Life

Antara Perempuan dan Perhiasan

Jika diperfilm-an heboh mengenai film pengabdi setan. Kali ini saya akan bahas mengenai kehidupan perempuan dengan segala keunikannya. Perempuan selalu menjadi sorotan publik serta objek perbincangan yang menarik. Bukan hanya dikarenakan sisi keindahan dari seorang perempuan. Namun, perempuan juga lebih luwes serta leluasa untuk berpendapat serta berkarya di era modern ini.

Mengenai keindahan, jangan ditanyakan lagi. Hampir semua perempuan menyukainya. Seperti halnya satu ini, perhiasan. Perempuan mana yang tidak menyukai perhiasaan. Apalagi perempuan dewasa yang sudah bekerja.

Perhiasan layaknya penunjang kepercayaan diri yang hakiki, terutama bagi ibu-ibu yang akan pergi ke kondangan. Tau sendirilah, memakai perhiasaan, anting, gelang atau kalung bisa meningkatkan eksistensi.

Bukan hanya ibu-ibu, saya aja kalau lihat cincin emas dengan hiasan permata kecil, rasanya pengen beli terus. Tapi kalau nurutin nafsu nggak akan ada habisnya.

Memiliki satu hingga dua perhiasan wajar. Karena perhiasan seperti anting, menjadi suatu penanda atau identitas bagi perempuan. Meskipun, beberapa perempuan terkadang tidak mau memakai anting.

Bagi orang yang sudah bekerja, minimal punyalah sebuah cincin atau gelang. Bukan hanya buat kondagan, tapi hal tersebut menunjukan bahwa ia mampu memiliki barang berharga dari hasil jerih payahnya. Kalau kata orang jawa sih “temanja” alias ada hasil yang berwujud dan bermanfaat. Karena emas tetap akan naik disetiap tahunnya, meskipun ada fase naik turun dalam setiap periode.

Jangan heran lagi dengan istilah saya perempuan pengabdi perhiasaan. Ketika mengenal perempuan jawa pun bukan hanya perempuan dewasa atau ibu-ibu yang memiliki perhiasan, sampai simbah-simbah juga memiliki perhiasaan. Biasanya cincin, gelang atau liontin. Benda berharga tersebut memang tidak dipakai, hanya sebagai simpanan yang nantinya akan diwariskan ke anak atau cucu yang disayang.

Diacara apapun yang bisa dikatakan aktivitas publik kaum hawa akan berlomba-lomba untuk memamerkan perhiasaannya, bukan ke pamer sih. Hanya saja mereka pengen diakui bahwa mereka memiliki perhiasan.

Kondangan dan pesta menjadi acara utama untuk ajang memperlihatkan peerhiasan. Perempuan mana yang nggak memakai perhiasan di kondangan. Dijamin 1:1000 jika memang ada. Minimal mereka memakai perhiasan imitasi untuk menuruti gengsinya.

Setelah kondangan ada acara yang sering menjadikan perhiasaan sebagai objek bersaing, yaitu acara keluarga. Nah, pasti kalian juga ingin terlihat wah dan mewah di acara keluarga kan? Apalagi acara keluarga besar. Gengsi kalau telanjang tanpa perhiasan.

Acara lain pun menyusul menjadikan perhiasaan sebagai daya tarik menambah kepercayaan diri. Seperti acara reuni atau kongkow bareng temen lama. Siap aja nih lirik kanan dan kiri.

Perempuan pengabdi perhiasan bukan sepenuhnya penghasilan dibelanjakan perhiasan. Hanya, setiap perempuan menyukai segala perhiasan entah berbahan emas, mutiara, berlian atau sekedar perak. Setiap perempuan memiliki selera masing-masing.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top