Life

Hukum Suami Menyusu Kepada Istri

Hukum Suami Menyusu Kepada Istri

Apakah boleh seorang suami menyusu keistrinya atau menetek kepada Istrinya? Apakah hal itu bila di lakukan tidak mengakibatkan kegagalan nikah karna telah menjadi mahram? Yang kemudian Istrinya berganti status sebagai Ibunya? Begitukah yang terjadi bila di lakukan?

Baiklah mari kita telusuri sumber hukumnya, yang mana Allah telah memberikan garis-garis yang jelas dalam Firmannya, tentu saja walaupun disini kami sebut dengan kata menjelaskan, tetapi kita harus tetap meninjau penjelasan Ulama dalam masalah Hukum, Karena sudah jelas Ulama lebih faqih daripada kita yang tidak jelas kapasitasnya. Adapun Firman itu sebagai berikut :

{ نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم } قال يقول يأتيها من حيث شاء مقبلة أو مدبرة إذا كان ذلك في الفرج

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Disebutkan maksudnya gaulilah ia sesukamu baik dari depan atau belakang asalkan semuanya mengarah pada farjinya. [Al-Muhaddzab II/62]

الاستمتاع واجب على الرجل للمرأة إذا انتفى العذر، بما يحقق الإعفاف والصون عن الحرام، وتباح كل وجوه الاستمتاع إلا الإتيان في الدبر فهو حرام. ومكان الوطء باتفاق المذاهب: هو القبل، لا الدبر (1) ، لقوله تعالى: {نساؤكم حرث لكم، فأتوا حرثكم أنى شئتم} [البقرة:223/2] (2) أي على أية كيفية: قائمة، أو قاعدة، مقبلة، أو مدبرة، في أقبالهن (3) . قال ابن عباس: إنما قوله: {فأتوا حرثكم أنى شئتم} [البقرة:223/2]. قائمة، وقاعدة، ومقبلة، ومدبرة، في أقبالهن، لا تعدو ذلك إلى غيره. وله عبارة أخرى في الآية: إن شئت فمقبلة، وإن شئت فمدبرة، وإن شئت فباركة، وإنما يعني ذلك موضع الولد للحرث، يقول: ائت الحرث حيث شئت.

Menggauli hukumnya wajib bagi seorang suami pada istrinya bila tanpa adanya udzur untuk menjauhkan dan menjaga dari dari keharaman, dan diperbolehkan senggama dalam berbagai cara asalkan bukan pada lubang anusnya karena ini haram. Tempat yang digunakan ‘bercinta’ menurut kesepakan ulama adalah kelaminnya bukan duburnya, berdasarkan firman Allah ta’aalaa :

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Artinya dengan berbagai macam cara dan gaya : Berdiri, duduk, dari depan, belakang asal dikelaminnya.

Berkata Ibn Abbas ra. “maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Artinya dengan berbagai macam cara dan gaya : Berdiri, duduk, dari depan, belakang asal dikelaminnya jangan melampaui batas pada yang selain kelamin.

Ibn Abbas juga punya pernyataan lain sehubungan ayat ini “Bila kamu ingin gaya dari depan silahkan, Bila kamu ingin gaya dari belakang silahkan, Bila kamu ingin gaya setengah menderumpun silahkan, aku mengartikannya khusus pada tempat lahirnya anak (kelamin), datangilah dengan gaya sesukamu”[Al-Fiqh al-Islaam IV/191].

Baca Juga : Apakah Anda Takut Dengan Istri Anda ? Baca Ini!

Kemudian di saat bercumbu tiba-tiba Air susu istri sengaja ditelan apakah hal itu tidak menyebabkan menjadi Mahram? Mari kita lebih fokus dengan penjelasan Ulama, bagaimana Feqih menjelaskan hal ini. Dalam kitab Fathul Mu’in di sebutkan : Syarat-syarat menyusu yang menjadikan mahram ada 5, kami bahas salah satunya saja :

[1] Usia anak yang menyusu tidak lebih dari 2 tahun Hijriyah. Hal ini didasarkan ayat :

ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﺍﺕُ ﻳُﺮْﺿِﻌْﻦَ ﺃَﻭْﻟَﺎﺩَﻫُﻦَّ ﺣَﻮْﻟَﻴْﻦِ ﻛَﺎﻣِﻠَﻴْﻦِ ﻟِﻤَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮﺩِ ﻟَﻪُ ﺭِﺯْﻗُﻬُﻦَّ ﻭَﻛِﺴْﻮَﺗُﻬُﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻟَﺎ ﺗُﻜَﻠَّﻒُ ﻧَﻔْﺲٌ ﺇِﻟَّﺎ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﻀَﺎﺭَّ ﻭَﺍﻟِﺪَﺓٌ ﺑِﻮَﻟَﺪِﻫَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻣَﻮْﻟُﻮﺩٌ ﻟَﻪُ ﺑِﻮَﻟَﺪِﻩِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻮَﺍﺭِﺙِ ﻣِﺜْﻞُ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩَﺍ ﻓِﺼَﺎﻟًﺎ ﻋَﻦْ ﺗَﺮَﺍﺽٍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﻭَﺗَﺸَﺎﻭُﺭٍ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺗُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗَﺴْﺘَﺮْﺿِﻌُﻮﺍ ﺃَﻭْﻟَﺎﺩَﻛُﻢْ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻠَّﻤْﺘُﻢْ ﻣَﺎ ﺁَﺗَﻴْﺘُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼِﻴﺮٌ (233)

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.

Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah-233) Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Daruqutni dari Sahabat Ibn Abbas Rasulullah SAW bersabda:

ﻻَ ﺭَﺿَﺎﻉَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﻟَﻴْﻦِ

“Tidak ada hukum persusuan kecuali dalam usia kurang dari dua tahun” Air susu berasal dari perempuan yang sudah berumur 9 tahun Hijriyah.

Keluarnya susu pada waktu masih hidup. Susu yang diminum sampai keperut besar atau otak si anak. Masuknya air susu di waktu sianak dalam keadaan hidup dan tidak kurang dari lima kali susuan. Karenanya, bila seorang lelaki dewasa yang minum susu istrinya hal ini tidak berpengaruh terhadap hukum mahram, dalam arti istrinya tidak menjadi ibu susuan.

Namun bila suaminya adalah seorang bayi yang kurang dari 2 tahun (mungkin ini belum pernah terjadi, namun tetap sah secara syariat) dan memenuhi syarat di atas maka dia menjadi anak susuan, istrinya menjadi ibu rodho’ dan status pernikahannya batal.

Baca Juga :

Puasa dan Kualitas Sperma

Doa Istri Ketika Suami Hendak Pergi

Contoh : seorang anak bayi yang belum genap 2 tahun dinikahkan dengan janda yang baru melahirkan. Kemudian istri menyusui suami kecilnya sampai lima kali susuan maka status pernikahannya batal, status istri berubah menjadi ibu rodlo’, mantan suaminya menjadi ayah rodlo’, dan suami kecilnya menjadi anak rodlo’.[2]

أما إن كان كبيرا زائدا على الحولين ورضع فإن رضاعه لا يعتبر وذلك لقوله تعالى : { والوالدات يرضعن أولادهن حولين كاملين }

Orang yang sudah dewasa (diatas usia 2 tahun) saat menyusu tidak menjadikan nasab dengan yang menyususui.[Al-Fiqh ‘ala Madzaahi al-Arba’ah IV/126].

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top