Life

Maulid Nabi, Ekspresi Kegembiraan atas Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi

Substansi dari tradisi peringatan Maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi ternyata banyak orang keliru memahami substansi maulid Nabi sehingga mereka benci Maulid Nabi Muhammad, bahkan sebagian kalangan menuduh acara maulid Nabi adalah bid’ah sesat, ghuluw (berlebihan, kultus individu) dan pemujaan terhadap kepada Nabi yang tidak dibenarkan, dan para pelakunya akan masuk neraka.

Sebelum kami sampaikan tentang dalil dalil yang menjadi dasar mayoritas kaum muslimin di dunia menyelenggarakan acara maulid Nabi, perlu kami sampaikan dulu beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan maulid Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dalam konteks pelaksanaannya setiap bulan Robi’ul Awal :

  • Kami berkeyakinan bahwa perayaan maulid Nabi dengan cara berkumpul untuk membaca dan mendengar Siroh Nabawi (perjalanan hidup Nabi), menghaturkan sholawat salam untuk beliau, melantunkan qosidah-qosidah pujian kepada beliau juga mendengarkannya, bersedekah makanan, dan membahagiakan orang banyak adalah perkara yang diperkenankan agama.
  • Kami tidak pernah menganjurkan untuk merayakan maulid Nabi dengan cara-cara di atas hanya pada waktu atau hari tertentu, bahkan barangsiapa meyakini kesunnahan merayakan maulid Nabi pada malam tertentu adalah bagian dari tuntunan agama, maka ia telah berbuat bid’ah, karena mengingat dan menyebut Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam serta berupaya mengaitkan diri dengan beliau adalah kewajiban yang tidak dibatasi dalam waktu tertentu, dan bahkan setiap jiwa orang beriman hendaknya dipenuhi dengan kecintaan yang membangkitkan keinginan untuk mengikuti apa yang telah beliau ajarkan.
  • Berkumpulnya manusia dalam moment tersebut juga moment-moment baik yang lain adalah sarana besar dan merupakan kesempatan emas yang tidak patut untuk dilewatkan, terutama bagi para da’i dan para ulama untuk mengingatkan ummat pada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, mengingatkan tentang akhlak beliau, etika beliau, tindak-tanduk beliau, perjalanan hidup beliau baik dalam bersosial maupun dalam beribadah. Dan hendaknya para da’i dan para ulama menasehati ummat, memberi petunjuk mereka menuju jalan kebajikan, memberi peringatan agar meninggalkan keburukan serta akibat yang ditimbulkan yang berupa bala’ dan fitnah baik di dunia maupun di akhirat.

Dan Alhamdulillah, inilah yang terjadi sampai sekarang dalam setiap moment peringatan maulid Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka kami katakan

“Bahwa berkumpul dalam memperingati maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam bukanlah tujuan, akan tetapi ia adalah sarana yang mulia untuk tujuan yang mulia, dan barangsiapa yang tidak dapat mengambil sedikit pun kemanfaatan dari agamanya maka ia akan terhalang untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan hari lahirnya Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam”

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Maulid Nabi

  1. Peringatan maulid Nabi hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang Syar’iy (benar menurut agama)
  2. Tidak dibenarkan menyelenggarakan perayaan maulid Nabi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam agama seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam arak-arakan, adanya laki-laki yang memakai pakaian perempuan, dan lain-lain. (lihat Fatwa Hadhrotus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Tanbihaatul Waajibaat Li Man Yashna’ul Maulid Bil Munkaroot).
  3. Apa yang terjadi disebagian kalangan yang berupa keyakinan bahwa jasad Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam keluar dari pusaranya dan hadir dalam majlis maulid, sehingga mereka menyediakan tempat khusus dengan hamparan permadani dan taburan bunga, adalah perkara yang dibuat-buat yang sama sekali tidak memiliki dasar. (Dzikroyaat Wa Munaasabaat karya As Sayyid Al Muhaddits Prof. Dr. Muhammad Ibn Alwi Al Maliki, hal. 110)

Dalil-Dalil Diperbolehkannya Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi Muhammad SAW
  • Perayaan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam adalah ungkapan kebahagiaan dan kegembiraan atas hadirnya Rosulullah Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Dan dalam hal ini Imam Al Bukhori meriwayatkan sebuah Hadits :

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

‘Urwah berkata ; Tsuwaibah adalah budak perempuan Abu Lahab, ia memerdekakannya kemudian Tsuwaibah menyusui Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, ketika Abu Lahab meninggal sebaian keluarganya diperlihatkan Abu Lahab (dalam mimpi) dalam kondisi terburuk, ia bertanya kepada Abu Lahab ; “Apa yang engkau dapati ?” Abu Lahab menjawab : “Aku tidak mendapati apapun setelah kalian, hanya saja aku diberi sedikit minum sebab kumerdekakan Tsuwaibah.”  (HR. Al Bukhori)Adalah perkara yang masyhur dikalangan para ulama, bahwa yang melatar belakangi Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah adalah kegembiraannya atas berita kelahiran Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.

