Life

Melahirkan Generasi Masa Depan yang Cinta Damai

Portal Berita

Indonesia bak pelangi. Indah dan penuh warna. Namun dengan banyaknya perbedaan tersebut, tinggi pula potensi disintegrasi. Tak jarang ada pihak yang tak senang dengan keberagaman tersebut. Bahkan ad oknum-oknum tak bertanggungjawab bertindak mengatasnamakan kelompoknya masing-masing. Merasa dirinya yang paling mulia, paling tinggi derajatnya, dan paling baik segalanya.

Sebagai salah satu ujung tombak di masa depan, pemuda memiliki pengaruh yang cukup kuat untuk menciptakan perdamaian di dunia, khususnya Indonesia. Sudah memang seharusnya pemuda dinilai sebagai kelompok masyarakat yang kreatif dan selalu punya inovasi. Pun begitu dalam masalah partisipasi perdamaian dunia.

Sebuah non-governmental organization (NGO) asal Amerika Serikat, Search for Common Ground (SFCG), peduli akan hal tersebut. Setelah belasan tahun masuk Indonesia dan membuat ‘produk-produk’ perdamaian yang kreatif, SFCG kembali mengadakan sebuah kegiatan untuk menyebarkan virus-virus perdamaian di Indonesia. Pada awal bulan September ini, tepatnya tanggal 2-4, SFCG menghelat sebuah festival multimedia bertajuk #CiptaDamai di Gedung SME Tower, Jakarta Selatan.

Menurut Hardya Pranadipa, project officer #CiptaDamai, SFCG menggelar festival tersebut sebagai cara untuk para pemuda memahami dan bisa mengambil peran dalam inisiatif cipta damai dengan cara yang kreatif dan pasipatoris pada masyarakat. “Tujuan dari festival #CiptaDamai sendiri adalah bagaimana pemuda ambil peran, bisa memposisikan dirinya sebagai seorang agen yang transformative terhadap isu-isu perdamaian,” ujar Hardya Pranadipa.

Sebelumnya, SFCG telah melanglang buana ke berbagai kota di Indonesia, antara lain: Jakarta, Bandung, Sukabumi, Bogor, Banten, Semarang, Solo, Purwokerto, Palu dan Poso, untuk menyebarkan virus perdamaian kepada pemuda-pemudi terpilih lewat rangkaian pelatihan multimedia, seperti blog, poster dan video dokumenter. Hasil produk pelatihan tersebut lalu dilombakan pada festival #CiptaDamai.

Kontinyuitas #CiptaDamai

Tak mungkin jika suatu kegiatan berbentuk kampanye, tujuannya hanya berhenti pada saat kegiatan seelesai dilaksanakan. Ketika ditanya soal kontinyuitas acara tersebut, Dipa, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa akan mengajak pemuda kembali ke daerahnya masing-masing dan mengaplikasikan apa yang telah mereka dapat di festival Cipta Damai. Begitupula dengan produk-produk pemuda yang telah mereka kreasikan.

“Mengenai produknya, kita ingin melakukan screening di setiap daerah sebagai media cipta damai,” tutur pria yang akrab dipanggil Dipa.

Tak hanya mahasiswa, beberapa peserta #CiptaDamai banyak juga yang berasal dari kalangan pelajar. Khusus bagi kalangan pelajar, mereka didampingi para gurunya. “Itu sangat penting. Penting bagi kita untuk mensinergikan semua elemen, termasuk guru,” tambah Dipa.

Dipa menambahkan alasan mengapa SFCG menyasar kalangan pemuda dalam usaha bina damai. Alasannya, kata Dipa, pemuda sering menjadi korban. Karena merasa menjadi korban, tak jarang memacu mereka menjadi pelaku juga. “Maka dari itu kita melakukan pendekatan kreatif. Sejalan dengan Deklarasi Amman. Meminta pemerintah untuk membuka keran sebesar-besarnya bagi pemuda dalam usaha perdamaian,” tegasnya.

Menurut Dipa, pemuda mudah sekali termakan isu-isu ekstrimisme. Pemuda mudah sekali melihat ketidakadilan. Dan ketika dia dimasukin narasi ketidakadilan, kadang memaksa mereka untuk melakukan kekerasan.

Selain pemuda, SFCG juga punya fokus kepada siapa saja yang punya resiko melakukan konflik kekerasan. “Kita percaya manusia diciptakan berbeda-beda, dan pasti konflik itu ada. Konflik sudah menjadi keniscayaan manusia. Yang tidak kami percaya adalah kekerasan menjadi cara menyelesaikan persoalan,” ungkap pria yang pernah ikut berpartisipasi dalam kegiatan perdamaian di Malaysia, Kamboja dan Yordania.

Ke depannya, Dipa berharap makin banyak pemuda merespon isu-isu perdamaian dengan cara-cara kreatif. Isu perdamaian adalah hal yang menarik. Perdamaian memaksa kita memahami satu hal dari berbagai perspektif.  Penting adalah tidak melihat siapa menang, siapa kalah, atau siapa aku, siapa kamu. Lihatlah dan posisikan diri sebagai kita.

Setiap masalah pasti ada solusinya. Konflik sejatinya tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Begitupula dengan perbedaan. Perbedaan adalah anugerah, membeda-bedakan adalah musibah. Sudah seharusnya konflik ada untuk membangun hubungan ke depannya, bukannya melemahkan hubungan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top