Life

Wajib Perhatikan! 5 Etika Pergaulan Penting untukmu

Etika Pergaulan Penting untukmu

Hidup sangat erat dengan yang namanya etika. Etika sendiri merupakan segala sesuatu yang dinilai baik dan buruk, baik dalam berperilaku maupun nilai-nilai lainnya. Nah sebagai anak muda kamu harus memiliki etika pergaulan. 

Hal ini akan memudahkanmu dalam bergaul dengan orang lain. Dengan begitu, kamu pun akan lebih dihargai oleh teman sepergaulanmu. Namun sayangnya banyak anak muda yang masih mengabaikan etika ini. 

Untuk itu, kamu wajib memperhatikan 5 etika pergaulan berikut ini. Apa saja ya? 

Ketika teman berbuat salah, ingatkan dia secara personal 

Dalam ranah pergaulan, meskipun satu frekuensi, bisa saja perilaku temanmu kurang beretika di depan orang lain. Kamu yang mengetahui hal ini salah tentu saja wajib mengingatkan temanmu. Seperti itulah teman yang baik. Jangan malah membiarkannya diejek teman lain karena melakukan hal yang salah. 

Namun, dalam menegur teman, kamu juga perlu memahami cara yang tepat. Jangan menegur teman ketika dalam keramaian, seperti tempat umum, tepat saat dia melakukan kesalahan. Hal tersebut malah menjadikannya malu. Alhasil, sikap menegur yang seperti itu secara tidak langsung akan menjatuhkan harga dirinya. 

Baca Juga : Sahabat, Sesosok yang Menawarkan Berbagai Rasa Kehidupan

Lantas, cara menegur yang benar seperti apa? Kamu dapat mengingatkan temanmu secara personal. Dengan kata lain, ingatkanlah dia di belakang, jangan di muka umum. Dengan begitu, dia pun lebih dapat menerima tanpa merasa dipermalukan. 

Masih menagih oleh-oleh ketika teman berlibur? Etika pergaulan kamu masih salah! 

Ketika temanmu memberitahu bahwa dia akan berlibur, banyak di antara kita yang kemudian terceletuk meminta oleh-oleh. Hal tersebut sangat wajar dalam pergaulan. Apalagi jika bersama dengan teman akrab. Bisa jadi jawaban itu hanya dijadikan gurauan saja. 

Namun ternyata itu ada etikanya lho! Ketika temanmu pergi liburan, sebaiknya kamu tidak meminta oleh-oleh, barang untuk bercanda saja. Alasannya karena oleh-oleh merupakan pemberian secara sukarela, bukan kewajiban. 

Artinya, teman yang berlibur tadi tidak memiliki kewajiban untuk memberimu oleh-oleh. Walaupun ketika kamu meminta bisa jadi dirinya menganggap oleh-oleh menjadi wajib. Akan tetapi, semestinya kamu tidak bersikap demikian. 

Baca Juga : Berburu Oleh-oleh Tanpa Rasa Khawatir

Jika begitu, temanmu bisa merasa keberatan dengan oleh-oleh yang kamu minta. Bukan fokus berlibur, melainkan fokus memikirkan oleh-oleh yang cocok untukmu. Belum lagi ketika ia dan keluarga telah menerapkan prinsip liburan hemat. Nah loh, oleh-olehmu jadi beban kan? 

Jangan memaksa mereka untuk selalu ada 

Poin ketiga ini sering diabaikan dan dilupakan. Tak dapat dimungkiri, sering kali kita menuntut teman kita untuk selalu ada ketika kita membutuhkan. Misalnya di tengah situasi kegalauanmu, seketika kamu ingin teman tersebut hadir mendengarkan celotehanmu. 

Padahal etika pergaulan yang benar, kamu tidak semestinya memaksa dia agar selalu ada. Sebab, setiap orang tentu memiliki kesibukannya masing-masing. Ada aktivitas yang memang tidak dapat ditunda. Ada juga yang sudah memiliki jadwal harian yang tetap. 