  • Berbahagia dan bergembira atas karunia dan rohmat Allah adalah perkara yang dituntut agama untuk dilakukan, sebagaimana firman Allah :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan dengan rohmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)Sedang dalam ayat lain Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al Anbiyaa’ : 107)Maka kami bertanya : Pantaskah orang yang beriman dan berakal sehat mempertanyakan alasan kebahagiaan ummat Islam di hari kelahiran Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ?

  • Rosulullah Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam mengagungkan dan mensyukuri hari kelahiran beliau dan mewujudkannya dengan cara berpuasa. Sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab :

“Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu wahyu diturunkan padaku.” (HR. Muslim)

Inilah maksud yang terkandung dalam perayaan maulid Nabi, meskipun bentuk ungkapan rasa bahagia dan rasa syukur berbeda, akan tetapi substansi bahagia dan syukur tetap terkandung didalamnya, baik ungkapan tersebut berupa puasa, bersedekah makanan, berkumpul untuk berdzikir dan membaca sholawat atas Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, mendengarkan syama’il-nya yang luhur (keagungan yang berkaitan dengan Nabi) yang notabene kesemuanya adalah perkara-perkara yang legal menurut syara’ untuk mengungkapkan rasa syukur.

  • Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam senantiasa memperhatikan korelasi masa dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di dalamnya, seperti perhatian beliau pada peristiwa ‘Asyuro sebagaiman diriwayatkan dalam sebuah hadits shohih, bahwa Rosululloh menganjurkan berpuasa pada hari ‘Asyuro’ dan berkata kepada orang-orang Yahudi, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian”.
  • Peringatan maulid Nabi memang belum pernah terjadi pada masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam maka ia adalah Bid’ah, akan tetapi Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) karena keberadaannya bernaung di dalam dalil-dalil syari’at dan kaedah-kaedah kulliyyah. Oleh karenanya ia dipandang sebagai bid’ah dari sisi rangkaian acara yang menjadi kemasannya, akan tetapi parsial yang menjadi isi dari acara tersebut adalah perkara-perkara yang sudah ada sejak zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, sehingga ia tidak dapat disebut bid’ah.
  • Maulid Nabi dapat mendorong ummat Islam untuk bersholawat, sedang bersholawat adalah perkara yang diperintahkan, berdasarkan firman Allah :

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا

Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al Ahzaab : 56) Maka perkara yang dapat mendorong untuk mengerjakan perkara yang diperintah agama berarti ia dianjurkan pula menurut agama.

  • Dalam peringatan maulid Nabi, ummat Islam disebutkan tentang kelahiran beliau, mukjizat beliau, siroh beliau, serta pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenal beliau serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti sunnahnya, mengimani mukjiztnya, sedang kitab-kitab maulid adalah karya yang merangkum itu semua.
  • Maulid Nabi adalah perkara yang dipandang baik oleh para ulama dan juga segenap ummat islam diberbagai belahan dunia, keberadaannya telah terjadi dan berlaku sejak ratusan tahun silam. Maka maulid Nabi adalah perkara yang disyari’atkan berdasar kaedah yang disandarkan pada hadits mauquf Ibnu Mas’ud :

فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

Maka apa yang dipandang baik oleh Ummat Islam (Ulama mayoritas) maka ia baik di sisi Allah, dan apa yang dipandang buruk oleh ummat Islam maka ia buruk di sisi Allah. “ (HR, Ahmad dan At Thobroni)

Tidak setiap perkara yang tidak ada pada masa sahabat dan tabi’in berati bid’ah yang sesat, akan tetapi hendaknya perkara tersebut diuji terlebih dahulu dengan dalil-dalil syari’at. Penjelasan tentang hal ini telah kami sampaikan pada Pasal Bid’ah.

Peringatan maulid Nabi dapat menghidupkan sejarah dan napak tilas beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, hal ini bagi kami adalah perkara yang disyari’atkan. Bukankah dalam pelaksanaan ibadah hajji baik rukun, wajib atau sunnah hajji sebagian adalah napak tilas sejarah Nabi Ibrohim ‘alaihis salam dan keluarga beliau dalam mengabdi kepada Allah. Coba anda renungkan perjalanan Sa’i, melempar Jamarot, menyembelih qurban di Mina, dan yang lain.

To Top