Life

3 Hal Penyebab Sulitnya Meminta dan Memberi Maaf

3 Hal Penyebab Sulitnya Meminta dan Memberi Maaf

This post is also available in: English

Maaf’ adalah sebuah kata yang sederhana akan tetapi membawa konsep yang sangat abstrak dan kompleks. Hampir setiap konflik dapat diakhiri dengan saling memaafkan.

Sebaliknya, konflik dapat berkepanjangan apabila kata maaf tidak dikeluarkan. Kompleksitasnya adalah ‘maaf’ menuntut setiap pihak yang berkonflik untuk ‘meminta’ dan ‘memberi’.

David Ludden, PhD., kontributor Psychology Today, dalam artikelnya mengungkapkan bahwa mengeluarkan perkataan maaf merupakan tantangan bagi setiap tingkat intelejensia manusia, karena seringkali pihak yang bersalahpun enggan mengeluarkan kata maaf.

Berikut adalah tiga hal yang dikemukakan David yang menyebabkan keengganan seseorang untuk meminta, atau sebaliknya, memberi maaf.

3 Hal Penyebab Sulitnya Meminta dan Memberi Maaf
Maaf

Kepedulian yang Rendah

Apabila konflik terjadi di suatu hubungan asmara, sulitnya memberi atau meminta maaf pada umumnya disebabkan oleh kepedulian yang rendah terhadap satu sama lain dan kelangsungan hubungan itu sendiri.

Walau bagaimanapun, menurut David, permintaan maaf adalah upaya untuk memperbaiki sebuah hubungan. Motivasi untuk memberi ataupun meminta maaf datang dari rasa peduli dari hubungan tersebut dan juga empati atas pihak yang dirugikan.

Merasa Citra Dirinya Terancam

Karina Schumann, psikolog dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat, mengungkapkan fakta lain dalam konteks ini. Dalam penelitiannya, Karina mengungkapkan bahwa seseorang yang memiliki sifat narsisme cenderung sulit meminta maaf meskipun dirinya mengetahui bahwa ia bersalah.

Seorang narsis memiliki tingkat empati yang sangat rendah. Pada dasarnya setiap orang memiliki nilai-nilai kebaikan, termasuk mereka yang narsis. Bedanya, ketika mereka menyakiti seseorang, citra dirinya adalah hal pertama yang menjadi pertimbangan.

Maaf Bukanlah Solusi

Mereka yang enggan memberi maupun meminta maaf memiliki pemikiran bahwa maaf bukanlah solusi sehingga percuma saja untuk dilakukan.

Kalimat-kalimat justifikasi poin ini biasanya seperti, “Lalu apa setelah bermaaf-maafan?” atau “Lalu masalahnya selesai setelah minta maaf?” Dalam konteks ini pula, David mengungkapkan bahwa korban (pemberi maaf) menjadi pihak yang memainkan peranan penting.

Ketika seorang pelaku (pemohon maaf) menunjukkan penyesalannya dengan tulus, korban dapat mengakhiri segala konflik yang terjadi dengan memberi maaf.

Di lain pihak, pemohon maaf juga perlu menyadari bahwa permohonan maaf yang tulus tidak serta-merta diikuti oleh pemberian maaf yang utuh.

Baca Juga : Cara Tepat Untuk Meminta Maaf

Walau bagaimanapun, permohonan maaf yang tulus tetap harus ‘diproses’ oleh waktu. Selain itu, permohonan dan pemberian maaf berhubungan dengan relasi kuasa atas kelanjutan hubungan. Artinya, apabila setiap pihak tidak legowo dalam pemberian dan permohonan maafnya, konflik dapat terjadi kembali dengan saling mengungkit dan menyalahkan.

Baca Juga : Maaf dan Terimakasih, Dua Kata Super yang Kadang Sulit diucapkan

To Top