Selain itu, suasana hati orang lain bisa jadi berlawanan denganmu. Saat kamu merasa bahagia, bisa saja temanmu sedang berduka atas kematian keluarganya. Dalam situasi kali ini tentu kamu tidak boleh memaksa dia agar seirama denganmu. 

Artinya kamu juga harus perhatikan situasi dan kondisi. Jika ingin meminta bantuan dengan cepat, bertanyalah terlebih dahulu. Apakah temanmu itu sedang sibuk? Jika iya, sebaiknya kamu meminta orang lain yang memiliki waktu senggang untuk membantumu. 

Meminjam Barang: Harus Dijaga dan Dikembalikan 

Meskipun kecil, hal sederhana ini masih jarang diterapkan. Contohnya, ketika kamu meminjam barang temanmu, kamu malah meminjamkannya kepada orang lain tanpa seizin darinya. Bagi teman yang baik-baik saja, hal ini tidak apa-apa. Namun bagi mereka yang sensitif, tentu menjadi masalah. 

Padahal, etika pergaulan sebenarnya memang begitu. Jangan meminjamkan barang milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Jika kamu sedang meminjam, jagalah barang tersebut dengan baik. Jaga kondisinya agar tetap utuh seperti semula. 

Sangat tidak disarankan untuk meminjamkan barang pinjaman. Sebab, selain tidak memiliki izin, barang yang dipinjamkan lagi itu bisa saja mengalami kerusakan. Dan yang harus menanggung tentu kamu sebagai peminjam pertama. 

Untuk meminimalisasi risiko tersebut, pahamilah etikanya dengan benar. Simpan barang jika belum akan dikembalikan. Kedua segera kembalikan barang setelah kamu selesai memakainya. 

Etika Pergaulan Penting dalam Berkirim Pesan 

Kamu pasti pernah menemui orang yang menyapa dengan “P”. Satu huruf tersebut katanya mengindikasikan “ping” yang biasanya ada dalam BBM. Jika ditinjau, sapaan tersebut sangat tidak sopan. Sebab, menyapa dalam chat dengan menggunakan satu huruf saja itu termasuk tidak beretika. 

Jika ada salam, mengapa harus diwakilkan dengan satu huruf P? Ada lagi yang membalas chat dengan menuliskan “Y” saja. Satu huruf tersebut sering diartikan sebagai “ya” atau “iya”. Namun disingkat menjadi huruf y saja menjadikan hal tersebut tidak beretika. 

Kasus ini sangat sering ditemui dalam pergaulan anak muda. Selain P dan Y, ada juga “G” yang sepertinya mewakili jawaban “ga”, “engga”, “gak”, atau “tidak”. Pertanyaannya kenapa tidak menjawab lengkap saja? Toh cuma maksimal lima huruf saja. 

Secara etika, membalas chat dengan cara tersebut tidaklah benar. Sebab, orang yang mengobrol via chat tersebut bisa menganggapmu tidak menghargainya. Meskipun kamu sedang sibuk, jangan pernah membalas dengan pesan singkat yang berupa satu huruf saja. 

Sebaliknya, jawablah setiap pesan dengan baik. Jika memang perlu singkat, pilihlah kata-kata yang tepat untuk mewakili isi pesanmu, bukan hanya dengan huruf saja. 

Dari lima etika pergaulan sederhana tersebut, mana yang sudah kamu terapkan? Hal sederhana tersebut pasti bisa kamu terapkan kok! Meskipun kamu berkawan baik dan sangat akrab, tetaplah menjaga etika dalam bergaul. 

Baca Juga : Aturan dan Etika yang Mesti Ditaati Saat Berkunjung Ke Jepang

Sebab, jika kamu terus-terusan tidak mengubah perilaku, hal ini bisa terbawa ketika kamu mengenal orang baru. Bahkan bisa menjadi sebuah karakter. Untuk itu, mulailah memperbaiki etika dan milikilah etika yang baik dalam berbagai lini kehidupan. Selamat praktik! 

To Top