-teriak heboh karena terpaksa melintasi becekan. Pelayan menggenggam plastik berisi kotak makan. Makanan sisa Kayla dan teman-temannya ada di dalam kotak makan itu. Hatinya malu meski Kayla tak tahu.

Untuk menuju rumah, si pelayan harus melewati lorong sebelah restoran kalau tak mau kena hujan. Bertemu dengan Nenek tua yang tengah meringkuk bersama kucing kurus, langsung membuat hatinya tergerak. Terpikir untuk menaruh kotak makannya di sana, tapi ia takut makanan sisa itu tak layak.

Sambil merasa ragu, ia merogoh kantung celana. Masih ada dua lembar uang sepuluh ribuan yang cukup untuk membeli dua roti keju dari restoran. Semula, uang itu untuk ongkos berangkat kerja besok. Tapi, mungkin berjalan kaki sedikit tak apa. Asal Nenek dan kucing itu cukup makan, tidak menggigil kelaparan malam nanti.

Pelayan kembali ke restoran, membeli dua roti sambil terus menggenggam kotak makan berisi makanan sisa Kayla.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top